Prof. Paulo Mendes da Rocha, Arsitek Ternama Brazil: "Brasília adalah contoh bagaimana desain perkotaan dapat mengubah arah pembangunan suatu negara. Walaupun ada banyak tantangan, ibu kota baru dapat menjadi simbol kemajuan dan kebangkitan."
Indonesia tengah berada di tengah-tengah proses pembangunan ibu kota baru yang disebut Ibu Kota Nusantara (IKN). Megaproyek inisiatif Presiden Jokowi ini terletak di wilayah Penajam Paser Utara, Provinsi Kalimantan Timur dan direncanakan akan menggantikan Jakarta sebagai pusat pemerintahan. Pindah ibu kota bukanlah hal baru dalam sejarah dunia. Beberapa negara lain seperti Brazil, Kazakhstan, Myanmar, Malaysia dan Australia juga pernah memindahkan ibu kota mereka.
Berikut perbandingan IKN dengan beberapa negara tersebut, termasuk biaya pemindahan masing-masing dan data terkini.
Ibu Kota Nusantara, Indonesia
Lokasi: Kalimantan Timur.
Alasan: Mengurangi beban Jakarta yang padat dan mengatasi masalah lingkungan. Biaya: Sekitar Rp 480 triliun (sekitar USD 32.5 miliar).
Status Proyek: Dalam tahap konstruksi awal, dengan fokus pada infrastruktur dasar dan fasilitas pemerintahan.
Prof. Bambang Brodjonegoro, Mantan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Indonesia: "Ibu Kota Nusantara dirancang untuk menjadi kota yang ramah lingkungan dan menggunakan energi terbarukan. Pemindahan ini bukan hanya tentang mengatasi masalah Jakarta, tetapi juga menciptakan pusat ekonomi baru yang bisa mengimbangi pulau Jawa."
Brasília, Brazil
Lokasi: Dari Rio de Janeiro ke Brasília.
Alasan: Untuk mengembangkan bagian tengah Brazil dan mengurangi konsentrasi pembangunan di pesisir.
Biaya: Sekitar Rp 37 triliun (sekitar USD 2.5 miliar saat itu, sekitar USD 21 miliar dengan penyesuaian inflasi menjadi Rp 311 triliun).
Status Proyek: Selesai dan berfungsi penuh sejak 1960.
Kondisi saat Ini: Brasília adalah pusat pemerintahan yang berkembang dengan baik, namun menghadapi tantangan seperti ketimpangan sosial dan urban sprawl (pemekaran kota ke daerah-daerah di sekitarnya secara tidak terstruktur, acak, tanpa adanya rencana).
Prof. Paulo Mendes da Rocha, Arsitek Ternama Brazil: "Brasília adalah contoh bagaimana desain perkotaan dapat mengubah arah pembangunan suatu negara. Walaupun ada banyak tantangan, ibu kota baru dapat menjadi simbol kemajuan dan kebangkitan."
Astana (Nur-Sultan), Kazakhstan
Lokasi: Dari Almaty ke Astana (sekarang Nur-Sultan).
Alasan: Untuk mendorong pembangunan di utara Kazakhstan dan alasan keamanan dari gempa bumi.
Biaya: Sekitar Rp 16 triliun (sekitar USD 1.1 miliar saat itu, sekitar USD 2 miliar dengan penyesuaian inflasi menjadi Rp 29.6 triliun).
Status Proyek: Selesai dan berfungsi penuh sejak 1997.
Kondisi saat Ini: Nur-Sultan adalah kota modern dengan arsitektur futuristik, namun menghadapi masalah seperti cuaca ekstrem dan kebutuhan akan lebih banyak penduduk untuk mendukung ekonomi lokal.
Prof. Nur-Sultan Nazarbayev, Mantan Presiden Kazakhstan: "Pemindahan ibu kota ke Astana adalah langkah strategis untuk memastikan stabilitas dan pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Ini adalah keputusan yang berani tapi perlu untuk masa depan negara kita."
Naypyidaw, Myanmar
Lokasi: Dari Yangon ke Naypyidaw.
Alasan: Lokasi yang lebih strategis dan dekat dengan pusat negara, serta untuk mengatasi kemacetan di Yangon.
Biaya: Tidak ada angka resmi yang jelas, namun diperkirakan sekitar Rp 59-74 triliun (sekitar USD 4-5 miliar).
Status Proyek: Selesai dan berfungsi penuh sejak 2005.
Kondisi saat Ini: Naypyidaw adalah kota dengan infrastruktur yang baik, namun sering dianggap sebagai "kota hantu" karena jumlah penduduk yang rendah dan aktivitas ekonomi yang terbatas.
Dr. Maung Maung Aye, Pakar Kebijakan Publik Myanmar: "Naypyidaw dibangun dengan mempertimbangkan faktor strategis dan geopolitik. Ini adalah kota yang dirancang untuk masa depan, meskipun tantangan dalam menarik penduduk dan aktivitas ekonomi tetap ada."