Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

BUKAN JATIM, BUKAN JABAR, TAPI KALSEL..!!

izak-Indra Zakaria • 2020-07-02 13:45:09
Photo
Photo

BANJARBARU - Kalimantan Selatan menjadi dua terbesar dalam laju insiden kasus Covid-19 tertinggi di Indonesia. Kalsel hanya kalah insiden rate dari Provinsi DKI Jakarta.

Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Indonesia, Dr. Dewi Nur Aisyah memaparkan hal itu dalam konferensi pers yang disiarkan dari YouTube BNPB Indonesia, Rabu (1/7).Insiden rate sendiri mengambil rumus membandingkan angka kasus positif per jumlah penduduk. Gugus Tugas memakai rasio per 100 ribu penduduk.

"Ini by provinsi, kita bisa lihat yang tertinggi dan terendah. Lagi-lagi kita lihat berdasarkan jumlah penduduknya DKI Jakarta pertama, yang kedua Kalimantan Selatan. Karena kita suka lupa, bukan Jawa Timur, bukan Jawa Barat, ini Kalimantan Selatan," ucapnya.

Dewi mengatakan angka tersebut merupakan data per 28 Juni 2020, berdasarkan jumlah penduduk. Setelah DKI Jakarta dan Kalimantan Selatan, posisi ketiga disusul Sulawesi Selatan, Papua dan Kalimantan Utara yang merupakan provinsi dengan laju insidensi yang tinggi.

Sementara itu, di tingkat kabupaten/kota, insiden rate paling tinggi ada di Jakarta Pusat. Ironisnya, Kota Banjarmasin berada di urutan kelima. "Di sini misalnya kita melihat DKI yang paling tinggi Jakarta Pusat. Yang kedua Kota Makasar peringkat keduanya ini per tanggal 28 Juni 2020," kata Dewi.

Sedangkan, insiden rate tertinggi ketiga di kabupaten kota ialah Kota Surabaya dan keempat, Jayapura. Dewi mencontohkan misalnya angka kasus positif di daerah A, B dan C sama yaitu 50 orang positif, tetapi yang membedakan adalah jumlah penduduknya.

Dia memaparkan, apabila jumlah kasus positif di daerah A dan B sama-sama 50 orang, tetapi jumlah penduduk di daerah A sebanyak 200 orang, sedangkan di daerah B jumlah penduduknya 120 orang. Maka laju insidensinya lebih tinggi di daerah B.

Dewi mengatakan angka kasus positif juga harus dilihat dengan jumlah spesimen yang diperiksa. Semakin besar jumlah tes yang dilakukan, maka seharusnya angka positivity ratenya semakin rendah."Interpetasi yang kedua adalah semakin besar jumlah tes yang kita lakukan, maka nanti seharusnya angka positivity ratenya pun akan semakin rendah," bebernya.

Kasus Covid-19 di Kalsel sendiri hingga kini belum ada tanda-tanda penurunan. Lonjakan kasus justru masih terus terjadi. Kemarin (1/7) misalnya, Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kalsel merilis pasien positif virus corona bertambah 75 orang. Dengan tambahan itu, total kasus Covid-19 menjadi 3.223.

Tambahan pasien baru terbanyak disumbangkan Balangan, dengan total 29 orang. Sisanya dari Kota Banjarmasin dan Tabalong, sama-sama 16 orang. Kemudian, Tanah Laut (5 orang), Banjar (1 orang), Batola (1 orang), Tanah Bumbu (1 orang) dan Banjarbaru (6 orang).

Selain tambahan terkonfirmasi positif, gugus tugas juga melaporkan ada tambahan 1 pasien Covid-19 yang meninggal dunia dari Banjarmasin. Adanya tambahan ini, membuat angka meninggal dunia menjadi 190. Sementara, untuk pasien yang sembuh bertambah 59 orang. Dengan begitu, jumlah pasien sembuh jadi 825.

Juru Bicara Gugus Tugas P2 Covid-19 Kalsel, Muslim menyampaikan, tingginya tambahan kasus merupakan hasil dari upaya tracking dan tracing yang dilakukan oleh tim survailans di daerah. "Hasil tracking dan tracing tergambar dari update tambahan jumlah kasus setiap harinya," ucapnya.

Tim Gugus Tugas P2 Covid-19 Kalsel sendiri saat ini terus melakukan penguatan kepada Puskesmas-Puskesmas dalam melakukan tracing, tracking dan testing terhadap kasus yang ditemukan di masyarakat.

Ketua Harian Gugus Tugas P2 Kalsel, Abdul Haris menuturkan, melalui penguatan tracing, tracking dan testing tersebut, mereka ingin orang-orang yang terpapar Covid-19 dapat ditemukan lalu dikarantina. "Kalau ada yang positif, langsung kami tarik ke tempat karantina," ujar Sekdaprov Kalsel ini.

Agar jumlah kasus positif bisa ditekan, dia meminta supaya masyarakat senantiasa menerapkan protokol kesehatan. Yakni, selalu pakai masker, cuci tangan, jaga jarak dan menerapkan perilaku hidup bersih. "Kemudian juga, jangan keluar rumah kalau tidak penting. Supaya kita bisa memutus mata rantai virus," bebernya.

Dia menyampaikan, beban gugus tugas akan menjadi berat apabila masyarakat tidak mau peduli dengan protokol kesehatan. "Ujung-ujungnya kalau terjadi peningkatan kasus, pemerintah yang disalahkan. Padahal kami sudah berupaya sedemikian rupa," ucapnya.

Lanjutnya, apabila pandemi berlangsung lama maka dikhawatirkan muncul persoalan baru terkait psikologis para tenaga kesehatan. "Itu yang harus kita jaga," katanya. (ris/ran/ema)

 

Berikut ini data 5 provinsi dengan insiden kasus tertinggi,

 

1. DKI Jakarta (82,78 per 100 ribu penduduk)
2. Kalimantan Selatan (46,9 per 100 ribu penduduk)
3. Sulawesi Selatan (30,13 per 100 ribu penduduk)
4. Papua (28,78 per 100 ribu penduduk)
5. Kalimantan Utara (26,22 per 100 ribu penduduk)

 

Berikut ini data top 10 kabupaten/kota dengan insiden kasus tertinggi,
1. Jakata Pusat, DKI (227,78 per 100 ribu penduduk)
2. Kota Makassar, Sulsel (204,53 per 100 ribu penduduk)
3. Kota Surabaya, Jatim (194,59 per 100 ribu penduduk)
4. Kota Jayapura, Papua (184,8 per 100 ribu penduduk)
5. Kota Banjarmasin, Kalsel (182,98 per 100 ribu penduduk)
6. Kota Manado, Sulut (169,86 per 100 ribu penduduk)
7. Luwu Timur, Sulsel (164,13 per 100 ribu penduduk)
8. Kota Mataram, NTB (151,37 per 100 ribu penduduk)
9. Kota Ambon, Maluku (145,85 per 100 ribu penduduk)
10. Kota Palangkaraya, Kalteng (131,2 per 100 ribu penduduk)

 

Editor : izak-Indra Zakaria
#Banua Covid-19 Corona