Pernah mendengar kuliner tebu telur? Penganan yang satu ini ternyata cukup diminati masyarakat Kembayan, Kabupaten Sanggau. Seperti apa bentuknya?
MARSITA RIANDINI, Sanggau
TEBU atau bahasa setempat menyebutnya tobu toluk merupakan jenis sayur-sayuran yang mirip dengan tebu pada umumnya. Namun, jika tebu biasa diambil airnya, tebu telur ini diambil bagian pucuknya. Sedangkan bagian batangnya yang menyerupai tebu biasa itu tidak berair banyak. Diameter batangnya juga lebih kecil dari batang tebu biasa.
Mengambil tebu telur tidaklah sulit. Cukup memotong bagian pucuknya, kemudian dikupas kulitnya. Maka, akan menemukan isi semacam sekumpulan telur ikan yang berwarna agak kekuning-kuningan. Karena itu, ia disebut tebu telur. Bagian inilah kemudian diolah menjadi sajian makanan.
Penulis pernah menikmati tebu telur ini yang diolah menjadi sayur bening. Tebu dicampur dengan sayur-sayuran segar. tebu telur tidak dihancurkan. Sehingga bisa mengambilnya secara utuh. Berbeda saat diolah menjadi sambal teri. Tebu telur lebih hancur sehingga sekilas mirip sambal telur ayam. Cocok menjadi lauk teman makan nasi.
Tobu toluk ini juga bisa dimakan mentah. Jika dimakan mentah, teksturnya terasa gersang seperti ampas. Rasanya tawar namun sedikit berlemak. Meski begitu ada yang lebih suka makan mentah dibanding diolah. “Kalau saya lebih suka makan mentah. Tawar sih, tapi lebih enak daripada diolah,” kata Erwin saat menunjukkan cara membuka tebu telur dan menikmatinya tanpa dimasak.
Tanaman ini sangat mudah tumbuh dan menanamnya pun tidak sulit. Cara budidaya tebu telur juga sama dengan tebu biasa. Umumnya masyarakat setempat menanam dengan cara di setek, yakni metode perbanyakan tanaman dengan menggunakan potongan tubuh tanaman atau batang tebu. Kemudian ditanam di tanah dengan memberikan jarak antara tanaman satu dengan tanaman lainnya.
Tebu telur ini juga biasa dijual di pasar-pasar tradisional. Harganya terjangkau. Umumnya satu ikat lima ribu rupiah, sudah bisa menjadi sajian sedap di meja makan. (*)
Editor : izak-Indra Zakaria