Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Debat Perdana Pilwali: Dua Jam Terasa Kurang, Adu Solusi vs Adu Pengalaman

miminradar-Radar Banjarmasin • 2020-11-02 12:24:53
DEBAT TERBUKA PASLON BANJARMASIN: Berlangsung santai, tanpa urat leher menegang, ini sebenarnya bukan debat. Melainkan ajang bertukar pikiran dalam format tanya jawab. | Foto: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN
DEBAT TERBUKA PASLON BANJARMASIN: Berlangsung santai, tanpa urat leher menegang, ini sebenarnya bukan debat. Melainkan ajang bertukar pikiran dalam format tanya jawab. | Foto: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN

Berlangsung santai, tanpa urat leher menegang, ini sebenarnya bukan debat. Melainkan ajang bertukar pikiran dalam format tanya jawab.

---

BANJARMASIN - Bukan berarti tak ada yang menonjol dari acara selama dua jam tersebut. Masih ada yang bisa diambil.

Disiarkan secara langsung di televisi nasional, Jumat (30/10) malam, debat dimoderatori dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Andi Tenri Sompa.

Debat dibagi lima sesi. Mengulas visi dan program masing-masing pasangan calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Banjarmasin. Hingga, menjawab persoalan kota yang dilemparkan KPU (Komisi Pemilihan Umum) secara acak. Di sini, kandidat diminta memberikan solusi.

Contoh, paslon Abdul Haris Makkie dan Ilham Noor yang kebagian masalah keterbatasan guru dan nasib guru honorer di Banjarmasin.

Bagi Haris, memang dilematis. Satu sisi kekurangan secara kuantitas. Sisi lain, kalau mau merekrut guru honorer tambahan, berbenturan dengan aturan pemerintah pusat.

Solusinya, mendekati DPR dan pemerintah pusat. Lalu meminta kampus untuk mencetak calon guru sebanyak mungkin. "Tapi pemko harus berani pasang badan," ujar mantan Sekdaprov Kalsel itu.

Sementara paslon petahana, Ibnu Sina dan Arifin Noor, kebagian soal kota ramah lansia dan disabilitas. Bagi Ibnu, itu hanya melanjutkan pekerjaan sebelumnya. Karena tahun 2017, Banjarmasin sudah diganjar kota layak huni.

"Banjarmasin juga kota pertama di Indonesia meluncurkan road map kota inklusif. Dibantu komunitas, kami akan wujudkan rencana yang sudah ada," tegasnya.

Berlanjut ke paslon Khairul Saleh dan Habib M Ali Al Habsy. Yang ditodong masalah pengadaan lahan untuk pembangunan.

Pembebasan lahan selalu menghadap-hadapkan antara pemilik tanah dan pemko. Tak jarang mengganggu pembangunan infrastruktur.

Sebagai mantan Kabag Tapem Setdako Banjarmasin, Khairul hafal betul masalah ini. "Saya punya pengalaman menyelesaikan masalah ini. Rahasianya, bentuk tim sembilan. Mengacu UU Agraria, jangan sampai masyarakat dirugikan," tukasnya.

Terakhir, paslon Ananda dan Mushaffa Zakir ditanya tentang pembangunan berbasis sungai. Bagaimana agar klop dengan pembangunan di darat.

Ananda yakin, selama pemko mengajak para ahli dari berbagai perguruan tinggi, rencana besarnya bisa dirancang.

"Dan jangan lupa, pemko harus memberi contoh kepada masyarakat dalam kepatuhan terhadap aturan. Pemko yang membuat regulasi, maka pemko yang harus taat lebih dulu," kata mantan Ketua DPRD Banjarmasin tersebut.

Siapa yang paling unggul? Silakan penonton memberi skor. Tapi pertandingan masih berlanjut. Masih ada debat sesi kedua dan ketiga pada 10 dan 20 November mendatang.

Dua Jam Masih Kurang

CATATAN lain dari debat perdana paslon Pilwali, kandidat mengaku kewalahan, lantaran waktu yang diberikan terlalu mepet. Padahal, durasinya sudah dua jam lebih.

Contoh, hanya dalam tiga menit, keempat paslon harus memaparkan visi dan programnya. Tuntas tidak tuntas, cuma tiga menit.

Dikejar-kejar waktu, para paslon mengaku tak puas dengan waktu berbicara yang dijatah Komisi Pemilihan Umum (KPU).

"Karena waktu terbatas, kami jadi tak tuntas mengupas visi berikut program. Tapi apapun itu, kami punya solusi untuk tiap persoalan," beber Abdul Haris Makkie.

Senada dengan Khairul Saleh. Dia berharap, bagian pemaparan visi diperpanjang. "Masyarakat kan sudah menunggu-nunggu itu," kata mantan Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Banjarmasin itu.

Hanya Ananda yang tak menyoal waktu. Tampak semringah, runner up Puteri Indonesia 2006 itu mengaku puas dengan jalan debat pertama. "Apa yang kami utarakan, sudah selaras dengan pertanyaan yang dilontarkan," ujarnya.

Ekspresi lega juga tampak dari wajah calon petahana. Setelah menyimak visi para penantang, Ibnu Sina mengklaim, rata-rata yang mereka janjikan sudah atau sedang dikerjakan Pemko Banjarmasin.

Menanggapi keluhan waktu yang mepet, Komisioner KPU Banjarmasin, M Taufiqurrakhman mengatakan, jatah waktu sudah diatur sedemikian rupa oleh tim perumus.

Tapi ia memastikan, ada evaluasi dari debat pertama. Sebagai masukan untuk debat berikutnya. KPU juga tak saklek terkait porsi waktu.

"Durasi sebenarnya fleksibel saja. Tapi sekali lagi, menyesuaikan waktu siaran, 120 menit. Mungkin nanti ada bagian-bagian yang harus ditekan. Agar waktu untuk masing-masing kandidat bicara bisa lebih banyak," tutupnya. (war/fud/ema)

Editor : miminradar-Radar Banjarmasin
#Pilkada Banjarmasin