BANJARMASIN – Perhelatan politik lima tahunan selesai sudah. Dua rivalitas kontestan pemilihan presiden juga sudah akur. Presiden terpilih Joko Widodo pun tinggal menunggu pelantikannya. Namun, atmosfir politik daerah tak serta merta ikutan adem. Setidaknya hangatnya aroma dan nuansa kontestasi politik di tingkat elit parpol dan politisi Banua sudah masih terasa.
Menghadapi tahapan pelaksanaan pemilihan kepala daerah serentak 2020 yang sudah dimulai September 2019 nanti, beberapa parpol dan politisi mulai melakukan komunikasi politik yang intens. Beberapa parpol bahkan secara terbuka dan terang-terangan sudah menyatakan akan mengusung calon dari kadernya sendiri.
Seperti Pilawali Banjarmasin yang atmosfernya sudah mulai hangat. Seseru apakah laganya nanti?
Analisanya bisa dilihat dari perolehan kursi di DPRD Kota Banjarmasin yang didominasi Partai Amanat Nasional (PAN). Mereka mengamankan 9 kursi sekaligus. Disusul Golkar dan Gerindra, yang sama dapat 6 kursi. Kemudian PDIP, PKB, PKS serta Demokrat. Keempatnya masing-masing meraih 5 kursi.
Sedangkan tiga partai lainnya hanya membuntut. PPP cuma 2 kursi, sementara Nasdem dan PBB nyaris tergilas dengan 1 kursi.
Tak heran jika PAN jauh-jauh hari penuh percaya diri mengungkap nama kandidat bakal calon yang akan diusung, yaitu Karmila, putri sulung Wali Kota Muhidin. "Saat ini kami fokus mempersiapkan kader sendiri," kata Ketua DPC PAN Banjarmasin, Harry Wijaya. Mereka masih kukuh untuk mengusung pasangan sendiri. Tak mau ada yang lain.
Tapi tunggu dulu. Golkar jelas tak mau ketinggalan. Ada Ketua DPRD Banjarmasin, Ananda dan bos Barito Putera, Hasnuryadi Sulaiman. Kedua figur ini menjadi kandidat terkuat yang diusung partai berlambang pohon beringin itu.
"Lima tahun lalu, kami tidak ambil bagian. 2020 nanti, nggak mau ketinggalan lagi. Sebagai wali kota, wakilnya," ucap Ketua DPC Golkar Banjarmasin, Ananda. Pada pileg lima tahun lalu, Golkar menguasai gedung dewan. Mereka kokoh dengan delapan kursi.
Nyaris 20 persen dari total 45 kursi yang tersedia. Tapi sayang, partai ini tak ambil bagian dalam Pilwali. Itu masa lalu. Sekarang tak lagi sama. Golkar pengin ikut kontestasi. Namun mereka tahu diri.
Butuh teman untuk bisa mengusung kandidat. Jika PAN ngotot sendiri, artinya pilihan koalisi tinggal pada PDIP, Gerindra, PKS, PKB dan Demokrat.
Apalagi, beberapa partai sudah punya kandidat. Seperti PDIP yang punya tiga nama. Wakil Ketua DPRD Kalsel, Muhaimin; Ketua KNPI Kalsel, Fazlur Rahman dan petahana Wakil Wali Kota Banjarmasin, Hermansyah.
Dari Gerindra, ada Ketua DPC Muhammad Yamin yang juga anggota DPRD Banjarmasin. Sementara PKS, punya Ibnu Sina. Sebagai petahana yang masih punya kans besar untuk melanjutkan periodenya.
Beberapa partai sudah memberi sinyal keterbukaan itu. Sebut saja PDIP. Apalagi mereka tak ngotot untuk mengusung calon sebagai wali kota. "Bagaimanapun kami juga harus berkoalisi. Yang penting satu visi dan misi untuk kemajuan kota ini," kata Ketua DPC PDIP Banjarmasin, Muhaimin.
