Healing Kok Malah Bikin Pusing? Ketika Self Reward Berubah Jadi Jebakan Konsumtif Gen Z

Redaksi Prokal • Dipublikasikan Minggu, 1 November 2026 | 11:07 WIB
Oleh: Dinnuhoni Trahutomo
Oleh: Dinnuhoni Trahutomo

Oleh: Dinnuhoni Trahutomo

Magang Kemenaker Pusjar SKPP LANRI

Tanggal gajian atau uang bulanan masuk rekening, rasanya seperti mendapat kesempatan untuk bernapas lega. Setelah melewati tugas kuliah, pekerjaan yang menumpuk, revisi tanpa akhir, atau hari-hari yang melelahkan, muncul satu pikiran: “Kayaknya aku pantas beli sesuatu untuk diri sendiri.”

Keranjang belanja yang sebelumnya hanya berisi barang incaran akhirnya di-checkout. Makanan favorit dipesan, skincare dibeli, pakaian baru ditambahkan ke lemari. Alasannya sederhana: self-reward. Toh, kita sudah bekerja keras dan berhak bahagia.  Namun, masalah mulai terasa ketika kebiasaan tersebut berulang. Belum selesai membayar cicilan sebelumnya, sudah muncul keinginan membeli barang baru. Gaji atau uang bulanan habis sebelum akhir bulan, sementara tagihan paylater justru terus bertambah.

Pertanyaannya, sejak kapan memberi hadiah kepada diri sendiri justru membuat kondisi keuangan semakin terbebani?  Fenomena ini memperlihatkan sisi lain gaya hidup generasi Z. Self-reward yang awalnya dimaksudkan sebagai bentuk apresiasi diri berpotensi berubah menjadi perilaku konsumtif ketika keinginan membeli tidak lagi mempertimbangkan kemampuan finansial.

Self-reward: Bentuk Self-love atau Alasan untuk Checkout?

Self-reward pada dasarnya bukan sesuatu yang salah. Memberikan penghargaan kepada diri sendiri setelah menyelesaikan pekerjaan, mencapai target, atau melewati masa sulit merupakan salah satu bentuk apresiasi terhadap usaha pribadi.

Bentuknya pun tidak harus mahal. Menonton film, menikmati makanan favorit, beristirahat, melakukan hobi, atau membeli barang yang sudah lama diinginkan dapat menjadi bentuk penghargaan terhadap diri sendiri.  Masalah muncul ketika self-reward mulai kehilangan batas. Setiap kali merasa lelah, sedih, bosan, atau mengalami tekanan, belanja menjadi pilihan utama untuk memperbaiki suasana hati.  Akibatnya, keputusan membeli tidak lagi didasarkan pada kebutuhan atau kemampuan keuangan, melainkan pada dorongan emosional sesaat.

Dalam psikologi konsumen, perilaku seperti ini berkaitan dengan emotional spending, yaitu kecenderungan menggunakan aktivitas belanja sebagai respons terhadap kondisi emosional. Jika berlangsung berulang dan sulit dikendalikan, kebiasaan tersebut dapat berkembang menjadi pola konsumsi yang tidak sehat.

Dengan demikian, persoalannya bukan pada seberapa sering seseorang memberikan hadiah kepada dirinya sendiri, tetapi apakah keputusan tersebut masih berada dalam kendali dan sesuai dengan kondisi keuangan.

Algoritma Ikut Menentukan apa yang Ingin Kita Beli

Pernah membuka TikTok hanya untuk melihat satu video, tetapi akhirnya menghabiskan waktu berjam-jam melihat rekomendasi produk? Awalnya hanya menonton ulasan skincare, kemudian muncul video outfit terbaru, rekomendasi makanan, hingga barang-barang yang katanya wajib dimiliki.

Di sinilah media sosial memainkan peran penting dalam membentuk perilaku konsumsi.

