Advertorial Balikpapan Bisnis Bola Daerah Bola Dunia Hiburan Hoax IKN Internasional Kesehatan Kriminal Lifestyle Nasional Pemerintahan Politik Pro Kalimantan Prokal Balikpapan Prokal Berau Prokal Kaltara Prokal Kaltim Prokal News Ramadan Samarinda Sport Teknologi

Guncangan Global: Konflik Iran vs Israel-AS Picu Krisis Energi di 5 Negara, Kuba Lumpuh Total

Redaksi Prokal • 2026-03-31 11:10:00

Selat Hormuz
Selat Hormuz

PROKAL.CO– Eskalasi konflik bersenjata di Timur Tengah antara Iran melawan koalisi Israel dan Amerika Serikat mulai mengirimkan gelombang kejut ke berbagai belahan dunia. Ketegangan yang mengancam jalur logistik vital di Selat Hormuz ini memicu lonjakan harga minyak mentah dan mengganggu stabilitas pasokan energi global.

Dampaknya terasa paling berat bagi negara-negara berkembang dengan kapasitas fiskal terbatas. Kuba, Sri Lanka, Nepal, Pakistan, dan Mesir kini berada di garis depan krisis, menghadapi ancaman pemadaman listrik massal hingga kelangkaan bahan pokok.

Berikut adalah kondisi terkini lima negara yang terdampak paling parah akibat krisis energi global tersebut:

1. Kuba: Pemadaman Listrik Total dan Embargo Ketat

Kuba mengalami situasi paling kritis dengan pemadaman listrik total di seluruh wilayah pulau. Kondisi ini diperparah oleh kebijakan Amerika Serikat yang mengancam akan mengenakan tarif bagi negara mana pun yang menyuplai minyak ke Kuba.

Langkah blokade ekonomi ini mengakibatkan ribuan jadwal operasi di rumah sakit dibatalkan, sektor pariwisata lumpuh, dan layanan sanitasi terhenti. PBB melaporkan warga kini terpaksa membakar kayu untuk memasak dan tengah mengusulkan rencana aksi darurat senilai USD 94,1 juta guna menjaga layanan kemanusiaan dasar bagi warga rentan.

2. Sri Lanka: Operasional Perusahaan Berhenti

Negara di Asia Selatan ini kembali jatuh ke dalam lubang krisis setelah sebelumnya sempat berupaya bangkit dari gagal bayar utang. Mengutip laporan The Economist, sejumlah perusahaan besar di Sri Lanka terpaksa menghentikan operasional karena ketiadaan pasokan energi. Sektor pendidikan pun terdampak, di mana sekolah dan universitas harus mengalihkan seluruh kegiatan belajar-mengajar ke sistem daring guna menghemat penggunaan listrik di fasilitas umum.

3. Nepal: Antrean Panjang Gas Memasak

Di Nepal, krisis energi termanifestasi dalam bentuk antrean panjang masyarakat yang mengular di berbagai depo pengisian gas. Terbatasnya pasokan gas domestik membuat kebutuhan dasar rumah tangga sulit terpenuhi. Ketergantungan tinggi pada impor energi membuat Nepal sangat rentan terhadap fluktuasi harga minyak dunia yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah.

4. Pakistan: Ancaman Defisit dan Jatuhnya Mata Uang

Pakistan menghadapi tekanan ganda pada neraca pembayaran dan cadangan devisa yang kini berada di bawah batas minimum IMF. Ketergantungan besar pada pasokan energi dari kawasan Teluk membuat Pakistan terancam lumpuh jika Selat Hormuz benar-benar ditutup. Saat ini, pemerintah setempat mulai memotong kuota impor dan meminta bantuan darurat internasional untuk menstabilkan mata uang mereka yang terus merosot.

5. Mesir: Beban Utang dan Tekanan Remitansi

Mesir menjadi salah satu negara paling rentan karena harus menanggung beban utang luar negeri sekitar USD 29 miliar tahun ini. Kenaikan harga energi global mempersempit ruang fiskal pemerintah Mesir. Selain itu, risiko penurunan remitansi (kiriman uang) dari warga negara mereka yang bekerja di kawasan konflik Timur Tengah menambah beban berat pada stabilitas ekonomi nasional.(*)

Editor : Indra Zakaria