Para pekerja proyek pembangunan gedung SMKN 1 Kecamatan Seberuang mengaku jika upahnya belum dibayar oleh pelaksana proyek. Sementara untuk proyek yang berasal dari dana APBD Provinsi Kalbar melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan tersebut sudah selesai dikerjakan.
Proyek itu sendiri diketahui dikerjakan oleh CV. Batulayang Permai pada 2023 lalu. "Jika ditotalkan dengan upah tukang dan material yang diambil oleh pihak perusahaan itu, ada sekitar Rp200 jutaan yang belum dibayar atau dituntaskan kepada kami," kata Danu, kepala tukang perkerjaan pembangunan gedung SMKN 1 Seberuang, Rabu (28/2).
Danu menyampaikan, pihak kontraktor belum membayarkan upah kerja mereka. Alasan yang mereka dapatkan yakni dalam pekerjaan tersebut mengalami kerugian, sehingga para pekerja atau tukang disuruh untuk ikut menanggung kerugian tersebut.
"Kami ada enam – tujuh pekerja yang upahnya belum dibayar. Saya sudah berusaha menghubungi Direktur CV. Batulayang Permai tersebut untuk menuntut hak kami," ujarnya.
Danu meyakini, jika dari Pemerintah Provinsi Kalbar sudah membayar semua pekerjaan tersebut. Hanya saja dirinya menduga dari pihak kontraktor yang tidak menyalurkanya kepada mereka selaku pekerja. "Sudah dua bulan upah kerja dan segala material yang belum dibayar," keluhnya.
Dengan belum dibayarkannya upah tukang ini, dirinya menjadi sasaran dari pekerja yang lain. Pasalnya para pekerja selalu menanyakan upah kerja kepadanya, lantaran dirinya sebagai kepala tukang dalam pekerjaan tersebut.
"Parahnya lagi material yang sudah dibeli ditoko disini, saya harus disuruh bertanggung jawab. Saya minta dari perusahaan dapat bertanggungjawab," ucapnya.
Ditambahkan Jo salah satu tukang dalam pekerjaan tersebut membenarkan, bahwa dirinya dan pekerja yang lain belum mendapatkan upah kerja dari kontraktor. Padahal pekerjaan bangunan sekolah tersebut, diakui dia, sudah selesai cukup lama.
"Kami dapat informasi jika uang hasil pekerjaan tersebut sudah cair, tapi kami hingga hari ini belum menerimanya," ucapnya.
Jo mengatakan bahwa dalam pekerjaan tersebut informasinya mengalami kerugian mencapai Rp200 juta. Sehingga imbasnya pun terkena dengan upah pekerja yang belum dibayar hingga hari ini.
"Sebenarnya kita tidak ada urusan dengan kerugian perusahaan, yang jelas upah pekerja tetap harus dibayar. Kalau untuk kami yang jelas masih ada Rp28 juta lagi yang belum dibayar oleh pelaksana," pungkasnya. (fik)