Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Ibu Negara Dipentaskan di Ladaya Tenggarong, Meta-Teater yang “Menelanjangi” Kondisi Sosial dan Kekuasaan Negeri

Elmo Satria Nugraha • Selasa, 2 Juni 2026 | 16:11 WIB
Teater “Ibu Negara” ciptaan Ab Asmarandana dengan Yayasan Lanjong Indonesia yang tampil terbatas di Ladaya Tenggarong (Elmo/Prokal.co)
Teater “Ibu Negara” ciptaan Ab Asmarandana dengan Yayasan Lanjong Indonesia yang tampil terbatas di Ladaya Tenggarong (Elmo/Prokal.co)

BANGSA kita bangsa besar. Kalimat ini menggema di penjuru Nusantara, keluar dari mulut seorang pemimpin bangsa—memerankan sosok patriotik dan penyelamat. Berkali-kali ia mengucapkan itu, seolah semua baik-baik saja. Padahal nyatanya, kita semakin melemah—sama seperti mata uang negara.

PROKAL.CO, TENGGARONG – Cobaan yang dihadapi seorang Warga Negara Indonesia (WNI) kian semakin berat. Harga kebutuhan pokok yang terus bergerak naik, pendapatan yang tak selalu bertambah, hingga kesempatan ekonomi yang terasa semakin sempit melahirkan kegelisahan di berbagai lapisan masyarakat.

Teater “Ibu Negara” ciptaan Ab Asmarandana dengan Yayasan Lanjong Indonesia yang tampil terbatas di Ladaya Tenggarong (Elmo/Prokal.co)
Teater “Ibu Negara” ciptaan Ab Asmarandana dengan Yayasan Lanjong Indonesia yang tampil terbatas di Ladaya Tenggarong (Elmo/Prokal.co)
 

Dari ojek online yang kesulitan mencari orderan. Pedagang kopi yang terpaksa menaikkan harga dagangan karena harga bahan tinggi sehingga membuat pembeli berkurang. Di tengah situasi tersebut, pemerintah kerap menyampaikan capaian dan indikator pertumbuhan ekonomi yang menunjukkan kondisi positif. 

Namun bagi sebagian warga, angka-angka itu belum sepenuhnya tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Di ruang inilah lahir pertanyaan, diskusi, sekaligus kritik terhadap realitas yang sedang berlangsung. Kegelisahan itu kemudian menemukan jalannya melalui seni.

Sebagai medium yang kerap digunakan untuk merekam dan menyuarakan realitas sosial, teater menjadi ruang bagi kritik untuk hadir dalam bentuk yang lebih reflektif. Dari keresahan tersebut, komunitas seni teater lokal di Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), menghadirkan sebuah pertunjukan yang mencoba membaca ulang relasi antara kekuasaan, citra, dan kenyataan.

Bertajuk “Ibu Negara”, lakon produksi Yayasan Lanjong Indonesia itu dipentaskan secara terbatas di Taman Ladang Budaya (Ladaya) Tenggarong, Senin (1/6/2026) malam. Naskah karya Ab Asmarandana tersebut dibangun dalam format meta-teater, sebuah pendekatan yang membuat pertunjukan sadar akan dirinya sendiri sebagai sebuah panggung. 

Di dalamnya, hadir sosok pemimpin yang mengetahui bahwa dirinya sedang memainkan peran. Seorang figur yang hidup di antara tepuk tangan, dipelihara oleh ketakutan, dan tumbuh di tengah manusia-manusia yang terlalu lama mempercayai citra.

Di bawah cahaya bulan yang menggantung di langit Tenggarong dan udara malam yang sejuk, panggung sederhana berdiri di hadapan penonton. Tiga bingkai besar dan sebuah kursi goyang tua menjadi elemen utama tata artistik, menghadirkan kesan simbolik yang kuat tanpa banyak properti.

Sorot lampu panggung menyapu ruang pertunjukan yang temaram. Para penonton yang memenuhi Amphiteater Ladaya duduk dalam keheningan, mengikuti setiap dialog yang dilontarkan para pelakon. Seorang “Raja” dan tiga peliharaannya yang diperankan para aktor sesekali mengundang tawa pecah ketika satire dan sindiran mereka disampaikan melalui celotehan yang ringan, namun tak kehilangan ketajamannya.

Penuh kesadaran akan realita yang ada, meta-teater Ab Asmarandana ini berhasil membuat seluruh penonton dari berbagai kalangan terduduk hingga akhir. Pria yang akrab disapa Kang Abuy ini menyebut teater ini tercipta dari fenomena yang sedang terjadi. Dari segala hal yang telah dirasakan dan dialaminya, teater ini adalah sikap Abuy terhadap semua fenomena ini.

“Dari kegelisahan-kegelisahan ini saya membuat kerangka. Dan ternyata, teman-teman di sini juga memiliki kegelisahan yang sama dengan apa yang saya rasakan,” cerita Abuy usai teater.

Selain menciptakan naskah, Abuy juga bertindak sebagai sutradara. Dalam lakon Ibu Negara ini, Abuy menggandeng aktor dan aktris terbaik Kota Raja, yakni Nala Arung, Surawan, Yamfay, Mimi, Bayu dan Are. Dan semua yang terlibat ini, ujar Abuy, sama-sama bersiap dengan betapa “telanjang” lakon ini.

“Karena ketika melihat berita yang ada, justru yang muncul adalah angka-angka kenaikan. Sedangkan di masyarakat sebaliknya. Nah, ini bagaimana? Kita percaya data atau percaya rakyat?” tutur Abuy.

