Advertorial Balikpapan Bisnis Bola Daerah Bola Dunia Hiburan Hoax IKN Internasional Kesehatan Kriminal Lifestyle Nasional Pemerintahan Politik Pro Kalimantan Prokal Balikpapan Prokal Berau Prokal Kaltara Prokal Kaltim Prokal News Ramadan Samarinda Sport Teknologi

Tahulah Pian, Asal Nama Lampihong Ternyata Dari Benda Buatan Cina Ini

M Dirga • 2024-06-02 13:00:00
TUGU: Gula habang ikon kebanggaan warga Lampihong, Balangan.
TUGU: Gula habang ikon kebanggaan warga Lampihong, Balangan.

Prokal.co -  Tahulah pian, Lampihong merupakan satu dari delapan kecamatan yang ada di Kabupaten Balangan.

Pada zaman kolonial, wilayah Lampihong yang disebut dengan nama Banua Lampihong, bersama Banua Tanah Habang dan Banua Kusambi, masuk dalam Distrik Balangan. 

Distrik Balangan adalah bekas distrik (kawedanan) yang merupakan bagian dari wilayah administratif Onderafdeeling Alabio.

Diyakini jika di masa silam wilayah Lampihong, khususnya yang kini masuk wilayah Desa Desa Simpang Tiga, Lampihong Kiri, Lampihong Kanan dan Hilir Pasar menjadi wilayah sentra ekonomi, dan tempat tinggal para saudagar karet pada masa lalu.

Lampihong sebagai sentra aktivitas ekonomi tidak terlepas dari faktor geografisnya. Keberadaan Sungai Batang Balangan merupakan penghubung dengan wilayah Amuntai. Sedangkan jalur darat Paringin tumbuh menjadi perlintasan yang menghubungkan Barabai dengan Tanjung.

Sebagai sentra ekonomi, wilayah Lampihong selain ditempati komunitas pribumi, juga ditempati oleh komunitas Belanda, Cina dan India.

Bahkan komunitas Cina bermukim hingga pascakemerdekaan. Pada dekade 1960-an masih ada pertokoan milik warga etnis Cina tersebut.

Pamong Sejarah dan Budaya Disdikbud Balangan, Halianur menuturkan asal usul nama Lampihong sendiri diyakini berasal dari logat (aksen/dialek) bahasa Cina yakni Lam-pi-hong.

Tapi ada juga yang menceritakan jika nama Lampihong ini berasal dari kata lampion. Lampu hias khas etnis Cina itu banyak dipasang orang Cina yang bermukim di daerah tersebut.

"Secara budaya, keberadaan lampu lampion ini tidak terpisahkan dari warga etnis Cina," ucapnya, Selasa (28/5) sore.

Lampion menjadi semacam atribut budaya yang menandai peralihan tahun dalam penanggalan Tionghoa. Kata lampion dalam bahasa Mandarin disebut denglong, yang bermakna "menerangi".

Warna merah pada lampion melambangkan kemakmuran, kesatuan, dan rezeki. Karenanya masyarakat Tionghoa percaya bahwa lampion memberi jalan dan menerangi rezeki penggunanya.

Itu sebabnya lampion selalu ada, terutama pada perayaan-perayaan besar, seperti tahun baru Imlek.

Dengan pemasangan lampion ini bagi orang Cina yang beragama Konghucu berharap selalu mendapat keberhasilan di tahun-tahun mendatang.

Selain bangunan rumah kuno, keberadaan Lampihong sebagai kawasan pusat ekonomi juga bisa ditelusuri lewat sisa-sisa kejayaan perdagangan karet tempo dulu. Salah satunya, adanya bekas dermaga atau disebut boom.

"Lokasi dermaga/boom ini tidak jauh dari Jembatan Besi (jembatan buatan Belanda, red), tepatnya arah ke hilir sungai Balangan," lanjut Halianur.

Bukti lain jika dahulunya Lampihong dihuni oleh komunitas Cina adalah masih eksisnya kesenian sisingaan di Kecamatan Lampihong.

Basisingaan atau sisingaan ini dulunya disebut orang dengan banaga-nagaan merupakan penampilan memainkan ornamen binatang berupa singa yang diiringi musik.

Kesenian ini sama seperti kesenian barongsai pada etnis Cina, hanya berbeda pada ornamen binatang yang dimainkan.

Basisingaan ini diyakini sebagai sebuah akulturasi kebudayaan penduduk lokal dengan penduduk Cina, sebab baik naga atau pun singa sama-sama menjadi binatang yang disakralkan oleh komunitas Cina.(*)

Editor : Indra Zakaria