Kebakaran beberapa sekolah di Hulu Sungai Tengah (HST) memicu kecurigaan. Tim dari Labfor sudah turun ke HST untuk menemukan penyebab: terbakar atau dibakar?
---
Kabid Pembinaan Sekolah Dasar di Dinas Pendidikan HST Hj Jumratil Kiptiah sudah meminta sekolah-sekolah meningkatkan kewaspadaan mereka terhadap potensi kebakaran.
“Kami juga akan rapat dengan para kepala sekolah. Mengupayakan ada penjaga malam di sekolah-sekolah. Mengingat tidak semua sekolah ada petugas jaga malamnya,” ucap Kiptiah.
Adapun terkait bantuan renovasi gedung sekolah, dinas sementara ini belum memiliki anggaran dana untuk itu. Namun, dia berjanji bakal mencarikan solusi terkait hal itu.
Kepala MAN 1 HST, Tri Djoko Waluyo juga saat ini sedang kewalahan. Padalnya musibah kebakaran yang menimpa MAN 1 HST juga menghanguskan komputer-komputer yang bakal digunakan untuk Ujian Nasional Madrasah Berbasis Komputer (UNMBK).
Dari total 110 unit komputer yang ada, sebanyak 60 unit selamat. Namun, kondisinya cukup mengkhawatirkan karena tersiram air saat upaya pemadaman. Menurut Waluyo, hanya sekitar 30 unit komputer saja yang masih bisa berfungsi baik.
Padahal, jumlah murid yang bakal melaksanakan ujian mencapai 255 orang. Rencananya, saat ujian nanti, mereka akan dibagi dalam 3 sesi. Artinya, dalam sekali sesi, diperlukan sekitar 80 unit komputer agar ujian berjalan lancar.
“Untuk komputer, solusi sementara yakni dengan meminjam perangkat milik siswa,” ucapnya.
Waluyo juga mengakui, beberapa madrasah menawarkan bantuan untuk UNMBK. Namun, dia berharap masih bisa menyelenggarakan UNMBK di sekolah sendiri.
Selain persoalan terbakarnya fasilitas yang mengganggu aktivitas belajar dan rencana ujian, ada hal lain juga membebani MAN 1 HST. Yakni, persiapan menghadapi penilaian Lomba Sekolah Sehat (LSS) tingkat nasional. Pasalnya, MAN 1 HST, akan mewakili Provinsi Kalsel di ajang tersebut.
Tim penilai dari pusat rencananya akan melakukan penilaian pada Mei 2020 nanti.
Saat rapat lintas sektoral belum lama ini, Waluyo menyebut agenda itu sebagai hal yang sangat penting. Di samping membawa nama baik sekolah MAN 1 HST juga membawa nama baik Kabupaten HST, bahkan Provinsi Kalsel.
Maka, tanpa dukungan lintas sektoral yang melibatkan pemkab, Polres, TNI serta instansi lainnya di Kabupaten HST, sekolah tidak akan mampu menjalani penilaian dengan lancar. Terlebih dengan kondisi pasca kebakaran saat ini.
“Melihat kondisi madrasah seperti ini, kami bakal angkat tangan jika tidak dibantu pemerintah kabupaten HST,” ungkap Waluyo.
Terkait rehabilitasi pasca kebakaran, Waluyo menambahkan bahwa MAN 1 HST terkendala status kepemilikan lahan. Saat ini, lahan sekolah masih tercatat sebagai milik Masjid Agung Riyadusshalihin Barabai. Dengan demikian, pembangunan pasca musibah pun harus sesuai prosedur. Pihak sekolah harus lebih dulu meminta hibah lahan dari pihak yang bersangkutan.
“Kalau bantuan, meski lahan pinjam pakai kami harap masih bisa. Pemerintah kabupaten HST, melalui dinas terkait, sudah melihat dan melakukan penghitungan minimal. Kami berharap semoga bisa dibantu,” tambahnya.
Pemkab HST pun berencana akan membantu. Hal itu diungkapkan Sekretaris Daerah HST, H A Tamzil. Hanya saja untuk mengajukan anggaran itu harus sesuai tahapan yang berlaku. Pihaknya pun sudah merencanakan pertemuan untuk membahas hal tersebut.
“Kami akan support. Kalau masalah lahan, asal mereka meminta bantuan hibah, kami masih bisa mengupayakan. Intinya kami bantu,” ungkapnya.
Perlu diketahui, berbagai inovasi dan pembinaan telah MAN 1 HST lakukan agar layak berpartisipasi dalam ajang LSS. Mereka ingin mewakili Provinsi Kalsel dengan maksimal. Hal ini bukan isapan jempol belaka.
MAN 1 HST, sebelumnya bahkan pernah tercatat meraih juara 1 nasional inovasi gizi, saat Hari Peringatan Gizi Nasional ke-60 dengan tema Gizi Optimal untuk Generasi Milenial, beberapa waktu lalu. (war/ran/ema)
Editor : miminradar-Radar Banjarmasin