Advertorial Balikpapan Bisnis Bola Daerah Bola Dunia Hiburan Hoax IKN Internasional Kesehatan Kriminal Lifestyle Nasional Pemerintahan Politik Pro Kalimantan Prokal Balikpapan Prokal Berau Prokal Kaltara Prokal Kaltim Prokal News Ramadan Samarinda Sport Teknologi

Nasib Tragis Destinasi Wisata Kampung Ketupat: Belum Setahun Sudah Tutup

Wahyu Ramadhan • 2024-05-08 15:20:00
TERSINGKAP: Atap ampiteater yang rusak tersingkap (Foto: Wahyu Ramadhan/Radar Banjarmasin)
TERSINGKAP: Atap ampiteater yang rusak tersingkap (Foto: Wahyu Ramadhan/Radar Banjarmasin)

Kampung Ketupat, objek wisata di Sungai Baru tidak lagi beroperasi. Investasi miliaran rupiah itu dikabarkan merugi lantaran sepi pengunjung.

***
TIDAK ada siapa-siapa di area Kampung Ketupat di Sungai Baru, Banjarmasin Tengah itu. Di loket 1 tempat pembelian tiket masuk memang tertulis "BUKA", tapi tidak ada penjaganya.

Kios-kios makanan dan minuman juga tutup. Dedaunan kering berhamburan. Seperti lama tak disapu. 

Di sudut lain, sebuah gazebo tampak miring. Lantainya berdebu dengan sampah plastik berserakan. Serupa dengan kondisi ampiteater yang dibangun menyatu dengan replika ketupat raksasa.

Lantai dan bangku di dalam ampiteater itu diselimuti debu. Beberapa ornamen bangunan juga rusak. Di beberapa sudut, atapnya tersingkap. 

Beralih ke zona bermain. Rumput liar dibiarkan tumbuh tinggi. Gulma memenuhi kolam. Menguatkan kesan tidak terawat.

Dari informasi yang dihimpun Radar Banjarmasin, destinasi wisata yang dibuka pada medio 2023 itu memang sudah ditutup.

"Saya dengar cerita pembangun dan pengelolanya merugi," kata salah seorang warga Sungai Baru, Senin (6/5).

"Setahu saya, aliran listrik dan air leding juga sudah diputus," ungkapnya tanpa menyebutkan nama. 

Penyebabnya, sepinya jumlah pengunjung. "Siapa yang mau datang? Sudah bayar parkir, bayar tiket masuk pula," ujarnya.

Ditanya sejak kapan, ia mengatakan sebelum bulan Ramadan kemarin. "Sebelum bulan puasa sudah tutup," ujarnya.

Senada dengan Asmiah, salah satu perajin ketupat. "Iya, kabarnya sudah tidak beroperasi. Seingat saya, sebelum Ramadan sudah tidak buka," ujarnya.

Asmiah sudah melihat tanda-tandanya. "Terdengar kabar gaji petugas kebersihan tidak dibayar selama dua bulan.

Belum lagi pengunjungnya sepi," ujarnya. Soal pengunjung sepi ini dibenarkan Kartinah. Dia mantan pedagang makanan di situ.

Seingatnya, pengunjung hanya ramai setelah pembukaan dan pada momen tertentu, misalnya tahun baru. 

"Apalagi saat awal dibuka. Wah, ramai sekali," ujarnya. Namun sesudah itu sepi.

Saking sepinya, Kartinah memilih berhenti berjualan di situ. "Bulan Januari tadi saya mengundurkan diri," ujarnya.

Ada belasan pedagang yang menghadapi kondisi serupa. "Berjualan angin-anginan. Kadang berdagang kadang tidak.

Karena sepi," keluhnya. Ditanya kenapa sepi, Kartinah mengaku tak memiliki jawabannya.

"Padahal harga tiket masuk sudah diturunkan berkali-kali. Sampai cuma Rp5 ribu per orang," ungkapnya.

Maka ketika lampu-lampu di sana tidak lagi menyala, Kartinah hanya setengah terkejut. "Setahu saya, manajemennya pun sempat gonta ganti," ungkapnya. 

Selama masih berdagang, Kartinah mengaku membayar Rp300 ribu per bulan untuk tagihan listrik dan leding. "Ditambah menebus alat transaksi pembayaran yang ada struknya itu seharga Rp1 juta," bebernya. 

"Kami juga diminta membayar pajak 10 persen untuk setiap pembelian makanan. Boleh disetor per hari atau per bulan," tutupnya.

Destinasi wisata baru itu merupakan program revitalisasi kawasan Kampung Ketupat. Tujuannya, menghidupkan kembali lahan yang sudah lama tak terjamah.

Dari lahan seluas 7 ribu meter persegi, investor menggarap lahan seluas 800 meter. Mulai dibangun pada Agustus 2022, rampung dan mulai dibuka pada pertengahan 2023.

Masa kerja sama antara PT Juru Supervisi Indonesia dan Pemko Banjarmasin berlaku selama 15 tahun. Nilai investasinya mencapai Rp6 miliar.

Pemko mendapat keuntungan dari sewa lahan yang disetorkan investor. Ditaksir sebesar Rp100 juta per tahun. Dalam perjalanannya, PT Juru menyulap kawasan itu menjadi food court dan panggung kesenian.

Radar Banjarmasin menghubungi Head of Business Development PT Juru Supervisi Indonesia, M Wahyu B Ramadhan. Namun, hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan. Nomor ponsel Wahyu juga tidak aktif.

Sementara di akun Instagram @kampungketupat.bdj, unggahan terakhir tertanggal 11 Maret 2024. Menampilkan iklan bazar Ramadan.

Dikonfirmasi, Sekdako Banjarmasin, Ikhsan Budiman mengaku belum menerima laporan penutupan destinasi wisata itu. "Belum menerima laporan dari pengelolanya," ujarnya, kemarin malam.

"Uang sewa sudah lebih dulu dibayarkan. Sepanjang kewajiban dipenuhi pengelola, pemko tidak dirugikan," sambung Ikhsan. (*)

Editor : Indra Zakaria
#Kampung Ketupat