Advertorial Balikpapan Bisnis Bola Daerah Bola Dunia Hiburan Hoax IKN Internasional Kesehatan Kriminal Lifestyle Nasional Pemerintahan Politik Pro Kalimantan Prokal Balikpapan Prokal Berau Prokal Kaltara Prokal Kaltim Prokal News Ramadan Samarinda Sport Teknologi

Pindah Ibu Kota, Biaya IKN Tertinggi Dibanding Negara-Negara Lain

Agus Dwi Wahyudi • 2024-06-16 10:13:13

 Indonesia tengah berada di tengah-tengah proses pembangunan ibu kota baru yang disebut Ibu Kota Nusantara (IKN). Megaproyek inisiatif Presiden Jokowi ini terletak di wilayah Penajam Paser Utara, Provinsi Kalimantan Timur dan direncanakan akan menggantikan Jakarta sebagai pusat pemerintahan. Pindah ibu kota bukanlah hal baru dalam sejarah dunia. Beberapa negara lain seperti Brazil, Kazakhstan, Myanmar, Malaysia dan Australia juga pernah memindahkan ibu kota mereka.

Berikut perbandingan IKN dengan beberapa negara tersebut, termasuk biaya pemindahan masing-masing dan data terkini.

Ibu Kota Nusantara, Indonesia

Lokasi: Kalimantan Timur.
Alasan: Mengurangi beban Jakarta yang padat dan mengatasi masalah lingkungan. Biaya: Sekitar Rp 480 triliun (sekitar USD 32.5 miliar).
Status Proyek: Dalam tahap konstruksi awal, dengan fokus pada infrastruktur dasar dan fasilitas pemerintahan.

 

Prof. Bambang Brodjonegoro, Mantan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Indonesia: "Ibu Kota Nusantara dirancang untuk menjadi kota yang ramah lingkungan dan menggunakan energi terbarukan. Pemindahan ini bukan hanya tentang mengatasi masalah Jakarta, tetapi juga menciptakan pusat ekonomi baru yang bisa mengimbangi pulau Jawa."

 

Photo
Photo
Brasilia, Brazil

 

Brasília, Brazil

Lokasi: Dari Rio de Janeiro ke Brasília.
Alasan: Untuk mengembangkan bagian tengah Brazil dan mengurangi konsentrasi pembangunan di pesisir.
Biaya: Sekitar Rp 37 triliun (sekitar USD 2.5 miliar saat itu, sekitar USD 21 miliar dengan penyesuaian inflasi menjadi Rp 311 triliun).
Status Proyek: Selesai dan berfungsi penuh sejak 1960.

Kondisi saat Ini: Brasília adalah pusat pemerintahan yang berkembang dengan baik, namun menghadapi tantangan seperti ketimpangan sosial dan urban sprawl  (pemekaran kota ke daerah-daerah di sekitarnya secara tidak terstruktur, acak, tanpa adanya rencana).

Prof. Paulo Mendes da Rocha, Arsitek Ternama Brazil: "Brasília adalah contoh bagaimana desain perkotaan dapat mengubah arah pembangunan suatu negara. Walaupun ada banyak tantangan, ibu kota baru dapat menjadi simbol kemajuan dan kebangkitan."

 

Photo
Photo
Astana (Nur-Sultan), Kazakhstan

 

Astana (Nur-Sultan), Kazakhstan

Lokasi: Dari Almaty ke Astana (sekarang Nur-Sultan).
Alasan: Untuk mendorong pembangunan di utara Kazakhstan dan alasan keamanan dari gempa bumi.
Biaya: Sekitar Rp 16 triliun (sekitar USD 1.1 miliar saat itu, sekitar USD 2 miliar dengan penyesuaian inflasi menjadi Rp 29.6 triliun).
Status Proyek: Selesai dan berfungsi penuh sejak 1997.

Kondisi saat Ini: Nur-Sultan adalah kota modern dengan arsitektur futuristik, namun menghadapi masalah seperti cuaca ekstrem dan kebutuhan akan lebih banyak penduduk untuk mendukung ekonomi lokal.

