BANJARBARU - Kasus penularan Covid-19 di Kota Banjarbaru memprihatinkan. Terbaru, seorang Balita berusia 1,6 tahun dinyatakan terpapar virus ini.
Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Banjarbaru, Rizana Mirza mengabarkan balita ini terpapar virus corona karena kasus transmisi lokal. Dia tertular ayahnya yang sudah lebih dulu terpapar positif.
"Untuk kasus BJB-24 yakni perempuan berusia 1,6 tahun ini kami kategorikan penularan level tiga, atau turunan ketiga (transmisi lokal)," terangnya kemarin (27/4) sore.
Saat proses tes swab untuk balita ini, pihaknya melibatkan dokter spesialis anak. Ini adalah prosedur khusus ketika melakukan rapid hingga tes swab terhadap anak-anak.
Sejauh ini kondisi balita itu dalam keadaan baik. "Tidak ada gejala klinis, tapi memang sesuai protokol tetap dirawat di RS rujukan di Banjarmasin."
Penambahan kasus di Banjarbaru sendiri cukup konstan. Rata-rata kasus baru adalah penularan antar keluarga. Kasus lainnya adalah BJB-25, seorang perempuan berusia 32 tahun. Ia tertular virus ini karena memang tinggal satu rumah dengan saudara perempuannya yang telah lebih dulu mengidap Covid-19.
Tambahan dua kasus transmisi lokal ini terang Mirza berkaitan erat dengan kasus positif BJB-14 dan BJB-15 beberapa waktu sebelumnya. Yang mana, BJB-15 diketahui berstatus istri dari BJB-04 dan ibu dari BJB-24 (Balita 1,6 tahun). Sedangkan BJB-14 merupakan nenek dari BJB-04. "Semuanya tinggal satu rumah,"lanjut Mirza.
Kasus transmisi lokal yang melibatkan satu keluarga ini berdomisili di Kelurahan Guntung Manggis Kecamatan Landasan Ulin Banjarbaru. Namun untuk alamat lengkap saat ini tidak diberitahukan.
Sejauh ini, sebaran Covid-19 di Kota Banjarbaru naik menjadi 25 orang dan tersebar di seluruh Kecamatan. Adapun, kelurahan paling terdampak adalah Kelurahan Guntung Landasan Ulin dengan total kasus Covid-19 sebanyak 7 orang.
Sementara itu, kurva kasus Covid-19 di Kalsel masih terus menanjak. Hingga kemarin, jumlahnya mencapai 150 kasus atau mengalami peningkatan 4 kasus jika dibandingkan Ahad (26/4) tadi.
Tim gugus tugas Covid-19 Kalsel mengklaim mereka sudah berusaha untuk menekan angka kasus. Namun, sepertinya memang perlu tindakan yang lebih banyak. pasalnya tiap hari angkanya semakin bertambah. Dari 13 kabupaten kota di Kalsel, hingga saat ini hanya Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) yang nol kasus terkonfirmasi positif.
Berbeda dengan daerah lain, setiap hari ada saja yang mengalami kenaikan. Contohnya, Banjarmasin. Meski sejak 24 April lalu sudah diterapkam pembatasan sosial berskala besar (PSBB), namun dari data kemarin, kasus baru masih muncul. Kini ada 45 kasus positif Covid-19 di Banjarmasin.
Begitu pula angka orang dalam pengawasan (ODP), jika di hari sebelumnya sebanyak 547, sampai kemarin jumlahnya mencapai 563. Penambahan kasus positif yang terus terjadi juga berasal dari Kota Banjarbaru. Kasus terkonfirmasi positif yang sebelumnya hanya 23 orang, hingga kemarin menjadi 25 orang.
Juru bicara gugus tugas Covid-19 Kalsel Muslim mengatakan, upaya pemprov dalam melakukan pencegahan penularan terus dilakukan. Seperti menggencarkan perilaku hidup sehat dan memasifkan penggunaan masker, termasuk yang lebih penting melakukan upaya telusur melalui tracking dan mitigasi terhadap klaster tertentu. “Termasuk melakukan karantina khusus untuk memutus mata rantai penularan,” ujar Muslim.
Evaluasi bisa dilakukan setelah dilakukan indentifikasi terhadap penelusuran kontak kasus, termasuk terhadap klaster tertentu. “Sehingga ketika dilakukan idetifikasi dan deteksi, bisa diprediksi puncak kasus ini dan penurunan kasus. Indikatornya juga sejauh mana ketaatan masyarakat dalam mentaati aturan,” sebutnya.
