Pemerintah Israel mengatakan bahwa, mereka mempunyai hak untuk membela diri setelah serangan lintas batas Hamas di Israel pada 7 Oktober 2023.
Mereka mengklaim Hamas telah menewaskan 1.200 orang warga Israel pada serang tersebut.
Klaim Israel segera terbantahkan oleh Haaretz (surat kabar Israel) yang mengungkap bahwa kenyataannya, helikopter dan tank tentara Israel telah membunuh banyak dari 1.139 tentara dan warga sipil yang diklaim oleh Israel telah dibunuh oleh Pasukan Perlawanan Palestina tersebut.
Menanggapi gugatan yang diajukan Afrika Selatan di Mahkamah Internasional di Den Haag, Netanyahu mengatakan komitmen Israel terhadap hukum internasional tidak tergoyahkan.
Namun, PM Israel itu menambahkan dalam sebuah pernyataan, “seperti negara lain, Israel mempunyai hak dasar untuk membela diri. Mahkamah Internasional di Den Haag dengan adil menolak permintaan yang keterlaluan untuk mencabut hak (berperang dengan Hamas) ini dari kami.”
Netanyahu tampaknya mengacu pada fakta bahwa ICJ tidak menyerukan gencatan senjata segera di Gaza dalam putusan tersebut.
Netanyahu menanggapi Afrika Selatan dan ICJ, dia berkata, “tetapi klaim bahwa Israel melakukan genosida terhadap warga Palestina tidak hanya salah, tapi juga keterlaluan, dan kesediaan Mahkamah Internasional untuk membahas hal ini adalah aib yang tidak akan terhapuskan dari generasi ke generasi."
Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant mengatakan, Israel tidak perlu diceramahi soal moralitas. Beberapa hari setelah serangan tanggal 7 Oktober 2023, Gallant mengatakan Israel akan memberlakukan blokade total di Gaza sebagai bagian dari pertempuran melawan ‘manusia hewan’.
Gallant mengatakan dalam sebuah pernyataan, “Mahkamah Internasional di Den Haag telah melangkah terlalu jauh, ketika mengabulkan permintaan anti-Semit Afrika Selatan untuk membahas klaim genosida di Gaza, dan sekarang menolak untuk langsung menolak petisi tersebut." (*)