Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Enggan Picu Eskalasi, Spanyol Tegaskan Tolak Ikut Campur Operasi Militer di Selat Hormuz

Redaksi Prokal • Rabu, 3 Juni 2026 | 11:00 WIB
Selat Hormuz.
Selat Hormuz.

 
PROKAL.CO– Pemerintah Spanyol mengambil sikap diplomatis yang sangat berhati-hati di tengah memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah. Menteri Luar Negeri Spanyol, Jose Manuel Albares, menegaskan bahwa negaranya tidak akan mengambil bagian dalam operasi militer apa pun di Selat Hormuz yang berpotensi memicu eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan tersebut.

Langkah ini diambil Madrid sebagai bentuk komitmen mereka dalam mengutamakan jalur dialog ketimbang konfrontasi senjata. "Kami tidak akan mengambil bagian dalam tindakan apa pun yang dapat berarti eskalasi. Dan yang terpenting, kami pikir tidak ada solusi militer untuk krisis ini," ujar Albares secara blak-blakan dalam sebuah wawancara eksklusif bersama media ekonomi internasional, Financial Times, pada Selasa.

Pernyataan tegas dari Menlu Spanyol tersebut mencuat ke publik ketika dirinya dicecar pertanyaan mengenai kemungkinan Spanyol bergabung dengan misi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dalam mengamankan jalur pelayaran vital di Selat Hormuz, terutama jika Amerika Serikat dan Iran gagal mencapai kesepakatan damai.

Sikap Spanyol ini terbilang kontras dengan pergerakan beberapa sekutu Barat lainnya. Pada Mei lalu, para menteri pertahanan dari sekitar 40 negara yang tergabung dalam koalisi internasional untuk membuka blokade Selat Hormuz telah mengadakan pembicaraan intensif yang dipimpin langsung oleh Inggris dan Prancis. Melalui pernyataan bersama yang dihasilkan, koalisi tersebut mengeklaim bahwa misi militer pertahanan yang mereka rancang justru diklaim akan melengkapi proses diplomatik demi menyelesaikan konflik berkepanjangan antara AS dan Iran.

Ketegangan di Timur Tengah sendiri sempat mencapai titik didih setelah Amerika Serikat dan Israel meluncurkan serangan udara gabungan berskala besar terhadap sejumlah target vital di Iran, termasuk di ibu kota Teheran, pada 28 Februari lalu. Serangan tersebut dilaporkan menyebabkan kerusakan infrastruktur yang masif serta memakan korban dari warga sipil. Tidak tinggal diam, Iran membalasnya dengan meluncurkan serangan balasan langsung ke wilayah kedaulatan Israel serta menghantam sejumlah fasilitas militer milik AS yang tersebar di Timur Tengah.

Gesekan ini bahkan sempat mengguncang internal aliansi pertahanan Barat sendiri. Pada April lalu, Presiden AS Donald Trump sempat melontarkan ancaman serius kepada surat kabar The Telegraph bahwa ia sedang mempertimbangkan untuk menarik keluar Amerika Serikat dari keanggotaan NATO. Trump meradang dan menyebut aliansi pertahanan itu sebagai "macan kertas" setelah negara-negara anggota NATO menolak memberikan bantuan militer langsung untuk menyokong konflik AS melawan Iran. Dengan adanya penolakan terbuka dari Spanyol ini, dinamika internal NATO diprediksi akan semakin pelik dalam merespons situasi di Selat Hormuz. (*)

Editor : Indra Zakaria
#selat hormuz