Di sisi lain, kabar baik datang dari gugus tugas Covid-19 Kalsel, satu pasien positif Covid-19 asal Banjarmasin yang melakukan isolasi mandiri dinyatakan sembuh kemarin. Dengan demikian, hingga kemarin, jumlah yang dinyatakan sembuh sudah sebanyak 16 orang. “Alhamdulillah ada penambahan pasien sembuh, yang dinyatakan negatif Covid-19 usai menjalani serangkaian tes PCR,” terang Muslim.
___
Akhir Wabah Masih Belum Pasti
Epidemiologist dari Fakultas Kesehatan Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Prof Husaini belum bisa memprediksi yang pasti kapan pandemi Covid-19 di Kalsel akan berakhir.
"Ada sejumlah faktor penyebab penyebaran virus corona yang sampai saat ini belum bisa diatasi," katanya menguraikan penyebabnya.
Dia mengungkapkan, setidaknya ada enam faktor penyebab yang harus bisa diatasi untuk bisa menekan kasus Covid-19 di Kalsel. "Kalau faktor-faktor ini tidak segera diatasi maka pandemi virus corona akan semakin lama," ungkapnya.
Pria yang juga menjabat sebagai Ketua Program Studi S2 Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran ULM ini menuturkan, faktor-faktor yang membuat pandemi sulit diatasi diantaranya, masih rendahnya cakupan tes yang dilakukan dalam skala massif. Lalu, belum ditemukannya obat dan vaksin Covid-19. Kemudian, penerapan social distancing yang masih rendah.
Lanjutnya, faktor lainnya adalah masih banyaknya masyarakat yang kurang paham tentang pandemi Covid-19, termasuk cara pencegahannya. Selain itu, banyaknya masyarakat yang menerima informasi tentang virus corona yang bias.
"Di samping itu, tindakan preventif dari pemerintah hanya berupa imbauan, sehingga tidak efektif dalam memutus mata rantai penularan penyakit corona," beber Husaini.
___
Rapid Test Sudah Dibagi
SEMENTARA ITU, Ketua Harian Gugus Tugas Pencegahan Pengendalian dan Penanganan (P3) Covid-19 Kalsel Abdul Haris memastikan semua alat rapid test sudah dibagi ke semua daerah. Ia menjamin ketersediaan alat rapid test masih mencukupi bagi pemerintah kabupaten/kota yang ingin meminta tambahan.
“Tapi syaratnya harus melaporkan berapa yang sudah terpakai dan berapa kebutuhan tambahannya. Ini penting, karena kami perlu laporan sebagai bentuk akuntabilitas pertanggungjawaban penggunaan rapid test,” ujar Sekdaprov Kalsel ini.
Haris juga membantah adanya anggapan bahwa alat rapid test banyak yang mengendap di Pemprov Kalsel. Menurutnya, Gugus Tugas Covid-19 Pemprov Kalsel memastikan distribusi alat rapid test benar-benar tepat sasaran dan sesuai kebutuhan.
Karena itu, ia menjamin bahwa setiap daerah yang ingin meminta tambahan alat rapid test akan dipenuhi selama dilengkapi laporan. “Alat rapid test yang didistribusikan ke daerah harus dilengkapi dengan laporan data penggunaan. Karena ini untuk keperluan pendataan dan juga akuntabilitas pertanggungjawaban penggunaan,” jelasnya.
Dijelaskan Haris, dari 7.200 rapid test yang diterima Pemprov Kalsel, sebanyak 5.200 telah didisitribusikan ke semua daerah. “Saat ini rapid tes yang tersisa 2.526. Kami sudah menyerahkan 5.200 rapid test ke semua daerah hingga sampai tanggal 23 April lalu,” ujarnya.
Haris mempersilakan bagi pemerintah kabupaten/kota yang ingin membeli alat rapid test secara mandiri. Menurutnya, kebutuhan setiap daerah tentu berbeda. “Itu kebijakan masing-masing daerah. Silakan kalau ingin membeli sendiri sesuai keperluan. Tapi yang pasti dari Gugus Tugas Pemprov Kalsel telah mendistribusikan ke semua daerah,” tegasnya.
Sebelumnya beberapa daerah mengaku membeli sendiri rapid test kit karena masih terkendala kecukupan alat uji cepat itu. Beberapa diantaranya adalah Banjarmasin, HSS dan Kotabaru. (ris/mof/ran/ema)
Editor : miminradar-Radar Banjarmasin