Advertorial Balikpapan Bisnis Bola Daerah Bola Dunia Hiburan Hoax IKN Internasional Kesehatan Kriminal Lifestyle Nasional Pemerintahan Politik Pro Kalimantan Prokal Balikpapan Prokal Berau Prokal Kaltara Prokal Kaltim Prokal News Ramadan Samarinda Sport Teknologi

Ekspedisi Budaya ke Tanjung Lokang, Lewati Riam yang Memacu Adrenalin

A'an • 2024-03-13 12:27:49
RIAM EKSTREM: Motoris juru batu bersama Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalbat Rita Hastarita  melewati riam ekstrem menuju Desa Tanjung Lokang. (MIRZA/PONTIANAK POST)
RIAM EKSTREM: Motoris juru batu bersama Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalbat Rita Hastarita  melewati riam ekstrem menuju Desa Tanjung Lokang. (MIRZA/PONTIANAK POST)

 

Tim Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Barat melakukan ekspedisi budaya menuju ujung Kapuas Hulu, Desa Tanjung Lokang, Kecamatan Putusibau Selatan. Menyusuri alur sungai dengan riam-riam menantang, perjalanan menuju ke sana memacu adrenalin. Bagaimana perjalanan menuju Desa Dayak Punan itu?

MIRZA AHMAD MUIN, Tanjung Lokang

AIR sungai di tepian Desa Nanga Erak, lokasi keberangkatan menuju Desa Tanjung Lokang, Kecamatan Putussibau Selatan Kabupaten Kapuas Hulu, Selasa pukul 12.30 siang tampak sedikit pasang.

Tim Dinas Pendidikan dan Kebudayaan yang diketuai langsung Kepala Dinasnya, Rita Hastarita telah tiba di lokasi itu lima menit lalu. Merekapun langsung bergegas menyiapkan barang-barang perbekalan yang akan dibawa. Salah satunya paketan sepatu yang bakal diberikan pada murid-murid di Sekolah Dasar 11 Tanjung Lokang. 

Sebetulnya ke-18 belas orang tim ekspedisi budaya ini sudah harus berangkat pada pukul sembilan pagi, namun karena sesuatu hal, akhirnya keberangkatan ke Desa yang tak jauh dari perbatasan Kalimantan Timur itu sedikit molor.

Salah satu motoris mengatakan untuk sampai ke Tanjung Lokang akan menempuh perjalanan delapan jam menapaki jalur sungai. Kalau berangkat siang seperti ini, dia memperkirakan perjalanannya tak bisa dipaksa ke Tanjung Lokang. Jika dipaksa akan berbahaya di perjalanan. Apalagi di malam hari, riam tak nampak. Jika nasib tak baik, bisa-bisa bermalam di rimba.

Alhasil, ia menganjurkan untuk menginap di Resort Nanga Bungan milik Taman Nasional Betung Kerihun di Desa Bungan Jaya. Jarak tempuh ke sana lima jam perjalanan. Barulah besok paginya perjalanan dilanjutkan ke Tanjung Lokang.

Dalam perjalanan ke sana turut dipandu perwakilan dari Taman Nasional Betung Kerihun. Mereka meminta para penumpang mengenakan live jacket sebagai pengaman keselamatan. Sebab di beberapa titik nanti, perahu akan melewati riam-riam yang gelombangnya cukup besar.

Di perjalanan ke Tanjung Lokang ini akan menggunakan dua perahu berkekuatan dua mesin gandeng, masing-masing bertenaga 40 PK dan 15 PK. Perahu ini mampu mengangkut maksimal lima ton muatan.

Setelah barang-barang tersusun rapi di atas perahu, ke 18 orang tim ekspedisi kebudayaan itu pun dibagi ke dua perahu. Sebelum menaiki perahu mereka briefing sebentar, dilanjutkan berdoa meminta keselamatan selama di perjalanan. Barulah pukul satu siang perjalanan menuju Desa Tanjung Lokang dimulai.

Alur Sungai di Hulu Kapuas betul-betul menakjubkan. Pemandangan dari tengah perahu menyajikan rimba tua Kalimantan dengan pepohonan besar disertai pemandangan bukit-bukit di sekelilingnya. Tampak seekor elang berterbangan memantau perjalanan kami.

Satu jam perjalanan, dari tepian sungai tampak kampung dengan berbagai aktivitas masyarakat Dayak. Ada yang mendulang emas menggunakan alat tradisional. Adapula tiga perempuan yang mengendarai perahu kecil melintasi riam-riam. Beberapa bagian sungai terlihat tampak dangkal.

Tiga jam perjalananan, petugas Taman Nasional Betung Kerihun Danau Sentarum Mustar mengintruksikan agar para tim ekspedisi budaya melakukan istirahat sebentar. Tepatnya di sisi kiri hulu Sungai Kareho. Di sana mereka makan siang sambil menikmati panorama nan indah.

Setengah jam berada di sana, tim ekspedisi melanjutkan perjalanannya. Lagi-lagi mata elang memantau perjalanan kami dari ketinggian.

 

Pemandu mewanti-wanti agar semua tim wajib mengenakan live jacket. Sebab ada tiga riam yang arus dan gelombangnya cukup kuat. Yaitu riam lintang, riam horirap dan riam hofuruk.

Teriakan Mustar sang pemandu untuk mengingatkan tim ekspedisi agar tidak banyak bergerak ketika melintas di riam terdengar saat perahu melintas di riam batu lintang. Benar saja, batu besar itu melintang di tengah sungai. Arus begitu deras. Hantaman ombak membentur bagian depan perahu. Saya lihat sang motoris dan juru batu di depan perahu betul-betul jago bekerjasama membuat perahu tetap imbang dan tak menabrak riam. 

Selang 15 menit Riam Horirap telah menanti. Perahu pun berguncang terkena hempasan ombak. Cipratan air mengenai beberapa penumpang. Begitu pula dengan barang bawaan kami. Basah. Tak sampai di situ, lima menit berselang kami dihadapkan dengan Riam Hofuruk. Tak kalah menantang dengan dua riam sebelumnya, batu-batu besar menyebabkan gelombang begitu kuat. Seperti ombak di laut. Namun juru batu kami betul-betul menjadi kompas di perjalanan agar bisa sampai  ke tujuan. Tiga riam itu menjadi awal pembuka perjalanan kami menuju Desa Tanjung Lokang.

Jam di tangan hampir menunjuk pukul lima sore. Perahu kami berada di dua simpang antara Sungai Kapuas dan Sungai Bungan. Untuk menuju ke Tanjung Lokang, mesti melalui rute Sungai Bungan. Kata motoris perjalanan tampak tak bisa dilanjutkan, sebab cuaca di hulu mulai mendung, pertanda hujan akan turun. Beberapa dari kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Namun motoris mengatakan kondisi cuaca tak memungkinkan. Ia tak berani ambil resiko jika perjalanan ini dilanjutkan. 

Setelah berdiskusi akhirnya Tim Ekspedisi Kebudayaan mengambil langkah menghentikan perjalanan. Kami pun memutuskan bermalam di Resort Bungan milik Taman Nasional Betung Kerihun. Besok pagi perjalanan akan kembali dilanjutkan.

Setelah barang bawaan dan perbekalan dinaikkan, benar apa yang dikatakan motoris, seperti cenayang, hujan dari hulu mulai terasa hingga Resort Bungan. Deras.

Tepat di bawah kaki bukit, kami menginap, sambil dalam hati berdoa, berharap esok pagi perjalanan kami ditemani dengan cuaca yang cerah. (bersambung)

 

 
Editor : Indra Zakaria
#putusibau