Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Mengenal Christopher Madiam, Sosok di Balik Terobosan Teknologi Disruptif Sociolla

izak-Indra Zakaria • 2023-10-31 13:23:50
Christopher Madiam, Co-Founder, CEO & President Social Bella. (Dok. Sociolla)
Christopher Madiam, Co-Founder, CEO & President Social Bella. (Dok. Sociolla)

Terdapat lebih dari 60 toko Sociolla di 35 kota di Indonesia dan 4 kota di Vietnam yang melayani jutaan pegiat kecantikan, atau yang lebih dikenal dengan beauty enthusiast. Memanfaatkan inovasi dan terobosan teknologi, Sociolla mampu menghadirkan konsep Shop The Way You Like, memudahkan beauty enthusiast untuk menikmati pengalaman berbelanja kosmetik dan perawatan diri yang asli, terkurasi, dan terjamin keamanannya.

Gambaran kemajuan, keunikan, dan terobosan inovasi Sociolla menjadi bukti peran Social Bella (induk usaha Sociolla) di bawah kepemimpinan Christopher Madiam dalam mentransformasi industri kecantikan di Indonesia.

Sejak awal, misi Christopher sudah jelas, yaitu untuk membangun dan menyatukan multi ekosistem dari berbagai industri ke dalam satu ekosistem yang terintegrasi, yang ia sebut SHEcosystem.

“Awal kami membangun Social Bella, literasi pecinta kecantikan baik mengenai keamanan produk kecantikan ataupun belanja online masih minim. Pasarnya masih niche (terbatas). Ambisi kami mengawinkan teknologi dengan kecantikan seringkali dianggap sebagai langkah berani. Tapi saya selalu percaya terhadap kekuatan teknologi untuk mengakselerasi industri kecantikan. Saya yakin kebutuhan penggunaitu ada dan bisa besar skalanya, hanya saat itu konsumen belum sadar apa yang mereka butuhkan, dan disitulah peran penting Sociolla untuk membantu beauty enthusiast lewat ekosistem kami,” jelas Christopher Madiam, Co-Founder, CEO & President Social Bella. 

Bagi pria kelahiran Semarang ini, teknologi selalu membuatnya excited. Pada 2015, Sociolla merupakan pionir yang membidik dan mengembangkan potensi beauty tech di Indonesia. Saat itu, teknologi dan kecantikan dianggap dua dunia yang berbeda, apalagi saat itu konsep beauty tech masih awam. Tapi, ia selalu percaya dengan misi besarnya.

“Ketika membangun sesuatu dengan teknologi, langit adalah batasnya. That’s the beauty of technology. Mungkin cukup aneh melihat sosok seperti saya terjun ke dunia kecantikan. Namun terbukti, dengan apa yang kami mulai di 2015, kini kita berada di masa baru, integrasi teknologi dan kecantikan menjadi sesuatu yang mainstream. Pasar sudah siap, dan sejak beberapa tahun ini Sociolla pun makin bergerak cepat menjawab kesiapan pasar tersebut dengan inovasi-inovasi yang belum ada sebelumnya,” tambahnya.

Di bawah komando kepemimpinan Christopher, Sociolla menjadi platform pertama yang menerapkan sistem back end label harga digital yang didukung Internet of Things (IoT). Sistem Sociolla yang terintegrasi dengan sempurna memberi tim pandangan inventaris yang komprehensif dan real-time di semua saluran penjualan. Hal ini memungkinkan mereka untuk mengidentifikasi lokasi terdekat dan memilih mitra logistik yang optimal untuk pesanan online, memberikan panduan kepada toko offline mengenai penyimpanan produk, dan mengotomatiskan tugas-tugas seperti pesanan pembelian, permintaan pembayaran, dan persetujuan.

“Saya dan tim teknologi dan product yang beranggotakan 70 orang harus bekerja sangat cepat dalam untuk mengembangkan sistem ini, yang merupakan faktor penting dalam pertumbuhan Sociolla hingga saat ini. Meskipun saat ini kami menggunakannya secara internal, namun kami terbuka untuk menjajakinya sebagai model bisnis baru,” jelas Christopher.

 

Menoleh ke perjalanan Sociolla selama 9 tahun kebelakang, Christopher sering teringat kenangan di balik proses trial dan error yang dilalui di tim tech, momen-momen mereka menciptakan solusi baru yang terlihat mustahil. Tapi semua itu terbayarkan. Keseluruhan SHEcosystem menjadi bukti evolusi industri kecantikan Indonesia yang didorong oleh kemajuan teknologi.

Sociolla yang diawali dari sebuah ruko kecil kini memiliki jaringan gudang pusat berbasis digital terbesar di Tangerang (Cikupa) dan Surabaya serta 7 cabang B2B (business to business) di seluruh Indonesia. Sociolla juga menjadi rumah bagi lebih dari 2.000 karyawan di tiga negara. Aplikasi andalannya yakni SOCO telah menjadi wadah bagi para beauty enthusiast dan komunitas dalam berbagi ulasan dan insight akan produk-produk kecantikan. SOCO memiliki hampir 3 juta ulasan yang mencakup sekitar 36.000 produk.

Adopsi teknologi dan perubahan gaya hidup modern telah membentuk perubahan masif di industri, terutama cara belanja masyarakat di sektor kecantikan. Membahas langkah Sociolla ke depan di tengah potensi kecantikan dan perawatan diri Indonesia yang kini nilainya mencapai USD 8,78 miliar.

Christopher menekankan salah satu fokusnya untuk memperkuat tim teknologi Sociolla sebagai tulang punggung bagi SHEcosystem. “Saya bangga sekali dengan tim kami. Saya selalu mengingatkan bahwa ketika kita berinovasi, harus selalu kembali pada tujuan awal, yaitu fokus kami menjawab kebutuhan dan tantangan beauty enthusiast. Bagi Sociolla, inovasi itu bukan soal menggunakan teknologi termutakhir, tapi bagaimana teknologi bisa relevan bagi konsumen dan pengguna di ekosistem Sociolla. Inspirasi ini yang ingin saya jaga terus dalam tim tech kami,” tutupnya(*)

Editor : izak-Indra Zakaria