Setelah ditetapkan tanggap darurat metro hidrologi, anggaran DSP sebesar Rp 250 juta oleh BNPB akhirnya mulai dialokasikan dengan pembagian air bersih kepada seluruh masyarakat di Kabupaten Nunukan. Sebagian besar masyarakat Nunukan dan Nunukan Selatan pun telah menerimanya. Pihak BPBD Nunukan juga sebut, pembagian air masih berlangsung hingga saat ini. itu dipastikan Kasubdit Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Nunukan, Mulyadi.
Dirinya menerangkan, anggaran DSP tersebut sejatinya untuk mengatasi kekeringan di daerah Nunukan. Pelaksanaannya telah diaplikasikan dengan memfokuskan kegiatan bagi-bagi air, termasuk pembagian logistik ke wilayah tiga dan empat.
“Jadi selain bagi-bagi air, kami membagi waktu juga untuk pembagian logistik untuk wilayah tiga dan empat, logistik berupa beras, sembako termasuk bantuan peralatan alat kesehatan dan sebagainya,” ujar Mulyadi kepada wartawan, Senin (4/3).
Sementara pada didi debit air yang disalurkan ke masyarakat, tergantung mobilitas personel di lapangan, meski begitu pihaknya dibantu dengan pihak lainnya seperti PDAM dimana penyalurannya menyasar wilayah-wilayah yang sangat terdampak kekeringan.
“Sumber air ada yang dari PDAM, kan masih ada embung PDAM di wilayah Binusan dan Nunukan Selatan yang ada airnya, ada juga air di beli dari sumber mata air yang biasa dijual, kita bagi ke satu pulau Nunukan termasuk juga daerah Nunukan Selatan kalau ada yang terlihat terdampak,” ungkap Mulyadi.
Mulyadi menerangkan, Nunukan memang ditetapkan sebagai salah satu daerah tanggap darurat metro hidrologi karena dampak kekeringan oleh el nino yang terjadi. Ditambah keadaan penyusutan yang terjadi di sungai Sembakung memang menjadi salah satu barometer.
Menurutnya, kekeringan yang terjadi tahun ini paling parah dibanding sebelumnya. Biasanya, kabupaten Nunukan yang memang selalu mengalami kekurangan air baku PDAM, hanya merasakan kekeringan dalam jangka waktu sebulan.
Namun kini, kekeringan sudah terjadi tiga bulan, dan musim penghujan tak kunjung tiba, meski pada dasarnya, Nunukan sudah memasuki musim basah. Atas kekeringan yang terjadi ini pula, sejatinya BNPB telah menetapkan tanggap darurat hydrometeorology, salah satunya untuk Nunukan.
Mulyadi pun sangat mengimbau agar masyarakat tidak mengendurkan kewaspadaan. Ia mengatakan, jalur Sungai Sembakung yang menjadi jalur banjir kiriman dari Malaysia, bisa menjadi dua kali lebih berbahaya dibanding situasi biasa.
"Kita melihatnya ini seperti kondisi ketenangan sebelum badai. Ketika hujan deras mengguyur wilayah Malaysia, bisa jadi volume banjir kiriman lebih besar dari yang kemarin kemarin. Untuk itu, mohon masyarakat meningkatkan kewaspadaan," harap Mulyadi. (raw/lim)
Editor : Indra Zakaria