Prof. Nur-Sultan Nazarbayev, Mantan Presiden Kazakhstan: "Pemindahan ibu kota ke Astana adalah langkah strategis untuk memastikan stabilitas dan pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Ini adalah keputusan yang berani tapi perlu untuk masa depan negara kita."

 

Photo
Photo
Naypyidaw, Myanmar

 

 

Naypyidaw, Myanmar

Lokasi: Dari Yangon ke Naypyidaw.
Alasan: Lokasi yang lebih strategis dan dekat dengan pusat negara, serta untuk mengatasi kemacetan di Yangon.
Biaya: Tidak ada angka resmi yang jelas, namun diperkirakan sekitar Rp 59-74 triliun (sekitar USD 4-5 miliar).
Status Proyek: Selesai dan berfungsi penuh sejak 2005.

Kondisi saat Ini: Naypyidaw adalah kota dengan infrastruktur yang baik, namun sering dianggap sebagai "kota hantu" karena jumlah penduduk yang rendah dan aktivitas ekonomi yang terbatas.

Dr. Maung Maung Aye, Pakar Kebijakan Publik Myanmar: "Naypyidaw dibangun dengan mempertimbangkan faktor strategis dan geopolitik. Ini adalah kota yang dirancang untuk masa depan, meskipun tantangan dalam menarik penduduk dan aktivitas ekonomi tetap ada."

 

Photo
Photo
Putrajaya, Malaysia

 

Putrajaya, Malaysia

Lokasi: Dari Kuala Lumpur ke Putrajaya.
Alasan: Untuk mengurangi kepadatan dan kemacetan di Kuala Lumpur serta untuk mendistribusikan pembangunan ke wilayah lain.
Biaya: Sekitar MYR 20 miliar (sekitar USD 4.7 miliar, sekitar Rp 69.56 triliun). 

Status Proyek: Selesai dan berfungsi penuh sejak 1999.

Kondisi saat Ini: Putrajaya adalah pusat administrasi pemerintahan dengan arsitektur yang modern dan lingkungan yang hijau, namun masih bergantung pada Kuala Lumpur untuk kegiatan ekonomi dan sosial.

Dr. Azman Aziz, Pakar Kebijakan Perkotaan Malaysia: "Putrajaya adalah contoh bagaimana perencanaan yang baik dan investasi besar dapat menciptakan ibu kota baru yang modern dan berfungsi optimal. Pemindahan ini membantu mengurangi beban Kuala Lumpur dan mendistribusikan pembangunan ke wilayah lain."

 

 

Photo
Photo
Canberra, Australia
 

Canberra, Australia

Lokasi: Dibangun sebagai ibu kota baru antara Sydney dan Melbourne.
Alasan: Untuk menyelesaikan persaingan antara Sydney dan Melbourne mengenai status ibu kota.
Biaya: Tidak ada angka resmi yang jelas pada saat itu, namun biaya pembangunan diperkirakan mencapai beberapa juta pound sterling (sekitar puluhan juta USD dengan penyesuaian inflasi, sekitar Rp 14.8 triliun).
Status Proyek: Selesai dan berfungsi penuh sejak 1913.

 

Kondisi saat Ini: Canberra adalah pusat pemerintahan dan politik Australia dengan infrastruktur yang maju, meskipun sering dianggap kurang menarik secara budaya dan komersial dibandingkan Sydney atau Melbourne.

Prof. Peter Taylor, Sejarawan Australia: "Canberra dipilih sebagai kompromi untuk menyelesaikan persaingan antara Sydney dan Melbourne. Kota ini dirancang dengan hati-hati untuk menjadi pusat pemerintahan yang efisien dan refleksi dari identitas nasional Australia."

Pindah ibu kota adalah proyek besar yang memerlukan perencanaan matang, sumber daya yang besar, dan dukungan politik yang kuat. Indonesia dengan IKN memiliki potensi besar untuk menjadi simbol kemajuan dan keseimbangan pembangunan ekonomi. Belajar dari pengalaman negara lain seperti Brazil, Kazakhstan, dan Myanmar, Indonesia diharapkan dapat mengantisipasi tantangan yang mungkin timbul dan menjadikannya lebih baik lagi. (*)

 
 
Editor : Indra Zakaria