Sungai Kapuas Dikepung Asap Karhutla, Nakhoda Berjuang Ekstra Tembus Jarak Pandang Terbatas

Redaksi Prokal • Dipublikasikan Kamis, 27 Agustus 2026 | 11:00 WIB
KM Sukadana Raya bersandar di Dermaga Kapuas Indah, Pontianak. Kabut asap karhutla mulai mengganggu jarak pandang pelayaran di Sungai Kapuas. (HARYADI/PONTIANAK POST)
KM Sukadana Raya bersandar di Dermaga Kapuas Indah, Pontianak. Kabut asap karhutla mulai mengganggu jarak pandang pelayaran di Sungai Kapuas. (HARYADI/PONTIANAK POST)

PONTIANAK — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai membawa dampak serius bagi dunia pelayaran di Kalimantan Barat. Jarak pandang di sepanjang alur Sungai Kapuas terganggu oleh kabut asap pekat, memaksa para nakhoda bekerja ekstra keras dengan tingkat konsentrasi tinggi saat mengemudikan kapal.

Dampak kabut asap ini dirasakan langsung oleh Ramli, nakhoda KM Sukadana Raya yang melayani rute Pontianak–Kayong Utara. Saat kapal barang dan penumpangnya bersandar di Dermaga Kapuas Indah, ia mengungkapkan bahwa pelayaran malam hari menjadi momentum paling mendebarkan.

"Jarak pandang di sungai sudah mulai terbatas, apalagi saat malam kondisinya sangat terbatas sehingga butuh konsentrasi saat berlayar," ujar Ramli saat ditemui di Pontianak, Rabu (26/8/2026).

Imbas dari minimnya jarak pandang tersebut, kecepatan kapal terpaksa dikurangi demi mencegah risiko tabrakan antar-kapal. Penurunan kecepatan ini secara otomatis memangkas efisiensi waktu tempuh dan menambah beban operasional.

Perjalanan normal Pontianak–Kayong Utara yang biasanya hanya memakan waktu 18 jam kini membengkak hingga 24 jam atau lebih. Menurut Ramli, pembengkakan waktu ini berdampak langsung pada konsumsi bahan bakar kapal klotok miliknya yang rutin berlayar setiap tiga hari sekali.

Menariknya, di tengah keterbatasan alat, Ramli mengaku masih mengandalkan pengalaman bertahun-tahun dalam membaca lekuk alur Sungai Kapuas tanpa bantuan alat navigasi canggih.

"Kalau melewati alur Sungai Kapuas saya masih tidak menggunakan alat navigasi. Namun, kalau sudah melintasi pesisir, perlu menggunakan GPS sebagai pemandu berlayar agar lebih mudah saat kondisi kabut asap," jelasnya.

Ancaman kabut asap ini diprediksi tak hanya mengganggu keselamatan pelayaran malam, tetapi juga berpotensi menghambat arus rantai pasokan logistik dan mobilitas warga yang menggantungkan hidup pada transportasi perairan Sungai Kapuas. (*)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : Pontianak Post
sungai kapuas pontianak