MUSLIM Indonesia punya nama lain untuk Idul Adha. Hari raya kurban atau hari raya haji.
==================
Oleh: Syarafuddin
Editor Rubrik Metropolis Radar Banjarmasin
==================
Entah mengapa, di tempat kita, Idul Adha masih kalah pamor dari Idul Fitri.
Sebaliknya, bagi penduduk Mekkah, tanah kelahiran nabi, 10 Zulhijah justru disebut hari raya besar. Sementara 1 Syawal dianggap hari raya kecil.
Perayaan Idul Adha juga lebih panjang. Menyertakan hari tasyrik pada tanggal 11, 12 dan 13 Zulhijah.
Mungkin karena Idul Fitri punya Ramadan. Bulan yang dimeriahkan sahur, buka puasa, salat tarawih dan pesantren kilat.
Atau lantaran tak menuntut mudik? Karena jika tak pulang kampung pada Idul Adha, orang tua atau mertua lebih bisa memaklumi.
Mungkin pula karena pegawai negeri dan karyawan swasta tak kebagian tunjangan hari raya (THR) pada Idul Adha.
Tentu saja, dugaan saya yang terakhir sungguh dangkal.
Namun, bagi mereka yang papa, Idul Adha amat dinantikan. Secarik kupon daging kurban akan mengantarkan mereka pada rawon, kari, semur dan sate.
Setelah berbulan-bulan makan telor ceplok, tahu dan ikan asin melulu. Sesekali diselingi ayam tepung.
Sayang, kemeriahan Idul Adha tahun ini diprediksi menurun. Apalagi kalau bukan gara-gara musim corona.
Jauh-jauh hari, pedagang sapi dan kambing mengeluh. Penjualan hewan kurban menurun. Pandemi telah memicu krisis ekonomi. Tak ada yang luput dari dampaknya. Tak terkecuali ibadah kurban.
Kerumunan di masjid dan musala juga diminta dijauhi. Jemaah diimbau tak menonton aksi para penjagal. Apalagi sampai ngantre penukaran kupon daging.
Di zona merah seperti Banjarmasin, salat ied juga disarankan di rumah saja. Komplet sudah ujian yang dihadapi umat.
Tapi, apalah artinya ujian yang kita hadapi sekarang?
Begini, perbandingan yang saya pakai memang tidak apel ke apel. Lebih apel ke jeruk. Tapi tak ada salahnya untuk disimak.
Sejak kecil, bagi saya Idul Adha artinya mendengar kembali cerita Nabi Ibrahim. Di mana-mana, khatib pasti memilih cerita ini sebagai tema khutbahnya.
Semua hafal jalan ceritanya. Bedanya cuma teknik penyampaian. Satu khatib lebih dramatis, membuat haru. Khatib lainnya datar-datar saja. Mengundang kantuk.
Dan saya senantiasa bergidik membayangkan. Allah menuntut Nabi Ibrahim menyembelih Nabi Ismail. Bayangkan, ayah menggorok leher anak sebagai persembahan kepada tuhannya!
Syukur itu hanya sebuah tes. Pada detik-detik terakhir sebelum darah mengucur, Ismail digantikan seekor domba.
Andaikan ujian itu menimpa saya, dengan iman khas orang awam, dijamin tidak lulus. Akal saya bakal memberontak. Karena tuhan yang menuntut hambanya menjadi algojo sungguh tak pantas disembah.
Kalau direnungkan, ibadah kurban justru semakin bermakna pada masa-masa sulit seperti sekarang.
Ketika pasar sepi, pemotongan gaji dan PHK kian jamak, kafe gulung tikar, toko sepeda dan rumah sakit sesak.
Maka jika ada kawan hendak berutang, jangan mengelak. Saat tetangga jatuh sakit, semangati agar lekas sembuh. Pas rezeki nomplok, mari bersedekah, menabungnya ditunda saja.
Pada akhirnya, Idul Adha adalah panggilan solidaritas. Umat harus menolong umat. Saling jaga saling papah.
Berharap kepada pemerintah memang tak salah, tapi rawan berujung kekecewaan. Karena negara terbukti berkali-kali menyembelih harapan. (*/ema)
Editor : miminradar-Radar Banjarmasin