Sinyal kuat koalisi antara Golkar dan PDIP ditunjukkan kedua partai ini di tingkat provinsi. Ketua DPD PDIP Kalsel, Mardani H Maming sudah menyatakan dukungannya kepada Gubernur Kalsel, Sahbirin Noor. Yang juga merupakan Ketua DPD Golkar Kalsel.
Apakah juga akan terjadi di Banjarmasin? Belum ada garansi pasti. "Bisa sama dengan partai mana saja. Sesuai dengan arahan DPP dan DPD," ucapnya.
Peluang koalisi juga bisa terjadi antara Gerindra dan PKS. Beberapa waktu lalu, Ketua DPC Gerindra Banjarmasin, M Yamin menyebut, ia tak terlampau ambisius dalam Pilwali. Cukup sebagai wakil saja tak masalah.
"Yang penting kan semua diawali dengan niat membangun Banjarmasin. Demi kebaikan masyarakat juga," katanya. Soal koalisi partainya ingin tetap solid dengan teman lama. Namun, mereka juga tak menutup diri untuk parpol lainnya. "Intinya, kami berteman dengan semua partai di Banjarmasin," ungkapnya.
Di sisi lain, sejauh ini PKS sendiri masih membangun komunikasi. Bersama parpol lain termasuk dengan Gerindra. "Kami masih membicarakan soal koalisi," kata Sekretaris DPW PKS Kalsel, Awan Subahkah beberpa waktu lalu.
--
Tak kalah seru adalah kontestasi Pilwali Kota Banjarbaru. Saat ini dua kandidat bakal calon dipastikan akan maju. Yakni duet petahana Nadjmi-Jaya serta sang penantang Aditya-Iwansyah.
Baik kubu Nadjmi-Jaya maupun Aditya-Iwansyah telah secara terang-terangan menyatakan bakal maju. Bahkan, Aditya-Iwansyah telah melakukan deklarasi beberapa waktu lalu. Sedangkan Nadjmi-Jaya masih belum menggelar deklarasi resmi.
Meski kedua kandidat telah memastikan bakal maju, tapi hingga sekarang belum diumumkan secara pasti partai apa saja yang akan berkoalisi dalam mengusung. Meskipun secara informal, beberapa parpol telah melabuhkan dukungannya.
Semisal dari klaim Aditya & Iwansyah. Aditya yang merupakan ketua DPW PPP Kalsel mengaku sebagai kader prioritas.
"Itu menjadi prioritas, apalagi saya sekarang menjabat sebagai ketua DPW. Karena saya sendiri juga menjajaki secara informal, termasuk lapor ke pusat bahwa akan maju. Sedikit banyak pusat sudah memberikan izin," ungkapnya.
"Di PPP ada aturan bahwa kalau kader mengajukan diri sebagai calon di Pilkada maka tak perlu melalui proses penjaringan. Apalagi punya jabatan seperti ketua, sekretaris atau bendahara di struktur parpol, itu jadi prioritas," katanya saat deklarasi lalu.
Dari kubu sebelah, Nadjmi-Jaya, Partai Gerindra memberi sinyal merapat ke duet petahana ini. Bahkan, dukungan tersebut disampaikan langsung oleh Ketua DPD Gerindra Kalsel H Abidin saat menghadiri Halalbihalal dan Silaturahmi DPC Partai Gerindra Kota Banjarbaru. "Kami di sini ingin berbicara, bahwa kami ingin Wali Kota Banjarbaru (Nadjmi Adhani) bisa terpilih lagi dalam pemilu nanti," katanya.
Saat mendengar langsung bahwa dirinya mendapat dukungan dari Gerindra, Nadjmi mengaku bersyukur. "Alhamdulillah dapat sinyal. Setelah sebelumnya kami menyampaikan keinginan agar Gerindra dapat mendukung kami," paparnya.
