Tingkat pengetahuan yang rendah bersamaan dengan kentalnya kepercayaan lokal menjadi akar dari permasalahan balita stunting. Mata rantai dari permasalahan ini, salah satunya dari praktik pemberian ASI yang kurang tepat.
Senada dengan hal itu, Farida Fitriana SKeb Bd MSc Dosen Kebidanan FK UNAIR memaparkan 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) sebagai jendela awal bagi pertumbuhan anak.
“Bayi lahir di dunia bukan tidak mungkin tanpa proses persalinan, kemudian berlanjut masa bayi. Terhitung 270 hari dalam kandungan dan 730 hari pasca kelahiran. Itulah yang disebut 1000 HPK,” jelas Farida.
Memberikan Pisang pada Bayi, Emang Boleh?
Dosen UNAIR ini mengungkap beberapa orang masih melakukan tindakan yang kurang tepat dalam pola pengasuhan bayi. Pasalnya, ibu-ibu banyak yang memaksa memberikan makanan kepada bayi yang belum enam bulan.
Bagi sebagian orang yang belum tahu, menganggap, dengan memberikan air gula dan pisang lumat pada bayi yang baru lahir, dapat mempercepat pertumbuhan.
Padahal, selama enam bulan pertama, bayi cukup mendapat ASI eksklusif saja tanpa makanan apapun.
“Analoginya, kapasitas lambung bayi itu sebesar biji kacang merah, jadi kecil sekali,” jelas Farida.
Kalau bayi menangis, sambungnya, bukan berarti dia lapar terus memberinya makanan. Ada kemungkinan bayi merasa tidak nyaman, entah dari pampers, atau sekadar butuh pelukan.
“Wajar saja 9 bulan di dalam rahim anget kemudian keluar, itu butuh penyesuaian,” imbuh Farida yang dikutip dari laman UNAIRNEWS.
Berkaitan dengan hal tersebut, Farida kembali menekankan pentingnya ASI eksklusif, yakni Air Susu Ibu asli tanpa campuran dari susu formula buatan.
Ia membeberkan fakta bahwa 60% anak usia 0-6 bulan tidak mendapatkan ASI Eksklusif. Padahal ada banyak keunggulan ASI eksklusif, antara lain: mengandung gizi lengkap termasuk karbohidrat, protein, multivitamin, dan mineral.
Di samping itu, zat gizi ASI dapat diserap secara sempurna dan tidak mengganggu fungsi ginjal bayi yang masih lemah.
“Lagi pula, dengan meng-ASI-hi atau menyusui itu. Dapat membantu koneksi atau ikatan emosional antara ibu dan anak,” ujar Farida.
Bagaimana, Jika ASI Tidak Keluar?
Selanjutnya, ia berpesan bagi ibu-ibu menyusui yang ASI nya keluar sedikit atau bahkan tidak keluar.
“Ibu menyusui tidak perlu kaget kalau ASI-nya belum keluar, tunggu saja sampai tiga hari. Dalam hal ini, bayi yang menerima ASI sedikit selama tiga hari itu masih bisa kuat. Sebab mereka punya cadangan lemak coklat, bawaan sejak lahir,” tuturnya.
Farida menambahkan pentingnya peran suami dan sesama perempuan untuk terus mendukung ibu menyusui. Karena menurutnya, lewat dukungan tersebut bisa meningkatkan hormon oksitosin.
“Jangan terus digembosi karena ASI-nya tidak kunjung keluar. Nanti, yang ada malah meningkatkan hormon kortisol atau hormon stress. Jadi semangatilah sang ibu agar meningkatkan hormon oksitosin atau hormon cinta,’’ terang dosen kebidanan UNAIR.
Adapun istilah kolostrum, ia menjelaskan warna kolostrum itu kuning keemasan yang keluar 3-5 hari setelah persalinan.
Banyak masyarakat Indonesia yang menganggapnya itu kotoran ASI sehingga tidak diberikan ke bayi. Sementara negara barat sangat menghargai kolostrum atau cairan dari payudara yang tinggi protein tersebut.(*)
Editor : izak-Indra Zakaria