Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Mengintip Harta Karun Tersembunyi Kalimantan Barat: Logam Tanah Jarang di Balik Kilau Bauksit

Redaksi Prokal • Selasa, 14 Juli 2026 | 06:45 WIB
Eksplorasi tambang logam tanah jarang. (Rare-earth-mining.com)
Eksplorasi tambang logam tanah jarang. (Rare-earth-mining.com)

 
PONTIANAK – Kalimantan Barat selama ini kokoh dikenal sebagai salah satu lumbung bauksit terbesar di Indonesia. Namun siapa sangka, di balik riuhnya aktivitas pertambangan mineral utama tersebut, bumi Khatulistiwa menyimpan harta karun strategis yang kini menjadi incaran dunia, yaitu Logam Tanah Jarang (LTJ) atau Rare Earth Elements.

Mineral kritis ini bukan komoditas sembarangan. LTJ merupakan bahan baku mutakhir yang menentukan masa depan teknologi modern, mulai dari komponen kendaraan listrik, turbin energi terbarukan, hingga magnet berkinerja tinggi.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) kini tengah serius memetakan potensi raksasa ini. Secara nasional, wilayah prospek LTJ di Indonesia diperkirakan menembus 1,2 juta hektare, dan Kalimantan Barat resmi masuk dalam radar penyelidikan intensif.

Berdasarkan catatan Badan Geologi, perburuan LTJ di Kalimantan Barat difokuskan pada tipe endapan laterit dan plaser. Salah satu titik wilayah yang menjadi pusat penyelidikan adalah Kabupaten Ketapang. Menariknya, komoditas ini tidak berdiri sendiri, melainkan menyelinap sebagai mineral ikutan yang selama ini ditemukan bersama bauksit. Mineral-mineral berharga seperti monasit, xenotim, zirkon, dan ilmenit kini dibidik untuk dipisahkan dari komoditas utama.

Kepala Pusat Riset Sumber Daya Geologi (PRSDG) BRIN, Iwan Setiawan, menjelaskan bahwa karakter geologi Indonesia memang sangat mendukung terbentuknya harta tersembunyi ini. “Indonesia memiliki potensi endapan LTJ yang cukup besar, salah satunya berasal dari batuan granit dan vulkanik berkomposisi alkalin, ultramafik, serta tanah hasil pelapukannya yang kaya kandungan logam tanah jarang,” ujar Iwan Setiawan.

Kondisi geologis ini otomatis membuka peluang emas bagi daerah penghasil bauksit di Kalbar, seperti Ketapang, Sanggau, hingga Mempawah, untuk naik kelas menjadi bagian dari rantai pasok industri teknologi masa depan.Pengembangan LTJ ini digadang-gadang akan menjadi lompatan besar bagi agenda hilirisasi mineral nasional. Selama ini, sisa pengolahan atau limbah tambang kerap terabaikan. Padahal, jika disentuh dengan teknologi ekstraksi yang tepat, komoditas ini bernilai ekonomi fantastis.

Iwan Setiawan optimistis bahwa penguasaan teknologi pengolahan LTJ akan mendongkrak posisi tawar Indonesia di kancah internasional secara signifikan. “Jika dimanfaatkan dan dikelola dengan baik, Indonesia bisa menjadi terdepan di industri baterai dan magnet paling tidak di kawasan ASEAN,” tegas Kepala PRSDG BRIN tersebut.

Kendati potensinya sangat menggiurkan, jalan menuju komersialisasi penuh masih berliku. BRIN mencatat sejumlah pekerjaan rumah besar yang harus segera diselesaikan pemerintah, mulai dari keterbatasan fasilitas riset, alat karakterisasi mineral, hingga minimnya tenaga ahli lokal yang menguasai teknik eksplorasi tingkat tinggi.

Iwan mengingatkan bahwa data di atas kertas tidak akan berarti apa-apa tanpa adanya pembuktian ilmiah yang lebih masif di lapangan. “Diperlukan riset dengan pendekatan teknologi terkini agar sumber daya mineral Indonesia dapat dimanfaatkan secara optimal,” jelas Iwan.

Kini, masa depan ekonomi Kalimantan Barat berada di persimpangan jalan yang menjanjikan. Daerah yang dulunya hanya dikenal sebagai pengeruk bahan mentah, kini berpeluang menjadi pusat inovasi mineral kritis. Keberhasilan Kalbar ke depan tidak lagi diukur dari seberapa banyak jutaan ton bauksit yang dikapalkan keluar, melainkan seberapa cerdas teknologi lokal mampu mengekstrak logam tanah jarang demi kesejahteraan masyarakat daerah. (*)

Editor : Indra Zakaria
#Logam Tanah Jarang