LOS ANGELES – Saat diumumkan, The Lord of the Rings: The Rings of Power sempat membuat banyak orang tercengang. Sebab, bujet produksi serial itu fantastis. Untuk delapan episode di musim pertama, biaya penggarapannya mencapai USD 465 juta (Rp 7,25 triliun). Nominal itu belum termasuk pajak dan biaya tambahan lainnya.
Namun, ’’pertaruhan’’ Prime Video itu berbuah manis. Kepala Global TV Amazon Studios Vernon Sanders menyatakan, mereka lebih dari sekadar balik modal. Sanders mengungkapkan, The Rings of Power adalah salah satu proyek orisinal Prime Video yang paling sukses. Selain memecahkan rekor penonton dan durasi streaming, jumlah pengakses dan pelanggan layanan streaming naik drastis. Mereka pun sukses menyasar target pasar: penonton muda (usia 18–34 tahun) serta kalangan menengah-atas.
’’Kami juga sangat bangga karena serial ini menumbuhkan minat baru pada novel-novel The Lord of the Rings karya J.R.R. Tolkien. Ini adalah kesuksesan terbesar Amazon. Investasi superbesar kami saat ini lebih dari sekadar balik modal,’’ ungkapnya dalam wawancara dengan Deadline. Sanders menjelaskan, tim produksi tengah bekerja keras. Selain syuting musim kedua, mereka juga dalam tahap praproduksi musim ketiga dari total lima musim yang telah direncanakan.
Dia menyebut syuting musim kedua berjalan lancar. Setelah menutup musim pertama dengan plot twist, Sanders menjamin sekuel bakal lebih seru. ’’Levelnya makin tinggi dan cincin-cincin mulai ’bicara’. Keberadaannya berpotensi memecah Middle-Earth,’’ imbuhnya. Penonton pun bakal dimanjakan dengan set baru karena syuting kini dilakukan di Inggris.
Di musim-musim baru, Prime Video menghadirkan cast baru dari beragam latar belakang dan negara. ’’Kami rasa, representasi mewakili show dan penggambaran Tolkien di novel,’’ tegas Sanders. (fam/c18/ayi)
Editor : izak-Indra Zakaria