Diresmikan pada April 2018, kini tempat tinggal di kawasan Rumah Disabilitas milik Pemko Banjarbaru seluruhnya sudah dihuni oleh para penyandang tunanetra. Bagaimanakah nasib mereka, setelah beberapa bulan tinggal di sana?
SUTRISNO, Banjarbaru
Kemarin pagi, Radar Banjarmasin mendatangi kompleks di Jalan Trikora, Kelurahan Guntung Manggis, Kecamatan Landasan Ulin itu. Di situ ada 14 buah rumah yang dibangun dari sumbangan para ASN Banjarbaru dan sejumlah BUMN.
Semuanya sudah terisi oleh penyandang disabilitas tuna netra yang berprofesi sebagai terapis pijat.
Tampak sejumlah penghuninya sedang duduk-dukuk di teras rumah mereka masing-masing. Seperti halnya, Santuso, 39. Dia terlihat bersenda gurau dengan istri dan putrinya sambil makan cemilan di teras tempat tinggalnya.
Sesekali mereka tampak tertawa lepas. Saat wartawan koran ini menghampiri, mereka menyambutnya dengan ramah. "Oh wartawan, sini duduk Mas," kata Santuso.
Dia mengaku tinggal di Rumah Disabilitas sejak enam bulan yang lalu. Sebelumnya, mereka bermukim di Jalan Sapta Marga, Kelurahan Guntung Payung.
"Habis Hari Raya Idul Fitri tahun lalu kami langsung pindah ke sini," ujarnya.
Ditanya, bagaimana kehidupan mereka selama tinggal di Rumah Disabilitas. Bapak satu anak ini menyebut bahwa mereka masih perlu beradaptasi untuk tinggal di sana.
"Ada beberapa perbedaan di tempat lama dengan di sini. Jadi, kami perlu beradaptasi," ujarnya.
Salah satu perbedaan yang mendasar ialah belum ramainya pasien pijat yang datang. Beda dengan di tempat yang lama, usaha pijat mereka laris manis.
"Di tempat lama dalam sebulan kami bisa mendapatkan uang sampai Rp1,5 juta. Kalau di sini Rp500 ribu saja sangat sulit," ungkap Santuso.
Meski pendapatan tak seberapa, dia mengaku bersyukur karena tidak lagi memikirkan bayar kontrakan. Sebab, mereka tinggal di Rumah Disabilitas secara gratis.
"Listrik dan air juga gratis. Kalau di tempat lama, walaupun banyak dapat uang tapi semua bayar sendiri. Kalau ditotal, bayar kontrakan, listrik dan air per bulannya mencapai Rp700 ribu," paparnya.
Selain pasien pijat yang masih sepi, istri Santuso: Fitri, 35, mengungkapkan bahwa selama tinggal di Rumah Disabilitas mereka kesulitan mencari gas elpiji.
"Di dekat sini tidak ada yang menjual gas. Jadi, kami harus mencari ke tempat lain," ungkapnya.
Dia menuturkan, karena keterbatasan penglihatan untuk mencari gas mereka harus diantar oleh tukang ojek langganan.
"Ketika dapat, ternyata harganya mahal. Bisa sampai Rp40 ribu. Belum lagi kami harus bayar ojek Rp20 ribu," tuturnya.
Untungnya, putri mereka yang kini bersekolah di SDN Guntung Payung mendapatkan fasilitas antar jemput gratis dari angkutan pelajar. Kalau tidak, pengeluaran mereka bisa semakin membengkak.
"Kalau makan, saya masak sendiri. Bahan-bahannya ada tukang sayur yang berjualan ke sini," ujar Fitri.
Sama seperti mereka, Syaifuddin, 48, penyandang tunanetra lain yang tinggal di kompleks tidak jauh dari RSD Idaman itu juga mengaku masih perlu beradaptasi.
"Sama seperti yang lain. Usaha pijat di sini sepi. Sementara untuk kerja lain, kita punya keterbatasan," ungkapnya.
Yang membuat dirinya bersama istri betah di sana ialah lantaran tak memikirkan biaya kontrakan rumah.
"Kalau tinggal di Kompleks Bumi Cahaya Bintang dulu, kami mengontrak Rp250 ribu per bulan," ucapnya.
Walaupun rumah mengontrak, di tempat tinggalnya yang lama sebenarnya hidup mereka berkecukupan. Sebab, di sana dirinya menjadi penjaga Langgar dengan gaji Rp1,2 juta perbulan.
"Kalau di sini, saya cuma bisa mengandalkan usaha pijat yang belum menentu jumlah pasiennya," pungkasnya. (ris/by/bin)
Editor : aqsha-Aqsha Radar Banjarmasin