Aditya Mufti Ariffin tipikal politisi sejati: tak berlama-lama meratapi kegagalan. Setelah tersisih dari senayan di Pemilu 2019, Ketua DPW PPP Kalsel ini segera merintis pertempuran di medan yang lain: Pemilihan Walikota Banjarbaru 2020. Kepada Radar Banjarmasin, dia bicara blak-blakan tentang pencalonannya dan konflik internal dalam partainya.
--
Publik sempat mengira Anda akan maju di Kabupaten Banjar. Apa sebenarnya yang membuat Anda memilih Banjarbaru dibanding kabupaten tetangga?
Pertama, kami sudah melakukan survey dibeberapa kota termasuk di Banjarbaru dan di Kabupaten Banjar, ternyata orang lebih banyak mengenal saya di Banjarbaru.
Kedua, karena Banjarbaru adalah salah satu dari daerah pemilihan waktu pemilu sehingga investasi politik lebih banyak ketimbang daerah lainnya. (Aditya Mufti Arifin dua periode menjadi anggota DPR RI melalui Dapil II yang meliputi Tanah Laut, Tanah Bumbu, Kotabaru, Kota Banjarmasin, dan Kota Banjarbaru, red).
--
Darmawan Jaya Setiawan telah menjabat sebagai wakil walikota dan statusnya sebagai ketua DPC PPP membuat pencalonannya untuk periode kedua akan bertabrakan dengan niat Anda menjadi walikota yang diusung PPP. Bagaimana Anda memandang ini?
Niat kami sama membangun kota Banjarbaru, setiap orang memiliki hak memilih dan dipilih. Kami memutuskan maju di Banjarbaru bukan untuk menyaingi incumbent, tapi mencoba memberikan pilihan kepada masyarakat.
Bukan hanya di PPP Banjarbaru ada seperti ini (dua calon dengan satu partai) tetapi juga ada di beberapa daerah lain. Yang saya ingat salah satunya Kabupaten Jepara. Masalah nantinya partai memilih mendukung siapa ya itu ranahnya Dewan pimpinan pusat...
--
Apakah normal dalam PPP dukungan untuk dua calon? karena konstitusi kita mengharuskan parpol hanya mendukung satu pihak. Apa yang Anda harapkan ke depan? Apakah Darmawan Jaya harus mundur dari partai?
Satu partai pasti satu calon, kalau Pak Jaya yang didukung (PPP) saya siap mencari partai lain atau maju independen. Mungkin begitu juga dengan Pak Jaya...Saya rasa, saya dengan Pak Jaya gentle aja, siapapun yang diusung partai kami hormati.
--
Apa yang Anda bisa tawarkan untuk masyarakat Banjarbaru, yangg tidak ditawarkan oleh petahana saat ini?
Kami akan fokus membangun ekomnomi berbasis kemasyarakatan baik melalui UMKN dan sebagainya. Membangun kota yang inklusif, yang lebih ramah kepada dangsanak kita yang disabilitas, ramah terhadap anak-anak serta lansia.
--
Apakah ada komitmen Anda di bidang pendidikan?
Pasti ada, Banjarbaru sebagaimana di zaman Pak Rudy Resnawan lebih menonjol sebagai kota pendidikan, ini akan kita bangun lebih baik lagi.
Para guru, PNS serta honorer yang ada juga harus diperhatikan kesejahteraannya agar mereka juga bisa maksimal dalam menjalankan kewajibannya.
Sebenarnya banyak program yang akan kami tawarkan tapi nanti akan kami publish setelah ditetapkan.
--
Seberapa besar peluang Aditya-Iwansyah dalam kontestasi ini? mengingat Anda akan melawan petahana yang dulu terpilih dengan suara cukup signifikan?
Melawan petahana cukup berat, dan di bawah kepemimpinan Nadjmi -Jaya Banjarbaru cukup bagus, makanya kami memiliki barometer harus membangun lebih bagus apabila terpilih nanti.
--
Banjarbaru adalah kota dengan preferensi pemilih yang berbeda dengan kabupaten lain di Kalsel. Kalangan perkotaan punya cara sendiri dalam menilai calon yang maju. Apakah ada strategi khusus untuk menang?
Banjarbaru dengan penduduk heterogen dan didominasi pemilih rasional menjadi tantangan bagi saya dan Pak Iwansyah. Kami mengusahakan agar masyarakat bisa menerima program-program kami.
Untuk masalah strategi pada saatnya nanti kami juga akan mempublish program-program kepada masyarakat baik melalui media-media yang ada maupun komunikasi langsung dengan warga. Agar pemilih di Banjarbaru punya referensi tentang kami.
--
Banjarbaru kota, Cempaka atau Liang Anggang yang menjadi basis suara Aditya-Iwan? Bagaimana Anda melihat persaingan timses di lapangan?
Sampai hari ini kami belum membentuk tim sukses, kalaupun ada ya paling-paling orang yang interest dengan kami. Dan sampai hari ini kami hanya melakukan tabligh akbar untuk sosialisasi.
Kami belum melakukan hal-hal lainnya. Masalah basis belum kami petakan secara pasti tapi dalam hasil survey ada beberapa titik yang menjadi basis saya dan Pak Iwansyah, dan itu tersebar bukan cuma di satu atau dua kecamatan.
--
Terakhir, ada anggapan umum bahwa Anda hanya mengandalkan sisa-sisa kejayaan Rudy Arifin, berada dalam bayang-bayangnya. Sebenarnya sejauhmana keterlibatan ayah Anda dalam setiap kebijakan kampanye dan politik? Dan bagaimana Anda bisa melepaskan diri dari stereotype itu?
Saya rasa wajar aja, karena beliau adalah abah dan juga guru bagi saya. Banyak yang menilai beliau berhasil dalam membangun Kalsel. Ya mudah-mudahan saya jua bisa seperti beliau. Bagaimana saya mau melepaskan bayangan beliau? Mungkin itulah keberuntungan saya.(ran/ema)
Editor : miminradar-Radar Banjarmasin