“Bagi kami memang tidak aneh. Karena wilayah kami memang berbatasan dengan Taman Nasional. Bahkan hampir tiap hari, desa kami menjadi perlintasan orang utan,” kata dia.
Namun demikian, kata Bastarin, kemunculan orang utan tersebut telah membuat resah masyarakat. Orang utan tersebut kerap memakan dan merusak tanam tumbuh warga. “Kebetulan di sebelah kampung kami itu ada kebun warga. Orang utan itu kerap mencari makan di sana. Kadang makan buah kelapa, cempedak, nanas dan buah-buahan lainnya,” katanya.
“Kami berharap pihak BKSDA segera memindahkan satwa ini. Kami khawatir akan terjadi konflik antara warga dengan satwa dilindungi itu,” harapnya. Sementara itu Yayasan Palung, Edi Rahman membenarkan adanya informasi interaksi antara orang utan dengan masyarakat di Desa Riam Bersap Jaya. Menurut Edi, wilayah Desa Riam Berasap berbatasan langsung dengan Taman Nasional Gulung Palung.
Namun, dirinya tidak bisa memastikan apakah orang utan tersebut berasal dari Taman Nasional tersebut. “Memang desa itu berbatasan langsung dengan taman nasional. Tapi belum bisa dipastikan apakah orang utan itu berasal dari sana. Karena selain taman nasional, desa itu juga berbatasan dengan konsesi perkebunan sawit (PT. KAL) dan Kalimantan Mining,” jelasnya.
Edi menyebut, kemunculan orang utan di pemukiman warga disebabkan oleh beberapa kemungkinan. Di antaranya, kurangnya persediaan pakan di habitat aslinya atau karena terjadi konflik antar pejantan.
“Kalau orang utan itu jantan, maka ada kemungkinan dia kehilangan wilayah teritorialnya akibat konflik dengan pejantan lain. Faktor lainnya, karena ketersediaan pakan berkurang,” beber Edi.
Edi menjelaskan, kurangnya ketersediaan pakan ini bisa diakibatkan karena bertambahnya jumlah populasi akibat migrasi satwa, karena kantong habitat sebelumnya telah rusak. Sehingga berdampak pada jumlah persediaan pakan. “Misalnya kasus kemunculan orang utan di Desa Padu Banjar. Ada kemungkinan, satwa itu bermigrasi ke perkebunan masyarakat, karena habitat mereka di rusak oleh perusahaan Mayawana,”bebernya.
Populasi Orangutan Kalimantan
Dikutip dari orangutan.or.id, saat ini populasi orang utan Kalimantan diperkirakan sebesar 57.350 individu. Bandingkan dengan estimasi populasi tahun 1973 sebanyak 288.500, yang berarti penurunan sebanyak 80% dalam waktu kurang dari 50 tahun. Penurunan tajam populasi orang utan Kalimantan ini disebabkan oleh kehilangan habitat hutan. Kebutuhan global yang terus meningkat juga berdampak pada industri agrikultur, pertambangan, dan perkayuan.
Tanpa adanya tempat berlindung, orangutan kini bahkan lebih rentan, menyebabkan konflik dengan manusia yang kerap berakhir dengan pembunuhan ilegal orangutan demi mitigasi, terkadang untuk dikonsumsi. Dan di banyak kesempatan, bayi orangutan ditangkap untuk kepentingan perdagangan satwa eksotis.
Populasi orang utan tersebut tersebar di beberapa habitat. Satu di antaranya di Taman Nasional Gunung Palung. Taman nasional ini diyakini menjadi rumah bagi 2.500 invidu orang utan.
Sementara itu terkait kemunculan orang utan di Desa Riam Berasap Jaya, Kepala Seksi I Ketapang, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat, Birawa, belum bisa dikonfirmasi.
Saat ini pihaknya mengaku masih melakukan pengecekan di lapangan. “Belum bisa konfirmasi, masih kita croscek di lapangan,” katanya singkat. (arf)