--
Sementara di Kabupaten Banjar diprediksi kandidat bakal calon yang menguat sebanyak 4 pasang, ditambah kemungkinan adanya calon independen. Saat ini yang telah menyatakan ingin maju kembali adalah Wakil Bupati Banjar Saidi Mansyur. Saidi didukung Nasdem yang memiliki 7 kursi, tinggal mencari satu partai yang mempunyai 2 kursi.
Sedangkan kepastian Bupati Banjar Khalilurrahman maju atau tidak belum bisa dipastikan. Prediksi sementara, Guru Khalil, sapaan hangat H Khalilurrahman, memilih mengakhiri tugas satu periode saja. Isu satu periode ini kencang berhembus dibanding menjadi petahana dan kembali maju 2020.
Dari perolehan kursi DPRD Banjar, Golkar dan Gerindra sama mengantongi 8 kursi. Nasdem bertengger di urutan ke tiga dengan 7 kursi. Sedangkan PPP dan PKB sama-sama mengirim 5 wakilnya di DPRD Banjar. Perolehan Demokrat tetap yaitu 4 kursi dan PAN 2 kursi. PKS dan PDI P juga 2 kursi, hanya Hanura menyisahakan 1 kursi.
Selain Saidi Mansyur, beberapa nama yang juga mulai mencuat adalah Gusti Sulaiman Razak (pengusaha), Andin Sofyanoor (anggota DPRD Banjar), Said Abdullah (Sekda Banjarbaru), H Rusli (Ketua DPRD Banjar).
Ketua DPRD Banjar H Rusli enggan membicarakan politik pilkada. Ia minta menunggu proses, pasalnya penjaringan juga belum dilakukan. Intinya, ujarnya, calon Golkar akan datang harus bisa diterima seluruh kalangan dan bersedia mengayomi semua elemen masyarakat.
--
Menariknya, di Kabupaten Tanahbumbu, nama mantan Bupati Zairullah Azhar mencuat kembali maju menjadi calon kepala daerah di Kabupaten Tanbu. Sebelumnya santer beredar kalau Zairullah bakal maju dan berlaga di Kotabaru.
Zairullah akan diusung oleh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Pada Pemilu 2019 lalu, PKB meraih 5 kursi. PKB harus berkoalisi dengan partai lagi agar dapat mengusung calon bupati. Syarat wajib mengusung calon bupati harus memiliki 7 kursi di DPRD Tanbu. Ketua DPC PKB Tanbu H Hasanuddin mengatakan partainya akan berkoalisi dengan partai menghadapi Pilkada 2020 mendatang.
“Sejauh ini memang belum ada komunikasi dengan partai lain. Namun yang jelas PKB akan berkoalisi dengan partai pengusung Jokowi-Amin. Namun tidak menutup kemungkinan berkoalisi dengan partai diluar koalisi itu,” jelasnya.
Partai Gerindra juga wajib berkoalisi karena masih perlu tambahan 1 kursi agar bisa mengusung calon bupati. Nama H Difriadi Darjat digadang-gadang akan menjadi calon bupati yang akan diusung partai ini. Ketua DPC Partai Gerindra inipun menyatakan siap maju.
“Alhamdulillah masih mendapat dukungan. Mau Partai Gerindra menjadi cabup atau cawabup, tidak masalah. Yang kita lihat ini kemanfaatannya bagi masyarakat banyak. Kader kitakan banyak, jadi nanti partai yang menentukan, bukan keinginan saya pribadi,” jelasnya.
Sedangkan Partai Golkar dari informasi yang beredar akan mengusung Syarifah Santiyansyah pada Pilkada 2020 di Tanah Bumbu. Saat dikonfirmasi beberapa waktu lalu, Ketua DPD Golkar Tanbu ini enggan berkomentar untuk saat ini.
