Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Israel "Gatal" Ingin Serang Iran, Trump Pilih Tarik Rem Darurat: Masih Mau Jalur Damai?

Redaksi Prokal • 2026-02-04 15:15:00
Donald Trump
Donald Trump

WASHINGTON – Hubungan antara dua sekutu dekat, Amerika Serikat dan Israel, kini tengah diuji oleh perbedaan pandangan yang tajam terkait isu Iran. Meskipun militer Israel dikabarkan gencar mendorong opsi serangan fisik, Presiden Donald Trump dilaporkan belum memiliki niat untuk melancarkan operasi militer dalam waktu dekat. Sikap skeptis ini mencuat di tengah kunjungan pejabat tinggi militer Israel ke Washington untuk melobi Gedung Putih.

Laporan dari Axios menyebutkan bahwa Kepala Staf Umum Israel, Eyal Zamir, baru-baru ini mencoba meyakinkan militer AS mengenai urgensi serangan terhadap Teheran. Namun, upaya tersebut tampaknya bertepuk sebelah tangan. Sejumlah pejabat senior AS menegaskan bahwa Trump "benar-benar tidak ingin" melakukan serangan tersebut. Para penasihat presiden bahkan menilai operasi militer saat ini merupakan sebuah kesalahan besar yang justru dapat merusak stabilitas kebijakan regional dan internasional yang sedang dibangun Washington.

Sikap Trump ini mencerminkan upayanya yang masih memprioritaskan jalur diplomasi untuk mencapai kesepakatan nuklir yang "adil dan seimbang". Meskipun Trump sempat melontarkan ancaman keras mengenai adanya "armada besar" yang menuju Iran pada Januari lalu, hal tersebut tampaknya lebih sebagai taktik gertakan (bargaining chip) agar Teheran bersedia kembali ke meja perundingan dengan syarat yang lebih ketat—yakni pengabaian total terhadap senjata nuklir.

Di sisi lain, spekulasi mengenai pertemuan rahasia antara utusan Trump, Steve Witkoff dan Jared Kushner, dengan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, sebagai kedok serangan mendadak telah dibantah keras oleh pihak AS. Sebaliknya, pertemuan yang dijadwalkan pada Jumat besok tersebut murni untuk menjajaki prospek kesepakatan nuklir baru. Meskipun Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, disebut belum siap menerima persyaratan ketat AS, Trump tetap bersikukuh bahwa serangan militer adalah opsi terakhir yang "jauh lebih buruk" dan belum diperlukan untuk saat ini. (*)

Editor : Indra Zakaria