Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Mandiri Energi di Perbatasan: Untan Temukan Potensi Energi Terbarukan 466 MW di Sambas, Mampu Tekan Impor Listrik Malaysia

Redaksi Prokal • Selasa, 26 Mei 2026 | 09:45 WIB
Ilustrasi listrik
Ilustrasi listrik

 
PONTIANAK – Universitas Tanjungpura (Untan) melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) berhasil mengidentifikasi potensi raksasa pengembangan tiga jenis energi baru terbarukan (EBT) unggulan di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Total kapasitas energi bersih yang ditemukan dalam riset terbaru ini mencapai angka fantastis, yakni 466 megawatt (MW).

Secara visual, pasokan daya sebesar 466 MW ini diperkirakan mampu menghidupkan sekitar 4,6 juta lampu jalan raya tipe LED 100 watt secara bersamaan, atau sanggup memenuhi kebutuhan listrik domestik bagi 517.000 rumah tangga dengan daya 900 VA. Penemuan strategis ini dinilai krusial untuk memperkuat pasokan listrik di kawasan perbatasan Indonesia-Malaysia, sekaligus mengakselerasi program reduksi emisi karbon di Kalimantan Barat.

Ketua Tim Peneliti LPPM Untan, Erdi, menjelaskan bahwa riset bertajuk “Analisis Potensi Energi Terbarukan sebagai Alternatif Pengurangan Emisi Karbon di Kalbar” ini merupakan hasil kolaborasi bersama Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah Provinsi Kalimantan Barat. Berdasarkan pemetaan wilayah basis potensial, sektor energi surya (PLTS) mendominasi potensi sebesar 45 persen, disusul biomassa sebesar 35 persen, dan tenaga air (PLTA/PLTMH) sebesar 20 persen.

“Kami sudah menemukan tiga jenis energi terbarukan unggulan Kabupaten Sambas yang dapat dikembangkan potensinya untuk mendukung kebutuhan listrik sekaligus menekan emisi karbon di Kalbar,” kata Erdi di Pontianak, Senin (25/5).

Secara geografis, tim peneliti memetakan bahwa energi surya sangat potensial dikembangkan di wilayah-wilayah dengan intensitas cahaya matahari tinggi, meliputi Kecamatan Paloh, Tebas, Teluk Keramat, Sejangkung, dan Sajingan Besar. Untuk potensi tenaga air, pemanfaatannya dapat diarahkan pada kawasan lintasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Sambas, DAS Sebangkau, dan DAS Paloh. Sementara itu, untuk sektor biomassa, fokus pengembangan diarahkan pada pemanfaatan limbah dari 11 perkebunan kelapa sawit swasta skala besar di Sambas yang diestimasi memiliki potensi realistis hingga 93,8 MW.

Kehadiran riset ini membawa secercah harapan bagi warga perbatasan seperti Dedi, warga Kecamatan Sajingan Besar. Menurutnya, pasokan listrik yang andal dan stabil adalah kunci utama untuk menunjang aktivitas harian, mulai dari pendidikan anak-anak di malam hari hingga geliat usaha kecil milik warga di gardu depan NKRI.

Selain persoalan keandalan pasokan, pengembangan proyek EBT di Sambas ini diproyeksikan mampu memotong emisi gas rumah kaca daerah secara signifikan, yaitu berkisar antara 32 ribu hingga 97 ribu ton CO2 per tahun. Angka reduksi ini sangat berarti mengingat baseline emisi Kabupaten Sambas saat ini berada pada kisaran 108 ribu hingga 162 ribu ton CO2 per tahun. Langkah ini pun sejalan dengan target nasional dalam menurunkan emisi gas rumah kaca hingga 43,20 persen pada tahun 2030 dengan dukungan internasional.

Di sisi lain, kemandirian energi menjadi urgensi utama mengingat Kalimantan Barat hingga kini masih bergantung pada impor listrik dari Sarawak Energy Malaysia untuk menjaga stabilitas tegangan dan pasokan sistem interkoneksi di wilayahnya. Ketua Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia Kalimantan Barat, Haryanto, menilai dari ketiga opsi tersebut, pengembangan biomassa dari limbah cair kelapa sawit (Palm Oil Mill Effluent/POME) merupakan proyek yang paling cepat dan realistis untuk segera dieksekusi. Dengan lebih dari 100 pabrik sawit besar di Kalbar, potensi gas metan dari limbah industri ini melimpah ruah, meskipun realisasinya di lapangan masih membutuhkan percepatan investasi serta payung regulasi yang lebih kuat. (*)

Editor : Indra Zakaria
#kalbar #untan