OXFORD – Dalam catatan sejarah sains yang sering kali didominasi oleh nama-nama pria, terselip satu sosok perempuan tangguh yang dedikasinya melampaui batas ketinggian dan waktu. Mabel Purefoy FitzGerald, seorang fisiolog dan patologis klinis asal Inggris yang hidup dalam rentang satu abad antara 1872 hingga 1973, kini kembali dikenang sebagai pionir yang meletakkan batu pertama bagi kedokteran penerbangan dan fisiologi dataran tinggi modern.
Penelitian FitzGerald berfokus pada mekanisme luar biasa tubuh manusia dalam beradaptasi di lingkungan dengan kadar oksigen rendah. Melalui studi lapangan yang menantang di lokasi-lokasi ekstrem, ia berhasil mengungkap bagaimana kadar oksigen memengaruhi komposisi darah serta fungsi paru-paru secara mendalam. Temuannya tidak sekadar memperdalam pemahaman teoretis tentang pernapasan, tetapi juga menjelma menjadi landasan krusial bagi keselamatan para pilot di masa depan serta para pendaki gunung yang harus menghadapi tantangan atmosfer tipis.
Perjalanan karier FitzGerald adalah cermin dari sebuah resiliensi yang nyata di tengah diskriminasi zaman. Pada masa di mana dunia sains jarang memberikan ruang bagi perempuan, ia berani menempuh jalur yang tidak konvensional. Meski awalnya harus bergerak tanpa gelar akademik formal, ia terus mengejar ilmu melalui ketekunan murni dan bekerja berdampingan dengan para peneliti terkemuka untuk membuktikan kapasitas intelektualnya.
Kegigihan tersebut membuahkan hasil pada tahun 1913, saat ia mengukir sejarah sebagai perempuan kedua yang berhasil diterima menjadi anggota American Physiological Society. Kendati demikian, pengakuan dunia terhadap pencapaian akademisnya secara formal baru datang saat ia hampir menyentuh usia seratus tahun, sebuah refleksi tentang betapa lambatnya sistem kala itu dalam menghargai kontribusi besar ilmuwan perempuan.
Kini, meski namanya mungkin tidak setenar rekan sejawat pria di zamannya, jejak intelektual FitzGerald tetap hidup dalam setiap tarikan napas manusia yang bertahan di kondisi ekstrem. Ia meninggal pada usia 101 tahun dengan meninggalkan warisan ilmu pengetahuan yang membuktikan bahwa adaptasi manusia bukan hanya soal kapasitas biologis, melainkan juga soal tekad yang tak tergoyahkan. Hingga hari ini, metode penelitiannya yang sangat teliti terus menjadi referensi utama bagi para ilmuwan yang mempelajari bagaimana tubuh manusia bernapas, beradaptasi, dan bertahan hidup di ambang batas kemampuan fisik yang paling ekstrem.(*)
Editor : Indra Zakaria