Advertorial Balikpapan Bisnis Bola Daerah Bola Dunia Hiburan Hoax IKN Internasional Kesehatan Kriminal Lifestyle Nasional Pemerintahan Politik Pro Kalimantan Prokal Balikpapan Prokal Berau Prokal Kaltara Prokal Kaltim Prokal News Ramadan Samarinda Sport Teknologi

Transformasi Kayutangi Banjarmasin Dulu dan Sekarang: Dulu Pusat Mejeng Anak Muda, Sekarang Tempat Nongkrong Mahasiswa

Sutrisno • 2024-03-13 16:45:00
BERKEMBANG: Komplek Kayutangi menjadi cikal bakal berkembangnya kawasan Jalan Hasan Basry. (Foto: Maulana)
BERKEMBANG: Komplek Kayutangi menjadi cikal bakal berkembangnya kawasan Jalan Hasan Basry. (Foto: Maulana)

 

Bagaimanakah suasana Komplek Kayutangi di awal berdirinya perumahan ini? Mari menengok nostalgia masa lalu dengan mengungkap kenangan yang masih tersimpan apik dari bocah penghuni perumahan Kayungati di era tahun 80-an. 

 

Maulana Firdaus, Banjarmasin

 

Kayutangi dulunya masih banyak dikelilingi sungai kecil, rawa, pepohonan kelapa, dan kawasan persawahan. Itulah gambaran masa lalu yang masih membekas dalam ingatan Toto Fachrudin, salah satu bocah era 80-an yang menjadi penghuni pertama perumahan Kayutangi di jalur 2 RT 16.

“Saya masih ingat betul dulu sering mandi dan berenang di sungai kecil yang ada di bawah jembatan masuk ke Komplek Kayutangi. Dulu bangunan di sampingnya itu Departemen Penerangan." 

"Di sepanjang itu ada selokan kecil dengan air yang jernih. Kadang saya bisa mandi di sana dengan teman,” ujar Toto menceritakan kenangannya saat masih duduk di sekolah dasar. Tak hanya aliran sungai dan anak sungai, kawasan Kayutangi dan sekitarnya juga masih dikelilngi rawa dan pepohonan kelapa serta persawahan.

Seperti Jalan Adhyaksa dan Sultan Adam yang dulunya merupakan kawasan persawahan. Dalam ingatannya masih terekam jelas saat ia mencari kelapa yang jatuh untuk dimakan beramai-ramai.

“Dulu saya suka sekali memancing di persawahan di kawasan Adhyaksa. Dulu bersama teman kami sering mencari buah kelapa. Saat ini masih banyak monyetnya. Ikannya juga masih banyak. Saat itu kawasan Perumnas baru dibangun,” ceritanya.

Ada kenangan yang paling membekas dalam ingatannya. Saat musim kemarau, setiap malam warga begadang bersama untuk menunggu aliran air dari PDAM.

“Jadi waktu itu para orang tua begadang menanti air PDAM mengalir saat tengah malam. Setiap rumah bergiliran dijatah agar semua bisa kebagian air bersih untuk memasak. Kalau untuk mandi saya diajak Abah ke sungai di bawah jembatan yang ada di depan Kantor Kejaksaan,” katanya.

Namanya juga anak kecil, ada mitos yang dipercaya saat ia masih kecil. Setiap pulang sekolah Toto bersama temannya langsung berlari kencang bila melihat pencari rumput yang membawa gerobak.

Di masanya dulu, kawasan Kayutangi juga banyak dipenuhi mahasiswa yang kos dari berbagai daerah. Kebanyakan dari mereka berasal dari Kalimantan Tengah dan hulu sungai. “Mahasiswa dulu berbaur dengan warga, bahkan banyak dari mereka yang jadi pengurus musala atau masjid dan aktif dalam kegiatan keagamaan,” cerita Toto.

Seiring waktu dan zaman, transformasi kawasan Kayutangi menjadi cermin dari perubahan sosial dan lingkungan.

“Satu hal dari dulu sampai sekarang yang masih menjadi ciri Kayutangi adalah menjadi pusat berkumpulnya remaja Banjarmasin. Kalau dulu tahun 80 hingga 90 mejengnya di pinggir jalan, kini nongkrong di kafe atau tempat makan,” tutupnya. (*)

 
 
Editor : Indra Zakaria