Platform digital menggunakan sistem rekomendasi yang menyajikan konten berdasarkan berbagai sinyal aktivitas pengguna. Semakin sering seseorang melihat, menyukai, atau mencari produk tertentu, semakin besar kemungkinan konten serupa muncul kembali.

Situasi ini dapat memperkuat keinginan membeli. Produk yang awalnya tidak pernah terpikirkan justru terasa semakin menarik setelah berulang kali muncul di linimasa.

Belum lagi pengaruh influencer dan konten gaya hidup yang memperlihatkan pengalaman konsumsi sebagai simbol kebahagiaan. Ungkapan seperti “you deserve it”, “treat yourself”, atau “healing dulu, mikir belakangan” menjadi bagian dari bahasa populer di ruang digital.

Tanpa disadari, seseorang bisa mulai membandingkan kehidupannya dengan apa yang dilihat di media sosial. Ketika orang lain terlihat memiliki barang baru, menikmati kopi mahal, atau berlibur ke tempat menarik, muncul keinginan untuk merasakan pengalaman yang sama.

Fenomena ini berkaitan dengan Fear of Missing Out (FOMO), yaitu rasa takut tertinggal dari pengalaman, tren, atau aktivitas yang sedang dinikmati orang lain.

Akhirnya, belanja tidak lagi semata-mata untuk memenuhi kebutuhan pribadi, tetapi juga untuk mengikuti standar gaya hidup yang terbentuk di lingkungan digital.

Data Menunjukkan Self-reward Dekat dengan Kehidupan Gen Z

Penelitian tim mahasiswa Universitas Gadjah Mada terhadap 384 responden Generasi Z memberikan gambaran menarik mengenai kebiasaan self-reward.  Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa makanan menjadi bentuk self-reward yang paling banyak dipilih, yakni 42 persen responden. Selanjutnya, 33,5 persen memilih pembelian barang, sedangkan 24,5 persen memilih bentuk penghargaan nonmaterial.

Temuan ini memperlihatkan bahwa self-reward tidak selalu identik dengan pembelian barang mahal. Makanan favorit pun dapat menjadi bentuk apresiasi diri yang paling dekat dengan keseharian anak muda.

Namun, temuan tersebut juga perlu dibaca secara kritis. Tidak semua pembelian makanan atau barang merupakan perilaku konsumtif. Yang perlu diperhatikan adalah frekuensi, alasan pembelian, kemampuan membayar, dan dampaknya terhadap kondisi keuangan.

Gambaran lain terlihat dari Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 yang dilaksanakan OJK, LPS, dan BPS.  Indeks literasi keuangan kelompok usia 18–25 tahun tercatat sebesar 73,32 persen, sedangkan indeks inklusi keuangannya mencapai 95,69 persen.

Artinya, akses generasi muda terhadap produk dan layanan keuangan sudah sangat tinggi, tetapi pemahaman keuangannya masih berada di bawah tingkat akses tersebut.

Selisih ini patut menjadi perhatian. Kemudahan membuka rekening, menggunakan dompet digital, bertransaksi melalui aplikasi, hingga mengakses fasilitas kredit tidak otomatis membuat seseorang memahami risiko keuangan yang menyertainya.

Generasi muda tidak hanya perlu tahu bagaimana menggunakan layanan keuangan, tetapi juga harus memahami konsekuensi setiap keputusan finansial.

Paylater: Solusi Praktis atau Utang yang Menyamar sebagai Kemudahan?

Salah satu faktor yang membuat perilaku konsumtif semakin berisiko adalah kemudahan fasilitas Buy Now Pay Later (BNPL) atau paylater.  Fitur ini menawarkan kemudahan membeli barang sekarang dan membayarnya kemudian. Bagi sebagian orang, fasilitas tersebut dapat membantu mengatur arus kas untuk kebutuhan tertentu. Namun, bagi pengguna yang tidak memiliki perencanaan keuangan, paylater dapat menjadi pintu masuk menuju penumpukan utang.

