Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Selalu Ada Harapan dan Kemungkinan untuk Bisa Hamil

miminradar-Radar Banjarmasin • 2020-02-17 11:25:06
FOTO BERSAMA: Dr dr Ashon Sa
FOTO BERSAMA: Dr dr Ashon Sa

Suara Vi bergetar. Air matanya tak terbendung. Suasana ruangan seketika hening. Rasa sedih bercampur bahagia membuat Vi terbata-bata bercerita tentang penantiannya yang panjang, selama 16 tahun. Mimpinya untuk mendapatkan seorang anak terwujud di kala ia sudah belajar pasrah untuk berdamai dengan kodrat sebagai perempuan.

-----------

Rezeki, jodoh, dan ajal seseorang tak pernah bisa ditebak. Demikian pula dengan rezeki memiliki seorang anak. Inilah kisah seorang perempuan bernama Vi,  salah satu pasien dr Aucky Hinting SpAnd (K), PhD, saat memberikan testimoni di hadapan peserta bedah buku Mimpi yang Sempurna yang digelar Radar Banjarmasin di Best Western Kindai Hotel Banjarmasin, Minggu (16/2) kemarin.

“Saya kenal dr Aucky melalui dokter gigi Bugi. Dokter Bugi yang merekomendasikan saya untuk berobat ke dr Aucky dengan program bayi tabung,” ujarnya ketika memulai cerita. Itulah awal yang mengubah hidupnya. Air mata membuatnya terbata ketika bercerita tentang penantiannya.

Di saat ia sudah belajar untuk menerima takdir. Di kala upaya medis dan nonmedis dirasa sudah lebih dari cukup. Selalu ada harapan dan secercah asa yang dikuatkan dr Aucky untuk Vi. Doa dan harapan itulah yang membuat ikhtiarnya terwujud nyata sebagai mimpi yang sempurna.

Seorang anak kecil terlihat berlari ceria mengitarinya saat berdiri di samping dr Aucky Hinting. Bocah lelaki berusia sekitar 4 tahun itu adalah anugerah yang diberikan Tuhan untuk ia dan suaminya.

“Saya hanya berpesan kepada semua pasangan yang belum memiliki anak. Jangan pernah berhenti berharap dan berdoa, karena selalu ada kemungkinan dan harapan. Itulah yang menguatkan kita,” katanya sambil memeluk dan menggendong anaknya yang kini tumbuh dengan sehat.

Dalam bedah buku yang diiikuti puluhan pasangan, dr Aucky Hinting dan Dr. dr Ashon Sa’adi, SpOG (K) menyampaikan tentang persiapan yang harus dilakukan sebelum mengikuti program bayi tabung. Salah satunya adalah persiapan mental. “Jadi harus relaks, jangan stres. Serahkan semua proses medis yang dijalani pada Tuhan. Kalau stres maka itu sangat berpengaruh juga dengan tingkat keberhasilan, selain juga faktor umur,” jelas dr Aucky Hinting.

Hal yang sama disampaikan oleh dr Ashon yang mengingatkan para calon pasangan program bayi tabung untuk menyiapkan diri. Terutama yang harus diperhatikan bagi para ibu adalah berat badan yang ideal. “Jadi memang harus ada kondisi ideal agar semua proses program bayi tabung berjalan dengan baik. Seperti berat badan yang normal, kondisi rahim yang baik dan sehat, dan tak ada penyakit  bawaan. Karena itu, di awal program bayi tabung akan dilakukan screening untuk mengetahui kondisi dan kesiapan medisnya,” kata dr Ashon.

Selain Vi, testimoni juga disampaikan oleh drg Bayu yang tengah menunggu kelahiran anak kedua dan ketiganya. “Saya ikut pertama kali program bayi tabung tahun 2013. Kini saya menunggu kelahiran anak kedua dan ketiga yang kembar akan lahir sepekan lagi. Kalau memungkinkan, nanti saya ingin ikut program lagi,” ujarnya yang berkeinginan memiliki banyak anak.

Apa yang disampaikan Vi dan drg Bayu adalah testimoni pasien dr Aucky Hinting tentang keberhasilan mereka mendapatkan mimpi yang sempurna. Namun, ada juga pasien yang berkali-kali mencoba tapi belum berhasil. Salah satu faktor yang memengaruhi tingkat keberhasilan adalah usia. “Semakin muda maka peluangnya semakin besar. Kalau usia sudah di atas 40 tahun, maka peluangnya sekitar 20 persen. Kalau di bawah 30 tahun, peluangnya bisa sampai 50 persen. Tapi ingat, itu teorinya, yang menentukan adalah takdir dan Tuhan,” kata dr Aucky di acara yang dimoderatori Pimred Radar Banjarmasin, Toto Fachrudin itu.

Untuk menjalani program bayi tabung ini juga tak semahal yang dikira banyak orang. Menurut dr Aucky, kalau dihitung-hitung maka biaya awal yang dibutuhkan sekitar Rp50 juta sampai Rp60 juta. Tapi itu hanya saat di awal. Ketika program pertama tak berhasil, maka bila ingin mencoba lagi tak semahal seperti saat di awal program. “Mungkin separonya atau bisa kurang. Sekitar 20 jutaan kalau ingin mencoba lagi. Karena sudah ada embrio yang diambil dan disimpan, tinggal di tanam saja. Jadi biayanya tak seperti saat di awal program,” kata dr Aucky Hinting. (tof/ay/ran/ema)

Editor : miminradar-Radar Banjarmasin
#Banua Kesehatan #event