BANJARMASIN - Sebanyak 168 orang menjalani swab test di halaman kantor Dinas Kesehatan Banjarmasin di Jalan Pramuka, (17/5). Mereka adalah pembeli dan pedagang yang mengikuti rapid test di Pasar Lima, Pasar Lama, Pasar Sudimampir, Pasar Binjai, Pasar Pekauman dan Pasar Lokasi pada Sabtu (16/5).
Juru Bicara Tim Gugus Tugas P2 COVID-19 Banjarmasin, Machli Riyadi menyebutkan, dari hasil rapid, 129 orang dinyatakan reaktif. Ditambah 47 pedagang yang mengikuti rapid test di Pasar Sentra Antasari.
"Ini pemeriksaan lanjutan bagi yang dinyatakan reaktif berdasarkan rapid test di pasar-pasar kemarin," kata Kepala Dinas Kesehatan Banjarmasin tersebut. "Kalau nanti ditemukan positif, maka akan dikarantina di rumah sakit rujukan," tambah Machli.
Dia berharap, konfirmasi positif dan negatif lekas diketahui. Agar memudahkan melanjutkan pelacakan riwayat kontak pasien.
Tapi ia sadar, harus sabar menunggu antrean pemeriksaan sampel swab. "Diperkirakan perlu tiga sampai empat hari baru hasil swabnya bisa diketahui," jelasnya.
Sebelumnya, ia sempat menyarankan agar warga yang mendapat hasil reaktif untuk diisolasi di Balai Teknologi di Jalan Perdagangan, Banjarmasin Utara. Inilah fasilitas karantina yang ditunjuk pemko.
"Kami berharap masyarakat mengerti betapa pentingnya karantina. Kami akan edukasi. Jika ternyata tidak cukup di Jalan Perdagangan, maka bisa saja dikirim ke Gedung Ambulung di Banjarbaru," pungkasnya.
Pengambilan sampel swab ini melibatkan petugas dari Dinas Kesehatan Kalsel dan Bidang Dokkes Polda Kalsel.
Harus ditegaskan, rapid test hanya menguji reaktif atau non reaktif. Artinya, sekalipun reaktif, belum tentu positif. Mengingat rapid test hanya mengecek antibodi tubuh, bukan virus.
Sebelumnya, Sabtu (16/5), pantauan Radar Banjarmasin, tampak rombongan WNA (Warga Negara Asing) juga mengikuti rapid test di Pasar Lama. Jumlahnya 23 orang. Semuanya laki-laki.
Mereka berasal dari Pakistan. Selama ini ditampung di sebuah pondok pesantren di Jalan Seberang Masjid. Tak bisa pulang karena negara asalnya menerapkan lockdown.
Dikonfirmasi terpisah, Kasubsi Teknologi Informasi Kantor Imigrasi Kelas I TPI Banjarmasin, Iman Christoffel mengatakan, keberadaan 23 WNA Pakitan itu di Banjarmasin sejak bulan Februari lalu dalam rangka kegiatan keagamaan.
"Negara mereka sedang lockdown. Jadi tak bisa pulang, diberikan kelonggaran untuk izin visa. Soal makan dan minum ditanggung sponsor (Ponpes Al Ikhsan)," kata Iman mewakili Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Banjarmasin, Anton Helistiawan. (lan/fud/ema)
Editor : izak-Indra Zakaria