Bayangkan seseorang membeli pakaian karena sedang diskon, memesan makanan menggunakan paylater, kemudian membeli produk perawatan diri dengan fasilitas cicilan lainnya. Setiap transaksi mungkin terlihat kecil, tetapi ketika seluruh tagihan jatuh tempo bersamaan, jumlahnya bisa menjadi beban yang tidak ringan.

Data Otoritas Jasa Keuangan menunjukkan bahwa rasio pembiayaan bermasalah atau Non-Performing Financing (NPF) bruto BNPL pada perusahaan pembiayaan mencapai 3,44 persen pada Mei 2026, meningkat dari 2,99 persen pada April 2026. Pada Juni 2026, angka tersebut turun menjadi 3,09 persen.

Angka ini bukan berarti 3,44 persen seluruh pengguna paylater gagal membayar. Namun, peningkatan tersebut menjadi sinyal bahwa risiko pembiayaan perlu diperhatikan seiring pertumbuhan penggunaan BNPL.

OJK juga menerbitkan Peraturan Anggota Dewan Komisioner (PADK) Nomor 2 Tahun 2026 yang mengatur penyelenggaraan BNPL bagi perusahaan pembiayaan dan perusahaan pembiayaan syariah, termasuk ketentuan mengenai usia dan penghasilan minimum calon debitur serta pengelolaan risiko.

Mengapa hal ini penting bagi Gen Z?  Karena keputusan menggunakan paylater bukan sekadar keputusan membeli barang. Ada kewajiban pembayaran yang akan mengikuti pengguna pada masa mendatang.

Riwayat pembiayaan dan tunggakan juga dapat tercatat dalam Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) OJK. Catatan pembayaran yang buruk berpotensi menjadi pertimbangan ketika seseorang mengajukan pembiayaan lain, termasuk kredit pemilikan rumah. Artinya, keputusan checkout hari ini dapat memiliki konsekuensi finansial yang jauh lebih panjang daripada rasa senang ketika barang datang.

Self-love Bukan Berarti Selalu Membeli Sesuatu

Ada satu pemahaman yang perlu diluruskan: menghargai diri sendiri tidak harus selalu dilakukan dengan mengeluarkan uang.

Kita sering menghubungkan kebahagiaan dengan pengalaman konsumsi. Setelah bekerja keras, membeli barang menjadi hadiah. Ketika stres, belanja menjadi pelarian. Ketika merasa tertinggal, membeli produk terbaru menjadi cara untuk mengejar standar lingkungan sosial.  Padahal, self-love juga dapat diwujudkan melalui keputusan yang tidak melibatkan transaksi.

Beristirahat ketika tubuh membutuhkan pemulihan, meluangkan waktu bersama keluarga, melakukan aktivitas yang disukai, menjaga kesehatan, atau menyelesaikan persoalan keuangan justru dapat menjadi bentuk penghargaan terhadap diri sendiri.

Dalam konteks ini, kemampuan menahan keinginan membeli sesuatu juga merupakan bentuk kedewasaan finansial.

Sebab, tidak semua hal yang kita inginkan harus dimiliki sekarang. Ada kalanya keputusan terbaik justru menunda pembelian agar kebutuhan yang lebih penting tetap terpenuhi.

Biar Tetap Bisa Healing Tanpa Bikin Rekening Kering

Mengendalikan perilaku konsumtif bukan berarti harus berhenti menikmati hidup. Gen Z tetap berhak membeli barang yang disukai, menikmati makanan favorit, dan memberikan penghargaan kepada diri sendiri.  Namun, ada beberapa kebiasaan sederhana yang dapat membantu menjaga keseimbangan antara keinginan dan kemampuan finansial.

Pertama, buat anggaran khusus self-reward. Tentukan jumlah uang yang boleh digunakan untuk kebutuhan hiburan dan keinginan pribadi setelah kebutuhan pokok, tabungan, serta kewajiban pembayaran terpenuhi.

