BANJARBARU - Kabar tidak sedap menyelimuti Pondok Pesantren Yasin, Guntung Manggis, Banjarbaru. Mereka disebut membawa rambut Rasulullah palsu untuk mengambil berkah atau tabaruk.
Rambut itu sendiri dinilai palsu setelah Imam Daerah FPI Kalsel Habib Zakaria Bahasyim baru-baru tadi mengecek keasliannya, dengan cara dibakar.
Ternyata rambut tersebut tidak tahan api. Foto-foto pengujian itu sendiri tersebar di sejumlah media sosial.
Saat dikonfirmasi, juru bicara Ponpes Yasin Ustaz Fahrian didampingi pengajar ponpes Ustaz Abdul Hakim dan Ustaz Muhammad Imran membenarkan jika pekan lalu rombongan FPI Kalsel datang untuk menguji keaslian rambut itu dengan cara dibakar.
"Memang saat dibakar, rambut itu hangus. Namun, belum bisa dikatakan palsu atau tidak. Sebab, hingga kini belum ada kesepakatan dari para ulama bahwa bukti rambut Rasulullah asli ialah tahan api," katanya, kemarin.
Meski begitu, dia mengungkapkan bahwa Pemimpin Pondok Pesantren Yasin KH Ahmad Fahmi Zamzam memilih untuk mengembalikan rambut tersebut ke pemiliknya. Guna menghindari fitnah, serta pro dan kontra.
"Abuya (pimpinan ponpes) dapat rambut itu dari ulama Brunei Darussalam. Sekarang rambutnya diantar beliau sendiri ke sana," ungkapnya.
Selain rambut, Pemimpin Ponpes Yasin KH Ahmad Fahmi Zamzam juga membawa serta darah bekam yang disebut milik Rasulullah menuju Brunei Darussalam.
"Beliau mendapatkannya sepaket. Rambut dan darah bekam. Jadi dikembalikan keduanya, walaupun darah bekam tidak pernah diuji keasliannya. Sekarang beliau masih di perjalanan," tambah Ustaz Muhammad Imran saat turut menjelaskan tentang pro dan kontra rambut Rasulullah.
Lanjutnya, rambut dan darah bekam yang disebut milik Rasulullah itu sendiri didatangkan dari Berunei Darussalam pada Agustus 2018.
Kemudian diperkenalkan dan dibuka untuk umum Desember 2018, dalam acara pengajian akbar.
"Usai pengajian akbar. Tabaruk atau pengambilan berkah selalu kami buka setiap Jumat untuk laki-laki dan Senin bagi perempuan," ucapnya.
Dalam acara tabaruk dengan melafazkan salawat 300 kali tersebut, dia menyebut selalu dihadiri ratusan jemaah.
"Kalau hari Jumat, jemaah yang datang di atas 500 orang. Sedangkan Senin, sekitar 100 orang," ungkapnya.
Kegiatan tabaruk sendiri tidak dipungut biaya, sebab pihak ponpes hanya meminta imbalan salawat.
"Kalau ada yang bilang kami meminta imbalan uang, itu tidak benar," timpal Ustaz Abdul Hakim.
Namun, kegiatan itu tidak ada lagi. Lantaran, rambut dan bekam darah yang disebut milik Rasulullah telah dikembalikan.
"Diharapkan setelah ini, selesai sudah permasalahannya. Tidak ada lagi pro dan kontra terkait rambut Rasulullah," harap Ustaz Muhammad Imran.
Lebih lanjut dia menyampaikan, pada 2017 Ponpes Yasin juga pernah membuka acara tabaruk dengan menghadirkan rambut Rasulullah. Namun, dengan rambut yang berbeda.
"Saat itu, rambut yang kami bawa dari Singapura. Silsilahnya pun sampai ke Turki. Tapi hanya empat hari berada di sini," pungkasnya. (ris/ay/ran)
Editor : aqsha-Aqsha Radar Banjarmasin