Satu-satunya partai yang aman mengusung cabup nanti adalah PDIP. Pada Pemilu 2019 lalu, partai ini meraih 13 kursi. Artinya, tanpa koalisi PDIP bisa mengusung kader sendiri. Sekretaris DPD PDIP Kalsel M Syaripuddin mengatakan, PDIP tetap akan melakukan komunikasi politik dengan partai lain.
“Tidak menutup kemungkinan PDIP akan tetap berkoalisi dengan partai lain,” katanya. Namun, PDIP masih menyimpan erat nama kandidat yang bakal diusung sebagai calon bupati.
Sementara itu, salah satu nama yang cukup menonjol dan menjadi perhatian sejumlah tokoh masyarakat dan dikalangan ASN Pemkab Tanbu adalah Sekda Tanbu H Rooswandi Salem. Ia dinilai memiliki kans besar untuk maju pada Pilkada Tanbu 2020 mendatang. Sayangnya, dia tidak memiliki partai agar bisa mencalon.
Terakhir ada nama Bupati Tanbu H Sudian Noor. Ketua DPW PAN Tanbu ini digadang-gadang akan menjadi calon potensial pada Pilkada 2020 nanti. Pada Pemilu 2019, PAN Tanbu hanya meraih 2 kursi, dan wajib menambah 5 kursi agar bisa mengusung calon bupati.
--
Di Kabupaten Balangan Ansharuddin telah memastikan diri kembali bertarung pada Pilkada Balangan 2020 mendatang. Ansharuddin menggandeng M Nor Iswan sebagai pasangannya. Kalau terjadi, koalisi Golkar dan PKS ini sudah mengamankan 8 kursi. Karena Golkar pada Pileg Kabupaten Balangan lalu meraih 6 kursi dan PKS mendapat 2 kursi.
PPP yang meraih 5 kursi, digadang menjadi penantang utama pasangan Ansharuddin-M Nor Iswan. Namun hingga saat ini, Ketua DPC PPP Kabupaten Balangan, Abdul Hadi menyatakan masih menunggu dan terlalu dini untuk menentukan sikap. “Tahapan Pilkada masih lama, kita wait and see saja dulu,” ungkapnya.
Di luar tiga partai itu, partai lain yang berpeluang mengusung kandidat pada Pilkada Balangan 2020 nanti yaitu PDIP dan Nasdem dengan raihan masing-masing 3 kursi. Melihat peta politik di Kabupaten Balangan dan raihan pada Pileg 2019 tadi, tidak menutup kemungkinan akan ada tiga pasang bakal calon yang diusung partai pada Pilkada Balangan.
Namun, mengingat Pilkada 2015 lalu ada dua pasang calon yang maju melalui jalur independen, tahun depan pun diprediksi bakal ada pasangan bakal calon yang mencoba peruntungan maju melalui jalur ini.
Dibanding daerah lain yang sudah mulai menghangat, kandidat calon Bupati Hulu Sungai Tengah (HST) belum begitu santer terdengar. Baru satu kandidat calon yang paling santer dihembuskan, yakni Akhmad Rozanie atau yang akrab disap Haji Jani. Dikonfirmasi Radar Banjarmasin, kemarin (28/7), lelaki yang kini menjabat sebagai anggota DPRD Kabupaten Banjar dan juga Sekretaris Wilayah Partai Nasdem Kalsel ini mengatakan, dirinya mengaku masih menunggu restu dari orang tua terlebih dahulu.
“Apabila sudah mengantongi restu kedua orang tua dan masyarakat menginginkan, maka saya bakal maju,” ucapnya.
Bila dipastikan bakal maju, Akhmad Rozanie berangkat dari Partai Nasdem. Di Kabupaten HST, partai ini memiliki 4 kursi di DPRD. Setidaknya, partai tersebut membutuhkan 2 kursi tambahan untuk bisa mengusung calonnya. “Nama yang masuk di Partai Nasdem sementara ini hanya Akhmad Rozanie, masih belum ada nama lain,” ungkap Ketua Bapilu Partai Nasdem HST, Taufik Rahman.