Kedua, gunakan aturan menunda pembelian. Untuk barang yang bukan kebutuhan mendesak, berikan jeda 24 hingga 72 jam sebelum memutuskan membeli. Jika setelah jeda tersebut barang masih dibutuhkan dan anggarannya tersedia, pembelian dapat dipertimbangkan kembali.

Ketiga, jangan menjadikan belanja sebagai satu-satunya cara mengatasi stres. Cari aktivitas alternatif yang tidak selalu membutuhkan pengeluaran, seperti olahraga, membaca, berjalan santai, atau melakukan hobi.  Keempat, batasi penggunaan paylater untuk memenuhi keinginan konsumtif. Jangan menggunakan fasilitas kredit hanya karena tersedia limit. Limit bukan tambahan pendapatan dan tetap merupakan kewajiban yang harus dibayar.

Kelima, biasakan mencatat pengeluaran. Dengan mengetahui ke mana uang digunakan, seseorang dapat mengevaluasi apakah pengeluarannya masih sejalan dengan pendapatan dan prioritas hidup.  Pada akhirnya, self-reward bukan musuh kesehatan finansial. Memberikan hadiah kepada diri sendiri justru dapat menjadi bagian dari kehidupan yang seimbang selama dilakukan dengan perencanaan.

Yang perlu diwaspadai adalah ketika istilah self-love digunakan untuk membenarkan pembelian yang sebenarnya tidak mampu kita biayai.

Generasi Z hidup dalam lingkungan digital yang menawarkan begitu banyak pilihan konsumsi. Diskon datang silih berganti, influencer mempromosikan produk baru, dan fasilitas pembayaran membuat transaksi terasa semakin mudah. Dalam kondisi seperti ini, kemampuan mengendalikan diri menjadi sama pentingnya dengan kemampuan memperoleh penghasilan.

Jangan sampai kita sibuk membeli sesuatu untuk membuat diri sendiri bahagia hari ini, tetapi harus menghadapi kecemasan finansial sepanjang bulan berikutnya.

Sebab, self-love bukan tentang seberapa banyak barang yang berhasil kita beli, seberapa mahal hadiah yang bisa diberikan kepada diri sendiri, atau seberapa sering kita mengikuti tren. Self-love juga berarti berani menjaga masa depan diri sendiri. Jangan sampai hari ini kita checkout demi healing, tetapi akhir bulan justru pusing karena tagihan. (*)

Referensi

Universitas Gadjah Mada. (2026, 8 September). Bukan Barang Mewah, Makanan Favorit Justru Jadi Self-Reward Utama Gen Z. https://ugm.ac.id/id/berita/bukan-barang-mewah-makanan-favorit-justru-jadi-self-reward-utama-gen-z, 8 September 2026

 Otoritas Jasa Keuangan, LPS, dan BPS. (2026, 11 Agustus). Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan Tahun 2026., https://ojk.go.id/id/berita-dan-kegiatan/siaran-pers/Pages/Hasil-SNLIK-Tahun-2026.aspx, 11 Agustus 2026

Otoritas Jasa Keuangan. (2026, 4 Mei). PADK Nomor 2 Tahun 2026 tentang Penyelenggaraan BNPL. https://ojk.go.id/id/regulasi/Pages/PADK-2-Tahun-2026-Penyelenggaraan-BNPL-Bagi-Perusahaan-Pembiayaan-dan-Perusahaan-Pembiayaan-Syariah.aspx , 4 Mei 2026+

Otoritas Jasa Keuangan. (2026, 7 Juli). Siaran Pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan Juni 2026. https://ojk.go.id/id/berita-dan-kegiatan/siaran-pers/Pages/RDKB-Juni-2026.aspx, 7 Juli 2026

Otoritas Jasa Keuangan. (2026, 11 Agustus). Siaran Pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan Juli 2026. https://ojk.go.id/id/berita-dan-kegiatan/siaran-pers/Pages/RDKB-Juli-2026.aspx, 4 Agustus 2026

 

 

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
healing Gen Z