Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Sekarang Ada Terjemahan Alquran dengan Bahasa Dayak Kanayatn

izak-Indra Zakaria • Minggu, 2 Mei 2021 - 19:39 WIB
TERJEMAHAN QURAN: Jose Andreas Damsyik atau lebih dikenal dengan Muhammad Damanhuri sedang menunjukkan Alquran terjemahan dalam bahasa Dayak Kanayant. ARIEF NUGROHO/PONTIANAK POST
TERJEMAHAN QURAN: Jose Andreas Damsyik atau lebih dikenal dengan Muhammad Damanhuri sedang menunjukkan Alquran terjemahan dalam bahasa Dayak Kanayant. ARIEF NUGROHO/PONTIANAK POST

Terjemahan Alquran yang beredar di negeri kita umumnya menggunakan bahasa Indonesia, namun tidak dengan Alquran yang satu ini. Alquran spesial ini diterjemahkan dengan Bahasa Dayak Kanayatn. 

Arief Nugroho, Pontianak

KETUA Umum Mualaf Kalimantan Barat, sekaligus penerjemah, Muhammad Damanhuri mengatakan, bahasa Dayak Kanayatn dipilih dalam terjemahan ini karena mempertimbangkan kemiripan kata dengan Bahasa Dayak lainnya sehingga lebih mudah dimengerti.

Bahasa Dayak Kanayatn dinilai lebih mudah dipahami oleh suku dayak lainnya. Suku Dayak Kanayatn secara geografis juga tersebar di berbagai daerah di Kalbar. Damanhuri mengatakan, menerjemahkan Alquran dari bahasa Indonesia ke bahasa Dayak Kanayatn merupakan hal yang pertama dilakukan di Indonesia.

“Memang intinya kami menerjemahkan bahasa Dayak supaya teman-teman kami, terutama yang mualaf, bisa memahami isi Alquran,” kata Damanhuri saat ditemui di rumah pembinaan mualaf di Jalan Imam Bonjol, Kelurahan Bansir Laut, Pontianak Tenggara, kemarin.

Pria yang sebelumnya bernama Jose Andreas Damsyik ini menyebutkan, terjemahan Alquran bahasa Kanayatn diharapkan dapat memberikan perubahan positif dalam pengembangan syiar Islam di Kalbar, serta dapat menambah khazanah Islam pada pendekatan budaya dan bahasa. Selain itu, hal ini juga sebagai bentuk pelestarian bahasa Dayak Kanayatn.

Terlebih lagi jika mengingat banyaknya muallaf dari suku Kanayatn yang memerlukan pembinaan dan mempelajari Alquran dalam bahasa Dayak Kanayatn. “Kita berdakwah dengan bahasa ibu, agar khazanah ini berkembang,” lanjutnya.

Menurut Damanhuri, proses sosialisasi serta musyawarah untuk menerjemahkan Alquran tersebut berlangsung selama dua tahun, dan proses menerjemahkan ke bahasa Dayak Kanayatn berlangsung selama enam bulan.

“Prosesnya sangat panjang. Perlu waktu dua tahun lebih. Namun setelah melalui proses musyawarah, akhirnya Pada tahun 2015, di-launching dan dicetak di Kementerian Agama RI,” katanya.

Saat itu, menutut Damanhuri, Alquran tersebut kemudian dicetak 2.000 eksemplar, dibagikan ke beberapa provinsi di Kalimantan.

“Sekarang tinggal ini saja yang kami pegang untuk berdakwah, untuk menyebarkan agama Islam dengan bahasa ibu, bahasa daerah sendiri,” paparnya.

Tak hanya di Indonesia, Alquran dengan terjemahan bahasa Dayak Kanayatn ini juga dikirim ke beberapa negara, seperti Inggris, Canada, China, Brunei Darussalam, Singapura, Swedia, dan Malaysia.

“Jadi memang ada beberapa negara meminta Alquran ini, untuk perbandingan. Ada yang untuk memperbanyak perpustakaan negara, ada juga yang memang betul-betul ingin menambah bahasa,” imbuhnya.

Untuk sementara pihaknya belum mencetak kembali karena keterbatasan dana. Namun jika ada donatur yang ingin menyumbang, Alquran dengan bahasa Dayak Kanayatn ini dapat dicetak kembali.

“Insya Allah kalau ada dana, kami cetak. Kami cuma bisa berharap dari donatur yang akan membantu. Kami akan mencetak (lagi) karena ini kebutuhan, banyak yang minta, dan banyak yang berharap untuk mendapatkan ini. Alquran ini tidak diperjualbelikan,” ujarnya.

Pria yang sehari-hari bekerja sebagai penghulu di Kecamatan Pontianak Tenggara ini menyebutkan, hingga tahun 2021, terdapat 13.446 mualaf di Kalbar. Sebanyak 13.306 orang di antaranya merupakan warga asli Kalbar, dan 140 sisanya berasal dari luar Indonesia, seperti Swedia.

Setelah mengislamkan, Damanhuri juga mengajarkan agama Islam khususnya kepada masyarakat mualaf di pedesaan, dengan menggunakan Alquran terjemahan bahasa Indonesia ke bahasa Dayak Kanayatn.

“Hingga saat ini, rumah ini jadi saksi. Hampir setiap hari atau setiap minggu, selalu ada yang masuk agama Islam. Total per tahun 2020, sudah 13.446 orang. Bulan Ramadan ini saja sudah tujuh orang yang mualaf. Kemudian biasa mereka satu kampung. Jadi kadang satu kampung kita Islamkan,” kata Damanhuri.

Ia sendiri merupakan warga asal Kabupaten Landak, Kalbar. Ia sebelumnya merupakan seorang mualaf. Hingga saat ini Damanhuri gencar berdakwah dan menyebarkan ajaran agama Islam hingga ke pelosok Kalbar.

“Jadi memang banyak latar belakang mereka yang mau masuk Islam. Sampai sekarang, kita tetap istiqomah,” ucapnya. (*)

Editor : izak-Indra Zakaria