Penyakit epilepsi bisa disebabkan oleh berbagai hal. Sebagian besar masyarakat mengenal penyakit ini sebagai kejang yang dialami oleh seseorang secara tiba-tiba. Di Indonesia penyakit ini sering disebut dengan nama ayan.
Dilansir dari Siloam Hospital, Jumat (14/7), seseorang dapat dinyatakan menderita epilepsi apabila pernah mengalami kejang tanpa sebab hingga lebih dari satu kali dengan jangka waktu antar kejang di atas 24 jam.
Penyakit epilepsi disebut sebagai gangguan pada sistem saraf pusat akibat adanya pola aktivitas listrik di otak yang berlebihan. Penyakit ini bisa menyerang semua golongan usia, bahkan tidak sedikit anak-anak yang mengalaminya.
Penyebab Epilepsi
Penderita epilepsi ini sering kali mengalami kejang kambuhan yang muncul tanpa ada pemicu pastinya. Kondisi ini dapat terjadi karena adanya gangguan pada sistem saraf pusat sehingga menyebabkan kejang bahkan kehilangan kesadaran.
Penyebab epilepsi dapat dipengaruhi oleh berbagai hal seperti faktor genetik hingga kondisi kesehatan tertentu. Berikut ini beberapa faktor yang bisa menjadi penyebab epilepsi.
1. Gangguan perkembangan seperti autisme dan neurofibromatosis.
2. Cedera sebelum persalinan yaitu karena sebelum lahir bayi sensitif terhadap kerusakan otak yang disebabkan oleh beberapa faktor seperti kekurangan oksigen, nutrisi buruk, atau infeksi pada ibu.
3. Penyakit menular seperti HIV/AIDS, meningitis, serta ensefalitis virus.
4. Kondisi otak yang menyebabkan kerusakan pada otak seperti stroke dan tumor otak.
5. Cedera pada kepala akibat kecelakaan, terjatuh, hingga cedera traumatik lainnya.
6. Pengaruh genetik apabila memiliki riwayat keluarga dengan epilepsi.
Gejala Epilepsi
Pada sebagian besar kasus, gejala epilepsi adalah kejang yang terjadi secara spontan. Perlu diketahui bahwa kejang memang gejala utamanya tetapi bukan berarti setiap orang yang kejang mengidap epilepsi.
Pada pengidap epilepsi, kejang akan berlangsung lebih dari sekali atau berulang dalam waktu yang sama atau berbeda. Bahkan pada beberapa kasus, epilepsi bisa terjadi ketika seseorang tidur. Hal ini karena adanya perubahan fase tubuh dari sadar ke tidur yang memicu aktivitas otak menjadi abnormal.
Baca Juga: Pegadaian Luncurkan GadePreneur Ajak UMKM Bersatu Tumbuh Bersama
Beberapa gejala lain yang dirasakan oleh bayi, anak-anak, atau orang dewasa pengidap epilepsi adalah sebagai berikut.
- Tatapan kosong atau terlalu lama fokus pada satu titik.
- Otot terasa kaku.
- Merasa kebingungan sementara.
- Gerakan menyentak pada kaki dan tangan yang tidak terkendali.
- Kejang atau tremor pada sebagian atau seluruh tubuh.
- Mengalami kejang yang disertai dengan tubuh menegang dan hilang kesadaran secara spontan sehingga penderitanya tiba-tiba terjatuh.
Pengobatan Epilepsi
Pada intinya, epilepsi adalah kondisi di mana seseorang mengalami kejang secara tiba-tiba tanpa penyebab yang pasti. Epilepsi ini termasuk penyakit yang tidak dapat disembuhkan secara total sehingga sewaktu-waktu bisa kambuh.
Dalam penanganan epilepsi, dokter akan memberikan obat-obatan yang berguna untuk mengurangi frekuensi kejang. Apabila langkah tersebut tidak efektif maka dokter akan menyarankan tindakan operasi.
Melalui prosedur operasi tersebut, dokter akan mengangkat area otak yang dapat menyebabkan epilepsi. Namun, perlu dipastikan bahwa area otak itu tidak akan mengganggu fungsi vital seperti komunikasi, penglihatan, atau pendengaran. (*)