NEW YORK – Di tengah sorotan dunia atas terpilihnya Zohran Mamdani sebagai Wali Kota muslim pertama New York, nama sang istri, Rama Duwaji, ikut mencuri perhatian. Di usianya yang baru 28 tahun, Duwaji dikenal bukan hanya sebagai pendamping politisi, tetapi juga sebagai seniman, ilustrator, dan animator muda yang vokal menyuarakan isu identitas, kemanusiaan, dan Timur Tengah.
Sosok Rama Duwaji kini disebut-sebut sebagai ikon baru bagi perempuan Muslim muda Amerika: cerdas, berani, artistik, dan berprinsip.
Diaspora dan Akar Budaya
Meskipun sering menulis 'from Damascus, Syria' di bio media sosialnya, Rama Duwaji sejatinya lahir di Texas, Amerika Serikat, dari keluarga keturunan Suriah. Hal ini dikonfirmasi oleh juru bicara kampanye Mamdani kepada The New York Times.
Duwaji menempuh pendidikan sarjana di Virginia Commonwealth University di bidang Communication Design, sebelum melanjutkan magister ilustrasi di School of Visual Arts, New York. Kini, ia berkarir sebagai ilustrator dan animator yang berbasis di Brooklyn, New York.
Dalam wawancara dengan Yung Mea pada Juni 2022, Duwaji sempat mengisahkan masa sulitnya selama pandemi COVID-19 yang ia habiskan di Dubai, Uni Emirat Arab, sebelum akhirnya memutuskan kembali ke New York pada tahun 2021.
“Saya tidak akan berbohong, keadaan di New York terasa suram saat itu. Dengan banyaknya orang yang dibungkam oleh rasa takut, yang bisa saya lakukan hanyalah menggunakan suara saya," ujarnya, menegaskan komitmennya pada aktivisme.
Kisah Cinta Modern dari Aplikasi Kencan
Kisah pertemuan Rama Duwaji dan Zohran Mamdani berawal dari aplikasi kencan, Hinge. Dalam wawancara podcast The Bulwark pada 17 Juni, Mamdani berseloroh, “Masih ada harapan di dating apps.”
Hubungan mereka berkembang pesat, ditandai dengan unggahan foto hasil jepretan Duwaji oleh Mamdani pada April 2022. Puncaknya, pada Oktober 2024, Mamdani mengunggah foto Rama dengan caption 'Light of my life' dan emoji cincin, yang dibanjiri ucapan selamat atas pertunangan mereka. Pasangan ini kemudian menikah secara sipil di kantor City Clerk, New York, pada awal tahun 2025.
Seni sebagai Alat Perlawanan
Rama Duwaji bukan sekadar seniman visual, ia menggunakan karyanya sebagai platform sosial. Karyanya telah dipublikasikan di media internasional seperti BBC News, The New York Times, The Washington Post, Vice, hingga dipamerkan di museum ternama seperti Tate Modern London.
Dalam situs pribadinya, Duwaji menulis bahwa seni adalah alat untuk 'menelusuri makna persaudaraan dan pengalaman komunal'. Ia banyak menciptakan karya bernuansa hitam-putih, menggambarkan kehidupan masyarakat Arab dan pengalaman perempuan di tengah gejolak global.
Duwaji dikenal sangat vokal terhadap isu penderitaan warga Palestina, kritik terhadap imperialisme Amerika, hingga isu pengungsi Suriah. “Saya percaya setiap orang memiliki tanggung jawab untuk melawan ketidakadilan, dan seni memiliki kekuatan besar untuk menyebarkan kesadaran,” tegasnya, yang sejalan dengan ideologi progresif suaminya.
Meskipun jarang terlihat di panggung politik, laporan CNN menyebutkan bahwa Rama Duwaji memiliki peran krusial di balik layar kampanye Mamdani.
Ia adalah sosok yang membantu merancang identitas visual kampanye, termasuk logo, tipografi, dan palet warna khas kampanye: kuning, oranye, dan biru. Ketika media sempat menuding Mamdani 'menyembunyikan istrinya', sang politisi langsung membela dengan mengatakan, “Kritiklah pandangan politik saya, tetapi jangan keluarga saya.”
Seorang teman dekatnya, Hasnain Bhatti, bahkan menyebut Duwaji sebagai sosok yang 'seperti Putri Diana masa kini', memuji sikapnya yang tenang, rendah hati, dan tetap fokus pada seni serta aktivismenya di tengah popularitas suaminya. Rama Duwaji kini berdiri di jantung New York, membawa kisah diaspora, seni, dan misi sosial ke panggung politik global. (*)
Editor : Indra Zakaria