Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Stok Rudal Menipis, AS Terancam Krisis Tomahawk dalam Konflik Lawan Iran

Redaksi Prokal • Sabtu, 28 Maret 2026 - 14:00 WIB

Rudal Tomahawk.
Rudal Tomahawk.

 

WASHINGTON – Departemen Perang Amerika Serikat dilaporkan tengah menghadapi krisis persediaan senjata akibat intensitas operasi militer melawan Iran yang terus meningkat. Laporan terbaru dari The Washington Post menyebutkan bahwa militer AS telah menguras lebih dari 850 rudal Tomahawk, sebuah angka yang memicu alarm bahaya di kalangan pejabat pertahanan.

Sejumlah sumber yang mengetahui masalah ini mengungkapkan kekhawatiran mereka terhadap laju penggunaan rudal jelajah tersebut. Hal ini dikarenakan kapasitas produksi tahunan Amerika Serikat hanya berada di angka beberapa ratus unit saja.

"Jumlah rudal yang tersisa di Timur Tengah saat ini berada pada level yang sangat rendah dan mengkhawatirkan," ujar salah satu sumber pejabat pertahanan AS kepada media tersebut.

Kondisi ini memaksa para petinggi militer di Washington untuk segera mencari solusi darurat terkait distribusi senjata global mereka. Fokus diskusi saat ini beralih pada kemungkinan melakukan pergeseran alokasi rudal dari wilayah strategis lainnya.

"Ketergantungan pada Tomahawk dalam konflik Iran membutuhkan diskusi mendesak tentang apakah kita perlu memindahkan sebagian cadangan dari bagian lain dunia, termasuk kawasan Indo-Pasifik," ungkap beberapa pejabat AS dalam laporan tersebut.

Meski internal Pentagon dilaporkan sedang dilanda kecemasan, juru bicara Departemen Perang AS, Sean Parnell, berusaha menepis keraguan publik mengenai kesiapan tempur negaranya. Ia menegaskan bahwa militer Amerika Serikat tetap dalam kondisi siaga penuh.

"Amerika Serikat memiliki semua yang dibutuhkan untuk melaksanakan misi apa pun pada waktu dan tempat yang dipilih Presiden, serta dalam jangka waktu apa pun," tegas Parnell.

Situasi di lapangan sendiri kian memanas sejak serangan udara AS dan Israel ke Iran pada akhir Februari lalu yang kemudian dibalas oleh Teheran ke fasilitas militer AS. Eskalasi ini berdampak langsung pada blokade de facto di Selat Hormuz yang mengganggu distribusi energi dunia.

"Ini adalah jalur utama pengiriman minyak dan gas alam cair dari Teluk Persia ke pasar global. Blokade ini memengaruhi tingkat ekspor dan mendorong kenaikan harga energi internasional secara signifikan," tambah laporan tersebut mengenai dampak ekonomi global yang mulai terasa.

Editor : Indra Zakaria