Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

50 Tahun God Bless: Jatuh, Bangun, dan Bertahan

izak-Indra Zakaria • Minggu, 7 Mei 2023 - 05:32 WIB
Photo
Photo

Selama lima dekade, God Bless memberi pengaruh besar bagi musik Indonesia dari soal panggung, aransemen, lirik, sampai konsistensi.

 

FAHMI SAMASTUTI, Surabaya

 

BAGI Log Zhelebour, God Bless adalah ’’si sulung’’ pembuka jalan. Logiss Record, perusahaan rekaman yang dia dirikan, serta seluruh band dan musisi yang bernaung di bawahnya, tumbuh bersama Ahmad Albar, Ian Antono, Donny Fattah, dan para personel yang sempat keluar masuk.

’’Bisa dibilang, kami ini belajar sambil membuat sejarah,” katanya kepada Jawa Pos di Surabaya kemarin (4/5).

Kami yang dimaksud Log bahkan bisa diterjemahkan lebih luas lagi: Indonesia. Hari ini, tepat di 50 tahun kelahirannya, God Bless telah memberi pengaruh begitu besar bagi skena musik tanah air, khususnya rock. Mulai dari gaya panggung, penulisan lirik, pengaturan aransemen, sampai konsistensi berkarya.

’’Dulu memulai, tidak pernah berpikir sejauh ini. Alhamdulillah, teman-teman tetap berkomitmen untuk tetap bersatu apa pun yang terjadi,” kata Iyek, sapaan akrab Ahmad Albar, dalam pernyataan tertulis yang diterima Jawa Pos kemarin.

Mereka membuka jalan tentang bagaimana membuka konser sebuah band dunia, Deep Purple, pada 1975. Pada ’’Musisi’’ yang termaktub di album ’’Cermin” dan sampai sekarang masih sering jadi lagu wajib festival musik, mereka menunjukkan bagaimana musik berkualitas bakal melintas waktu.

Mereka juga, saat merilis album ’’Semut Hitam’’, memperlihatkan bagaimana beradaptasi dengan usia dan zaman. Dan, menjadi pembuka Deep Purple lagi pada Maret lalu adalah bukti betapa tak pernah sia-sia ’’kukejar prestasi itu, seribu langkah kupacu’’.

Paul Heru Wibowo, pengamat musik, menyebut perubahan yang dilakukan God Bless pada ’’Semut Hitam’’ sebagai bentuk keluwesan mereka merespons era dan pasar. Meninggalkan kerumitan di album sebelumnya, ’’Cermin’’, yang meskipun secara estetis diakui, jeblok di pasaran.

Ada bebunyian, kata Paul, yang sangat Indonesia di album yang dirilis pada 1988 tersebut. Iyek pun, seiring performa vokalnya yang tergerus umur, juga menampakkan cengkok khasnya. Lagu-lagu mereka pun jadi lebih mudah diikuti penggemar yang ingin sekadar ikut bernyanyi di konser.

’’Sekarang, coba dengerin ’Semesta’, ’Rumah Kita’, itu suara Indonesia. Suara yang tidak terlalu tinggi atau rendah. Kalau nyanyi bareng itu, bisa,” kata dosen Universitas Multimedia Nusantara Jakarta tersebut.

Secara khusus, Paul mengapresiasi Log Zhelebour yang dinilainya jadi ”kuncian” God Bless. Di tangan produser asal Surabaya itu, band pelantun Rumah Kita tersebut menjadi standar di musik rock. Baik dalam hal karya maupun penampilan panggung.

Log mengenang, yang ada di benaknya saat itu, God Bless yang lama vakum dan tak merilis album harus jadi pionir dan kudu sukses. Sebuah ambisi yang tak mudah diwujudkan. Sebab, industri hiburan Indonesia karut-marut kala itu.

Kontrak tampil antara artis dan promotor tidak menguntungkan. Kadang si artis rugi, tapi tak jarang pula sang promotor yang harus nombok.

Log pun memberlakukan fixed cost: biaya pengeluaran selama konser dikontrol ketat. Jika ada istri atau anak yang ikut, personel wajib merogoh kocek pribadi. Ticketing pun dikendalikan dengan bantuan komunitas setempat.

Kedisiplinan pun dijaga. Para personel tidak boleh lagi hura-hura setelah tampil. Mereka punya jadwal jelas: dari latihan, workshop musik, rilis album, sampai tur konser untuk promosi.

Saat merilis ’’Semut Hitam’’, Log pun membawa God Bless tur konser ke 35 kota. Berbagai perombakan tadi pun membuahkan hasil. Dari tampil dengan bayaran seikhlasnya, mereka meraup pendapatan pertama –dengan sistem kontrak ala Log– mencapai Rp 1,5 juta di pertengahan 1980-an.

’’Dapatnya pun, waktu itu, cash. Setelah penjualan tiket ngumpul, dibagi sama anak-anak,” imbuhnya.

Di luar itu, Log juga mau tak mau berinvestasi logistik manggung. Segala keperluan, dia punya. Dari rigging, multipleks alas panggung, hingga barikade pengamanan.

Buntutnya, God Bless ikut naik kelas: dari panggung terop (seperti acara hajatan kampung) menjadi panggung dengan struktur space frame megah sepanjang 24 meter. Pengamanan pun tak lagi berbekal drum bekas minyak berisi air.

’’Itulah yang saya rasa paling berkesan dari God Bless. Mereka mau semuanya perfect. Sound (system) harus gede, lighting-nya harus bagus,” imbuh Log.

Dia mengakui, ’’mengurus’’ God Bless tidak mudah. Log merasakan betul ego serta idealisme masing-masing personel. Konflik personal dan gonta-ganti personel menunjukkan band ini kerap melewati masa-masa sulit.

Itu juga yang membuat rilisan album mereka tak banyak untuk ukuran band berusia setengah abad. ’’Sebagai band, album mereka memang sedikit. Tapi, sebenarnya, tiap personelnya produktif,” kata Paul.

Iyek punya beberapa album solo. Ian aktif jadi penulis lagu dan penata musik bagi sejumlah penyanyi, terutama sejumlah lady rocker era 1980-an. Donny pun ada di belakang itu dan ikut pula menjadi bagian Gong 2000, side project yang sering disebut God Bless kecil lantaran separo personelnya ada di sana.

’’Kreativitas mereka otentik. Saya yakin, mereka tentu juga mikir duit. Tapi, sesibuk apa pun di luar, di God Bless, mereka seperti pulang ke keluarga, tempat ngudarasa,” katanya.

Pulang ke tempat di mana, seperti ditulis dalam ’’Musisi’’, ’’Getar jiwa kuungkapkan ke dalam nada oh tercipta lagu// Kutuliskan kata hati ke dalam bait oh tercipta lirik.”

’’Dari bangun sampai tidur, di pikiran kami hanya bermusik. Kami enggak berpikir membuat kegiatan selain main musik,” ungkap Ian.

Dari sana ketangguhan yang bertahan sampai setengah abad berasal. Dan, masih akan terus lama bertahan meski sebagian personel God Bless kini telah berusia kepala tujuh.

’’Tidak mudah untuk bisa sampai titik ini,” kata Ian Gillan, vokalis Deep Purple, tentang keawetan bandnya dan God Bless dalam jumpa pers konser Maret lalu.

Ya, tidak mudah. Dan, juga tidak akan mudah dinapaktilasi siapa saja. (*/c17/ttg)

Editor : izak-Indra Zakaria