Industri kretek tanah air dan drama-drama yang menyertai perjalanannya dirayakan di premiere Gadis Kretek (1/11). Serial orisinal Netflix sebanyak lima episode itu resmi tayang mulai hari ini. Sebelumnya, dua episode pertama Gadis Kretek juga ditayangkan di Festival Film Internasional Busan 2023 pada 5 Oktober. Di red carpet di Epicentrum XXI kemarin, para cast utama –Dian Sastrowardoyo, Ario Bayu, Putri Marino, dan Arya Saloka– hadir menyapa penonton pertama serial tersebut.
Keempatnya menilai, Gadis Kretek menjadi salah satu produksi paling menyenangkan yang pernah mereka ikuti. ”Di luar syuting, kami udah seperti keluarga banget,” ujar Dian.
Di jeda pengambilan gambar, Dian menceritakan, para cast menyempatkan nongkrong atau latihan bersama. Bahkan sampai dangdutan dengan pengeras suara portabel yang biasa mereka bawa. Selain itu, mereka menyatakan, tahap produksi berlangsung relatif mulus. Sebab, setiap cast mendapat waktu persiapan dan pendalaman peran yang cukup panjang. Hal tersebut dinilai Arya Saloka, pemeran Lebas, sangat membantu.
Berbeda dengan cast lainnya, Arya merasa cukup tegang saat harus mendalami tokoh Lebas, anak bungsu dari keluarga pemilik pabrik kretek besar. Dia menilai, karakter dari produksi sebelumnya telanjur melekat kepadanya. ”Jadi, kalau ditanya challenge, pastinya menghidupkan manusia baru (dengan kondisi) yang udah ’ketempelan’ Aldebaran,” ungkapnya merujuk kepada karakter utama di sinetron Ikatan Cinta yang telah diperankannya selama lebih dari setahun.
Content Lead Netflix Indonesia Rusli Eddy mengungkapkan, dirinya tertarik menggarap serial adaptasi novel karya Ratih Kumala tersebut lantaran kontennya otentik dan sangat Indonesia. ”Gadis Kretek adalah period project dengan latar utama 1960-an, yang sangat langka di Indonesia. Selain romansa klasik, serial ini sarat histori Indonesia meski setting utamanya industri kretek,” jelasnya.
Sementara itu, produser Shanty Harmayn menuturkan, pihaknya berusaha menampilkan potret perkembangan industri kretek di tanah air dengan objektif. Shanty sadar industri kretek punya pro-kontra di tanah air. Namun, bagi dia, penting menjaga detail Gadis Kretek tetap realistis dan otentik meski kisahnya fiktif. ”Kami riset seperti apa perkembangan kretek, bagaimana pembuatannya, dan dari itu kami baru tahu, sejak 1920-an pun, kretek menjadi industri yang besar di Indonesia,” papar produser yang juga pendiri rumah produksi BASE Entertainment tersebut.
Sutradara Kamila Andini berharap Gadis Kretek bisa menjadi pengingat bahwa perempuan juga memiliki posisi dan pengaruh kuat di tanah air. Di serial besutannya bersama sang suami, Ifa Isfansyah, Kamila berusaha menampilkan perempuan dari sudut pandang yang lebih optimistis dan penuh semangat hidup. ”Di Gadis Kretek, Jeng Yah (Darsiyah, diperankan Dian) adalah Kartini-nya dunia kretek,” tegasnya.
Kamila menjelaskan, meski kaum hawa menjadi pihak yang cukup terdampak selama perang, banyak perempuan yang masih mampu tegar dan bangkit dari tragedi. (fam/c14/ayi)
Editor : izak-Indra Zakaria