Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Demi Greenland, Trump Kobarkan Perang Dagang: Uni Eropa dan Inggris Kompak Melawan

Redaksi Prokal • 2026-01-19 08:45:00
Ilustrasi: Donald Trump kekeuh ingin menguasai Greenland. (Global News)
Ilustrasi: Donald Trump kekeuh ingin menguasai Greenland. (Global News)

 

PROKAL.CO- Ambisi Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menguasai Greenland dari Denmark kini menyeret dunia ke dalam pusaran gejolak politik dan ekonomi yang kian memanas. Sebagai upaya untuk mematahkan perlawanan negara-negara Eropa di kawasan Arktik, Trump melancarkan ancaman baru berupa kenaikan tarif dagang terhadap delapan negara, termasuk Inggris, Norwegia, dan enam anggota Uni Eropa. Langkah ini dipandang sebagai serangan langsung terhadap negara-negara yang berani mengirimkan pasukan ke Greenland untuk memperkuat keamanan kawasan tersebut.

Ancaman ini menjadi ironi besar karena menyasar kesepakatan dagang yang baru saja dirajut pada musim panas lalu. Untuk pertama kalinya, gertakan Trump berisiko menjadi bumerang bagi Amerika Serikat. Para pemimpin Uni Eropa, dipimpin oleh Presiden Prancis Emmanuel Macron, menegaskan sikap keras bahwa mereka tidak akan tunduk pada intimidasi maupun pemerasan politik. Di Parlemen Eropa, dua blok politik terbesar, Partai Rakyat Eropa (EPP) serta Sosialis & Demokrat (S&D), hampir dipastikan akan menunda ratifikasi kesepakatan dagang AS-UE sebagai bentuk protes keras.

Manfred Weber, pemimpin EPP, secara tegas menyatakan bahwa persetujuan dagang tidak mungkin dilakukan selama ancaman terhadap Greenland masih berlangsung. Ia bahkan menyerukan agar kebijakan tarif nol persen bagi produk-produk Amerika Serikat segera ditangguhkan. Hal senada diungkapkan oleh blok liberal Renew yang menilai bahwa fondasi kesepakatan dengan Trump selama ini sangat rapuh karena dibangun di atas tekanan, bukan kerja sama yang setara.

Secara teknis, Trump memang memiliki wewenang untuk menaikkan tarif secara sepihak di wilayah Amerika Serikat. Namun, langkah ini mengabaikan struktur kebijakan perdagangan di Eropa yang berada sepenuhnya di bawah otoritas Brussel, sehingga negara anggota tidak bisa bernegosiasi secara individual. Pakar hubungan internasional menilai ancaman tarif ini merupakan reaksi balasan Trump atas pengerahan pasukan Eropa ke Greenland yang mulai mengusik dominasi AS di kutub utara.

Krisis ini juga menyingkap keretakan hubungan antara AS dengan sekutu terdekatnya, Inggris. Meskipun kesepakatan dagang Inggris-AS sudah berjalan, banyak produk ekspor unggulan Inggris seperti salmon masih tertahan dengan tarif tinggi. Selain itu, Amerika Serikat secara sepihak menangguhkan investasi teknologi senilai 31 miliar poundsterling sebagai alat tawar untuk melonggarkan regulasi teknologi di Inggris dan Uni Eropa.

Kepala Diplomasi Uni Eropa, Kaja Kallas, mengeluarkan sindiran tajam bahwa perpecahan ini hanya akan menguntungkan rival global seperti Tiongkok dan Rusia. Di saat Barat seharusnya bersatu menghadapi banjir produk murah dari Tiongkok, Trump justru dianggap sibuk memecah belah aliansinya sendiri demi obsesi teritorial di Greenland. Situasi ini menandai titik terendah baru dalam hubungan transatlantik yang membuat masa depan stabilitas ekonomi global berada dalam ketidakpastian tinggi. (*)

Editor : Indra Zakaria