Gagasan ini kemudian Abuy sulap menjadi kerangka tulisan, tentang bagaimana retorika seorang pemimpin sangat berpengaruh terhadap kehidupan rakyatnya. Bahwa mikrofon, sebuah barang elektronik sederhana justru bisa menjadi sesuatu yang berbahaya bagi penguasa.

Konsep meta-teater yang Abuy angkat juga adalah proses “Trial and Error” yang dicobanya. Abuy yang juga mengajar Seni Drama dan Tari di perguruan tinggi Jawa Barat mengatakan teater ini adalah metode baru yang bukan sebuah genre, tetapi semacam strategi dramaturgis. Meski harus mengubah naskah berkali-kali agar sesuai dengan realita yang sedang terjadi saat ini.

“Saya berpikir bagaimana cara merangkul penonton dengan teks yang telanjang, teks yang sudah biasa mereka baca. Jadi saya harus memberikan sentuhan di sana, sehingga dinding keempat tersebut dibobol dan karya ini komunikatif dengan penonton,” jelasnya.

Karya komunikatif ini membuktikan bahwa metode meta-teater menjadi medium baru bagi khayalak umum menyaksikan teater. Dimana mereka tidak lagi mengernyitkan dahi, karena naskahnya yang sangat telanjang dan akrab dengan realita saat ini. Seperti mamanda jaman dahulu, teater ini adalah mamanda modern.

“Jadi saya menggunakan pendekatan itu, sementara rohnya tetap roh tradisi. Karena saya percaya kita punya akar budaya yang hebat,” tutup Abuy.

Peran seorang Raja di lakon ini menjadi sorotan utama penonton. Sebagai tokoh utama di Ibu Negara, Raja diperankan sebagai sosok pemimpin bangsa dengan jiwa patriot tinggi, bersuara berat dengan intonasi tinggi. Sang Raja selalu mengatasnamakan kepentingan bangsa, sedangkan di satu sisi—ia hanya hidup dari bayang-bayang pencitraan peliharaan bermuka duanya.

Sang Raja ini diadaptasi langsung dari pemimpin tertinggi negeri ini, dan Dedi Nala Arung—pelaku seni senior Kukar memerankannya. Pria yang karib disapa Nala ini mengaku persiapannya memerankan Sang Raja dikebut waktu, bahkan hingga hari tampil. Untuk mendalami perannya, ia hanya mengulang dan memerhatikan tiap pidato pemimpin tersebut.


“Raja ini memang didekatkan dengan tokoh presiden. Dari cara berjalannya, mengulang-ulang pidatonya, bagaimana dia bersalaman, bagaimana dia menghormati orang, semua saya amati selama lima hari dari cuplikan. Sampai anak-anak saya di rumah ikut menyemangati ikut mengawal dialog agar saya tidak lupa,” ujar Nala.

Meski waktu persiapannya sangat singkat, Nala mesti memahami peran Sang Raja dengan baik. Sulit namun bisa, Nala mesti berimprovisasi—lantaran tidak ada bayangan tokoh lain untuk Sang Raja selain pemimpin itu. Ia berkali-kali harus berganti peran dari Sang Raja ke diri sendiri karena meta-teater Ibu Negara ini.

“Tapi Alhamdulillah, Pak Sutradara sangat tepat dalam mengarahkan. Kadang-kadang kami dapat masukan lewat WhatsApp malam-malam bahkan subuh,” lanjutnya.

Prinsip Nala dalam akting, tidak penting sebagus apa pemeranan tersebut—melainkan kritik yang hendak disampaikan. Karena intisari dari lakon ini adalah menyampaikan kritik, diikuti dengan proses pencernaan dan perbaikannya. Dan terbukti dengan antusiasme penonton dari siswa sekolah hingga pegiat seni senior, semua dapat menikmati lakon Ibu Negara ini sesuai dengan premis utamanya.

“Saya senang melihat apresiasi yang cukup besar malam ini, bahkan anak-anak sekolah bisa menyaksikan pentas hari ini. Mari kita ambil ini sebagai pembelajaran, dan saya terima kasih atas kehadirannya dari awal hingga akhir,” pungkasnya.

Ketika lampu panggung mulai meredup dan para pelakon memberikan penghormatan terakhir, tepuk tangan bergemuruh memenuhi amphiteater. Namun yang tersisa setelahnya bukan hanya apresiasi terhadap sebuah karya seni, ada refleksi yang dibawa pulang masing-masing penonton.

Sebab pada akhirnya, Ibu Negara bukan sekedar cerita tentang seorang raja maupun kekacaubalauan yang terbingkai dalam drama. Tetapi tentang bagaimana menjaga akal sehat di tengah riuhnya negeri. Di saat para penguasa terus meyakinkan bahwa segala sesuatu berjalan baik, sebagian rakyat masih berjuang menghadapi kenyataan yang tidak selalu sejalan dengan narasi tersebut.

Bingkai yang dihadirkan “Ibu Negara” menjadi refleksi bahwa bangsa sedang dituntun untuk menyaksikan suatu drama sebagai pemeran pendukungnya. Sebuah bangsa tidak hanya diukur dari seberapa megah pidato yang dikumandangkan para pemimpinnya, tetapi juga dari seberapa jujur ia mau mendengar suara rakyat yang hidup di bawahnya. 

Kritik terbesar malam itu tidak disampaikan melalui teriakan. Ia hadir melalui tawa, sindiran, dan keheningan panjang yang menyelimuti penonton saat lampu sorot pertunjukan meredup. Hanya tersisa cermin, sebagai refleksi akan realitas sosial yang diperkaya dengan seni. (moe)

Editor : Indra Zakaria
#kutai kartanegara