LIMA bulan lagi, 9 Desember nanti, masyarakat Banjarmasin akan memilih wali kota dan wakil wali kota.
==================
Oleh: Syarafuddin
Editor Rubrik Metropolis
==================
Dalam standar pasangan LDR, lima bulan sungguh lama. Terasa hampir selamanya. Tapi dalam ukuran politik, sebentar saja. Hampir sekejap.
Dipepet waktu, kenyataannya adalah sampai hari ini bursa kandidat masih galau.
Katanya, peta politik Banjarmasin menunggu peta politik Kalsel. Begitu koalisi partai untuk Pilgub terbentuk, baru berembuk memikirkan Pilwali. Katanya sih begitu.
Betul, dalam pertandingan sepak bola, mencetak gol di menit akhir merupakan cerita kepahlawanan. Tapi dalam pemilu, disarankan menyerang sejak menit pertama.
Itulah mengapa kandidat dilarang curi start. Kian cepat deklarasi, semakin lama pula durasi kampanye diperoleh. Lebih lama lebih disukai.
Warta terakhir, sang petahana, wali kota Ibnu Sina masih merahasiakan calon pendamping dan koalisi partai pendukung.
Kader PKS itu mungkin punya kejutan. Semoga kita nanti benar-benar terkejut.
Sedangkan wakil wali kota Hermansyah merasa enggan ikut Pilkada. Alasannya, tak etis mengurusi pemilu ketika masyarakat masih dikepung wabah. Bijak sekali.
Kemudian ada Ananda. Sejak dulu, mantan finalis Puteri Indonesia itu tak pernah menutupi ambisi politiknya.
Di pertigaan dan perempatan jalan, anggota DPRD kota itu menebar baliho. Isinya kocak. Mengandalkan dukungan grup emak anti pelakor dan barisan ibu matic.
Masalahnya, partainya tampak lebih berminat mengusung Abdul Haris Makkie. Sekalipun Ananda adalah Ketua Partai Golkar Banjarmasin.
Haris sendiri Ketua Pengurus Nahdlatul Ulama Kalsel. Juga orang nomor tiga di pemprov sebagai sekretaris daerah.
Semoga Ananda tabah. Toh ia masih muda. Masih gres. Karir politiknya masih panjang.
Selebihnya tenggelam. Seperti Karmila, putri mantan wali kota Muhidin. Yang disokong PAN, partai pemenang Pileg di kota ini.
Atau bos Barito Putera, Hasnuryadi Sulaiman yang sibuk di Senayan. Sebagai gantinya, Kampung Melayu mengirimkan jagoan lain. Yaitu adik Hasnur, Yuni Abdi Nur Sulaiman yang rajin berbagi sembako.
Oh, jangan lupakan Habib Abdurrahman Bahasyim alias Habib Banua. Anggota DPD RI itu sudah ke sana kemari mencari dukungan partai.
Hanya satu nama yang pasti. Yakni Khairul Saleh. Jangan sampai tertukar, bukan Sultan Kerajaan Banjar itu. Ini Khairul versi non gusti. Sekarang menjabat Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Banjarmasin.
Bermodal puluhan ribu lembar fotokopi KTP, Khairul maju dari jalur independen (belakangan KPU ngotot mentasmiyahinya menjadi jalur perseorangan).
Calon independen lain, Anang Misran alias Anang Bidik, malah ditinggal kawan di tengah jalan. Karena Ahmad Firdaus mendadak mengundurkan diri menjelang verifikasi faktual.
Rencana Anang berantakan. Merasa dirugikan, ia membidik Firdaus untuk dilaporkan ke polisi dengan tuduhan penipuan. Dari kawan jadi lawan.
Siapa pun yang maju nanti, menghadapi medan yang pelik. Karena pemilu itu pro kerumunan, sedangkan pagebluk kontra kerumunan.
Berkampanye di pasar, berkonvoi di jalan raya, apalagi mengumpulkan massa di depan panggung, jelas berbahaya.
Calon petahana memang diuntungkan. Bisa merancang kampanye dalam bungkus kebijakan. Sedangkan calon penantang? Silakan maksimalkan papan reklame dan Facebook.
Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) juga harus ekstra hati-hati. Jika muncul kluster baru dari Pilkada, maka akan mengulang cerita lama.
Bedanya, pada Pileg dan Pilpres 2019, korban dari panitia pemungutan suara berjatuhan akibat kelelahan. Kali ini gara-gara tertular virus corona.
Penyelenggara pemilu juga harus pintar berhemat. Anggaran Pilwali ditaksir mencapai Rp44 miliar. Rinciannya, Rp32 miliar untuk KPU dan Rp12 miliar untuk Bawaslu.
Berat bagi pemerintah untuk menambah anggaran keduanya. Mengingat APBD sudah terkuras untuk PSBB dan turunannya.
Corona juga akan menjadi pembenaran baru kaum golput. Tidak pergi ke TPS demi menerapkan physical distancing. Bukan karena sikap apatis.
Kembali kepada para kandidat, harus diakui, hati mereka sungguh berani dan mulia. Bersedia menjalankan misi super berat.
Pemenang akan menanggung perekonomian yang limbung dihantam pandemi. Pemilih sudah pasti menjadikan isu ini sebagai harapan utama.
Pasangan kepala daerah yang baru dituntut kembali meramaikan pasar. Memulihkan daya beli. Menolong pengangguran. Membantu pengusaha bangkit. Mengundang investor. Dan melumasi pembangunan yang tersendat.
Jika berhasil, pantas untuk ditulis dalam buku sejarah. Diganjar dua periode pun oke. Tapi kalau gagal, apa boleh buat, kita cuma bisa ngedumel. (*/ema)
Editor : miminradar-Radar Banjarmasin