Selain Akhmad Rozanie, ada dua nama nama lain yang juga diisukan bakal bertarung untuk menjadi Bupati HST. Di antaranya yakni Saban Effendi yang saat ini menjabat sebagai Ketua DPRD HST dari partai Golkar, kemudian mantan Bupati HST masa periode 2010-2015 yakni Harun Nurasid.
Terkait hal tersebut, dikonfirmasi melalui pesan singkat kemarin (28/7), Saban Effendi hanya menjawab dengan kalimat ‘Belum lagi.’ Sementara Harun Nurasid hanya mengatakan bahwa saat ini dirinya masih berada di luar daerah.
--
Di Kotabaru mungkin menjadi daerah yang paling panas dalam konstelasi politik Pilkada. Beberapa nama sudah mencuat jauh hari seperti Sayed Jafar (Golkar), Zulkipli AR (PDIP), Zairullah Azhar (PKB), Tajerian Noor (Nasdem), Iqbal Yudiannoor dan Burhanudin. Nama para kandidat tersebut disertai prediksi parpol yang bakal mengusung.
Dari semua parpol, PDI Perjuangan bisa sedikit jumawa. Mereka meraih tujuh kursi. Jumlah minimal mengusung satu pasangan. Ketua PDI Perjuangan Kalsel, Mardani H Maming belum lama tadi mengatakan, sudah sewajarnya PDI Perjuangan mengusung kader sendiri di Kotabaru. Nama Ketua PDI Perjuangan Kotabaru, Zulkipli AR mencuat.
Sementara partai lainnya harus menjalin koalisi. Bupati Sayed Jafar yang juga Ketua Gokar di Kotabaru, optimis memakai perahu partai berlambang beringin ini. Golkar sendiri hanya meraih lima ukursi. Artinya, ia perlu dua kursi lagi dari parpol lain.
Selain itu, para kader PKB di Kotabaru ramai-ramai sudah menyatakan dukungan kepada Zairullah Azhar. Partai ini meraih empat kursi. Peta politik di Kotabaru pun dimeriahkan dengan nama-nama dari kalangan muda. Tajerian Noor dari Nasdem didukung dua kursi. M Iqbal Yudiannnor dari PAN tiga kursi.
Semua kandidat yang namanya masuk bursa cabup tersebut kepada Radar Banjarmasin hampir senada. Mengklaim siap jika publik meminta. Bagaimana dengan PPP? Partai ini meraih empat kursi. Ketua PPP di Kotabaru, M Arief mengatakan, mereka belum ada keputusan. Apakah maju dengan kader sendiri atau berkoalisi.
Begitu juga dengan Gerindra. "Kami terbuka dengan semua parpol. Ke mana arah koalisi Gerindra, kita lihat nanti," ujar Ketua DPC Gerindra Kotabaru, Nur Aini Syahran.
Sementara itu, Wabup Kotabaru Burhanudin pun disebut-sebut bakal berlaga. Burhanudin sendiri dikenal punya kedekatan dengan tokoh-tokoh PDI Perjuangan, Golkar dan PKS di tingkat provinsi.
Ada 35 kursi di DPRD Kotabaru. Artinya minimal cabup harus didukung tujuh kursi, jika mau maju berlaga di Pilkada. PDIP tahun mampu meraih tujuh kursi. Posisi ke dua Golkar, 5 kursi. Disusul PKB dan PPP masing-masing 4 kursi. PAN dan Hanura masing-masing 3 kursi. PKS, Nasdem dan Gerindra masing-masing 2 kursi. PBB, Demokrat dan Perindo masing-masing hanya 1 kursi. (nur/rvn/mam/kry/why/zal/war/ema)
Editor : miminradar-Radar Banjarmasin