Kawasan Jabaliya di sebelah utara Kota Gaza, Palestina, terus diserang Israel selama tiga hari berturut-turut.
GAZA–Para dokter yang merawat korban menggambarkan bahwa situasi di sana sangat mengerikan, di mana mereka melakukan operasi tanpa alat dasar dan anestesi. Dokter Hussam Abu Safyia adalah direktur ruang pediatrik di Rumah Sakit Kamal Adwan, tempat banyak korban dari serangan ini dirawat.
Dikutip dari New York Times pada Jumat (3/11), Hussam menjelaskan bahwa sebagian besar pasien yang datang adalah anak-anak. “Banyak dari mereka mengalami luka bakar atau kehilangan anggota tubuh,” ungkapnya dengan sedih. Setelah serangan pertama di Jabaliya pada Selasa (31/10), rumah sakit sudah menerima sekitar 40 orang yang tidak selamat dan 250 orang terluka.
Pada hari berikutnya, angka itu pun ternyata tidak turun dan menyebabkan pasien membeludak. Bahkan, sekolah yang digunakan sebagai tempat mengungsi pun diserang pada Kamis (2/11). Akibatnya 10 orang tewas dan 80 orang lainnya terluka.
"Saya belum pernah melihat luka-luka seburuk ini sepanjang hidup saya," ujar Hussam. "Kami melihat banyak anak yang mengalami luka parah, bahkan beberapa di antaranya kehilangan kepala,” tambahnya. Sekolah yang didirikan badan PBB tersebut sebenarnya dapat menampung kurang lebih 20 ribu orang, namun semuanya hancur dalam waktu kurang dari 24 jam.
Setiap hari para dokter dan perawat ini bekerja di tempat yang mengharuskan untuk melihat anak, pasangan, saudara, atau teman dengan luka serius.Beberapa anak bahkan hingga tidak dapat diidentifikasi, karena cedera mereka yang sangat parah. Tenaga medis ini pun mulai harus menumpuk mayat di atas mayat lainnya. Dokter Hussam berkata, “Kami lebih mengharapkan kematian, daripada harus melihat hal mengerikan itu”.Rumah sakit di kota Beit Lahia, utara Jabaliya, itu mengalami kekurangan pasokan medis.Para dokter kemudian hanya menggunakan obat paracetamol untuk mengurangi rasa sakit saat operasi tanpa anestesi dilakukan.
Pasokan antibiotik yang ada juga sangat terbatas, sehingga mereka harus menggunakan cuka dan klorin untuk membersihkan luka. “Anak-anak yang sedang dioperasi pada tengkoraknya berteriak dengan sangat kencang hingga terdengar dari luar,” ujar Hussam menjelaskan kembali. Tak hanya itu, rumah sakit mengalami kekurangan bahan bakar, sehingga mereka harus menggunakan senter di ponsel saat melakukan operasi di kegelapan.
Operasi telah menjadi hal yang sangat menguras tenaga, terlebih tenaga medis ini harus memikirkan cara agar menggunakan pasokan obat seefisien mungkin. (jpg/far/k8)
Editor : izak-Indra Zakaria