BAGHDAD – Di tengah pesatnya revolusi kecerdasan buatan (AI) tahun 2026, sebuah narasi sejarah kembali mencuat, mengingatkan dunia bahwa fondasi dari setiap baris kode yang berjalan di muka bumi saat ini berakar dari sebuah buku matematika tunggal yang ditulis di Baghdad pada abad ke-9. Penulisnya adalah Muhammad ibn Musa al-Khwarizmi, seorang cendekiawan Persia yang karyanya melampaui zaman dan menamai disiplin ilmu yang ia bangun sendiri.
Al-Khwarizmi, yang lahir sekitar tahun 780 M di Khwarazm (sekarang Uzbekistan), menghabiskan masa produktifnya di House of Wisdom (Baitul Hikmah), pusat pembelajaran paling prestisius di era Keemasan Islam. Di sanalah ia merampungkan buku fenomenal bertajuk The Compendious Book on Calculation by Completion and Balancing.
Setiap kali insinyur teknologi di Silicon Valley atau Bangalore menyebut kata "Aljabar", mereka sebenarnya sedang melafalkan penggalan judul buku al-Khwarizmi, yaitu al-jabr. Lebih jauh lagi, istilah "Algoritma"—konsep paling krusial dalam ilmu komputer—merupakan bentuk latinisasi dari nama sang ilmuwan sendiri, Algoritmi. Ia tidak hanya berkontribusi pada matematika; ia memberi nama pada identitas ilmu tersebut.
Sebelum era al-Khwarizmi, masalah matematika diselesaikan secara geometris melalui penggambaran bentuk dan pengukuran luas yang sangat terbatas. Al-Khwarizmi melakukan lompatan besar dengan memperkenalkan manipulasi simbol dan aturan abstrak. Ia mengajarkan dunia cara mengisolasi variabel tak diketahui, memindahkan istilah dalam persamaan, dan menyelesaikan masalah melalui prosedur sistematis.
Pergeseran paradigma ini memungkinkan lahirnya kalkulus, mekanika kuantum, hingga logika pemrograman modern. Tanpa pemisahan matematika dari bentuk fisik, teknologi digital tidak akan pernah ada.
Mengenalkan Angka Nol dan Sistem Desimal
Kontribusi besar lainnya adalah penyempurnaan sistem angka Hindu yang menyertakan konsep angka nol sebagai penahan tempat (placeholder). Saat karyanya diterjemahkan ke bahasa Latin sebagai Algoritmi de numero Indorum, dunia Barat mulai meninggalkan angka Romawi yang kaku dan beralih ke angka Hindu-Arab yang memungkinkan perhitungan kompleks.
Metode al-Khwarizmi dalam menyelesaikan masalah bersifat deterministik dan berurutan: langkah demi langkah yang bisa diikuti oleh siapa pun tanpa bergantung pada intuisi semata. Inilah definisi murni dari algoritma. Jauh sebelum Alan Turing merancang model komputasi pada 1936, al-Khwarizmi telah meletakkan logika dasar pemrograman.
Kini, di tahun 2026, saat para pengembang di Google atau OpenAI menulis kode rumit, mereka sebenarnya sedang bekerja di dalam paradigma yang dibangun oleh seorang pria di Baghdad dua belas abad silam. Meskipun perpustakaan tempatnya bekerja telah lama terbakar dan makamnya tidak bertanda, namanya tetap abadi, bergema setiap kali mesin di seluruh dunia menjalankan perintah algoritma. (*)
Editor : Indra Zakaria