JENEWA— Dunia diminta bersiap menghadapi ancaman cuaca ekstrem berskala masif. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) di bawah naungan PBB mengeluarkan peringatan dini bahwa fase baru dari pola cuaca alami El Niño diprediksi akan dimulai dalam hitungan minggu. Ilmuwan mengkhawatirkan kombinasi antara fenomena alam ini dengan krisis iklim akibat ulah manusia akan mengubah peta cuaca global secara drastis sepanjang sisa tahun 2026.
Sejumlah prediksi dari berbagai lembaga cuaca nasional mengindikasikan bahwa El Niño kali ini berpotensi tumbuh menjadi salah satu yang terkuat dalam sejarah, atau yang sering disebut sebagai fenomena "Super El Niño". Jika suhu permukaan laut di wilayah pemantauan Pasifik menghangat hingga melampaui dua derajat Celsius di atas rata-rata baseline, maka status El Niño sangat kuat resmi tercapai—sebuah kondisi langka yang baru terjadi beberapa kali sejak tahun 1950.
Tanda-tanda kemunculan monster iklim ini terpantau jelas dari satelit dan pelampung laut dalam. Terjadi pergeseran drastis di wilayah Pasifik Tengah; dari yang semula bersuhu dingin pada Desember lalu, menjadi sangat hangat pada April hingga Juni ini. Bahkan, para ilmuwan menemukan adanya gelombang air hangat raksasa yang merayap di kedalaman ratusan meter di bawah permukaan laut Pasifik dengan suhu mencapai enam derajat Celsius di atas rata-rata. Suhu bawah laut yang ekstrem ini merupakan bahan bakar utama yang akan naik ke permukaan dan mengacaukan atmosfer bumi.
Dilansir BBC, Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, memberikan peringatan keras mengenai situasi ini. Ia menyatakan bahwa kondisi El Niño ini seperti menyiramkan bensin ke dalam api di planet yang memang sudah membara akibat pemanasan global. Dampaknya diyakini akan menghantam lebih keras, menjalar lebih jauh, dan melintasi batas-batas negara dengan kecepatan yang merusak.
Secara umum, El Niño yang kuat akan memicu cuaca yang jauh lebih panas dan kering di wilayah Amerika Selatan, Australia, termasuk Asia Tenggara. Kondisi ini secara otomatis meningkatkan risiko kekeringan ekstrem dan kebakaran hutan hebat di wilayah-wilayah tersebut. Sebaliknya, fenomena ini juga dapat melemahkan angin monsun di India serta memicu curah hujan ekstrem yang berujung banjir bandang di wilayah selatan Amerika Serikat.
Dampak dari "Super El Niño" tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga berpotensi mengacaukan perekonomian global. Sejarah mencatat, hantaman El Niño di masa lalu selalu diikuti oleh lonjakan harga pangan dunia akibat gagal panen massal serta disrupsi rantai pasok yang memicu kerugian hingga triliunan dolar AS.
Meskipun intensitas puncak El Niño baru bisa dipastikan saat mendekati bulan Desember nanti karena sifatnya yang sangat sensitif terhadap arah angin, para ilmuwan sepakat bahwa dunia tidak boleh lengang. Pasalnya, ini adalah pertama kalinya umat manusia menghadapi ancaman El Niño kuat di tengah kondisi bumi yang sudah berada pada titik terpanasnya sepanjang sejarah modern. (*)
Editor : Indra Zakaria