Advertorial Balikpapan Bisnis Bola Daerah Bola Dunia Hiburan Hoax IKN Internasional Kesehatan Kriminal Lifestyle Nasional Pemerintahan Politik Pro Kalimantan Prokal Balikpapan Prokal Berau Prokal Kaltara Prokal Kaltim Prokal News Ramadan Samarinda Sport Teknologi

Zohran Mamdani, Politikus Keturunan Uganda-India yang Mengukir Sejarah sebagai Wali Kota Muslim Pertama New York

Redaksi Prokal • 2025-11-06 13:30:00
Zohran Mamdani
Zohran Mamdani

NEW YORK – Dalam perubahan dramatis pada lanskap politik Amerika Serikat, Zohran Mamdani, politikus berusia 34 tahun, telah mengukir sejarah sebagai Wali Kota muslim pertama di New York City. Kemenangan Mamdani, yang setahun sebelumnya namanya mungkin belum dikenal publik luas, kini menjadi simbol kebangkitan penantang yang berhasil menumbangkan dinasti politik lama.

Kemenangan ini diyakini merupakan hasil dari pesan sederhana namun kuat yang diusungnya: bahwa hidup di New York seharusnya tidak serumit dan semahal saat ini.

Dari Kampala ke Politik New York

Mengutip Guardian, Zohran Mamdani lahir di Kampala, Uganda, dari keluarga keturunan India. Ia dibesarkan oleh orang tua yang dikenal di dunia seni dan akademisi; ayahnya adalah sutradara film ternama, Mahmood Mamdani, sementara ibunya, Prof. Mira Nair, adalah akademisi dan pembuat film berpengaruh.

Pada usia tujuh tahun, Mamdani pindah bersama keluarganya ke New York City. Ia menempuh pendidikan di Bronx High School of Science, di mana ia menunjukkan bakat awal dalam menyatukan orang dengan mendirikan tim kriket pertama sekolah tersebut.

Setelah lulus dari Bowdoin College dengan jurusan Africana Studies, ia mendirikan cabang pertama Students for Justice in Palestine di kampus tersebut. Ia resmi menjadi warga negara AS pada tahun 2018, menandai dimulainya perjalanan politiknya.

Konsistensi Isu dan Strategi Media Sosial

Sebelum berkarier di legislatif, Mamdani aktif sebagai pegiat komunitas dan konselor pencegahan penyitaan rumah, fokus membantu warga berpenghasilan rendah menghadapi krisis ekonomi.

Karier politiknya mulai menanjak pada tahun 2020 ketika ia terpilih sebagai anggota parlemen negara bagian New York mewakili distrik ke-36, menjadikannya pria Asia Selatan dan warga Uganda pertama yang menjabat di lembaga tersebut. Ia dikenal lugas dalam menyentuh isu-isu sensitif, mulai dari krisis perumahan, biaya hidup, hingga keadilan bagi imigran dan Palestina.

Kenaikan popularitas Mamdani juga didukung oleh strategi komunikasinya yang brilian di media sosial, khususnya TikTok dan Instagram. Ia mampu membuat politik terasa dekat dan menyenangkan bagi generasi muda.

Salah satu kontribusi populernya adalah menciptakan istilah viral “halalflation” untuk menyoroti kenaikan biaya hidup. Ia juga membuat konten viral, seperti video saat ia menyelam di ombak dingin Coney Island setelah berjanji membekukan sewa, dan bahkan berlari di New York City Marathon sambil membahas harga sewa rumah.

Wawancaranya yang jujur dengan warga kelas pekerja berkulit berwarna, membahas alasan mereka memilih Donald Trump atau memilih untuk tidak memilih, juga menjadi viral dan memicu diskusi nasional. Kini, Zohran Mamdani menjadi wajah baru yang menjanjikan harapan perubahan di Balai Kota New York. 

Dengan gaya yang jenaka tapi penuh empati, Mamdani berhasil mengubah politik menjadi sesuatu yang bisa diakses, dicintai, dan diperjuangkan oleh generasi muda.

 Selama kampanye, Mamdani menolak dukungan dari korporasi besar dan miliarder. Sebaliknya, ia membangun gerakan akar rumput yang melibatkan ribuan sukarelawan, mayoritas pemilih muda dan minoritas etnis.

Ia berbicara dalam bahasa Urdu, Hindi, dan Spanyol, turun langsung ke masjid, toko, dan stasiun bawah tanah—mendengarkan suara warga yang jarang didengar elit politik.

“Saya berbicara untuk pemilik toko asal Yaman, nenek dari Meksiko, sopir taksi asal Senegal, perawat dari Uzbekistan, dan juru masak dari Trinidad,” ujarnya dalam salah satu pidatonya. "Kota ini milik kalian, dan demokrasi ini milik kalian juga," tambahnya.

Pada 2021, Mamdani bertemu Rama Duwaji, seniman keturunan Suriah-Amerika, lewat aplikasi kencan. Keduanya menikah di balai kota New York awal tahun ini, melengkapi kisah seorang imigran muda yang kini menjadi simbol harapan baru bagi jutaan orang.

Namun demikian, kemenangan Mamdani juga datang di tengah meningkatnya sentimen anti-imigran dan Islamofobia, serta ancaman kebijakan keras dari mantan Presiden Donald Trump yang kerap menyerangnya di media sosial.

Namun, Mamdani tetap konsisten. "Saya Muslim, saya seorang demokrat sosialis, dan saya tidak akan pernah meminta maaf untuk itu,” tegasnya dalam pidato kemenangan. Dengan visinya yang berpihak pada rakyat kecil dan keberaniannya menantang arus politik lama, Zohran Mamdani kini menjadi simbol kebangkitan generasi baru Amerika, muda, beragam, dan tak takut bermimpi besar. (*)

 

Editor : Indra Zakaria