Dinding ruko dua lantai Pasar Ujung Murung ambruk, Senin (5/4) malam. Ternyata, satu dekade lalu, peristiwa serupa juga pernah terjadi.
---
BANJARMASIN - Abdul Ahyar baru saja memarkir sepeda motornya. Pria 52 tahun itu tak menyangka, itulah akhir perjalanan bersama matic kesayangannya.
Ia ingat, hujan memang deras, Tapi angin tak begitu kencang.
Menjauh untuk mencari tempat berteduh, baru mereguk air dari botol minuman yang dibawanya, terdengar bunyi gemeretak.
Tiba-tiba saja, dinding toko di sampingya roboh... Dan menimpa motornya.
"Serpihan kayu berhamburan ke muka saya. Syukur tak kenapa-napa. Hanya motor yang menjadi korban," ujarnya.
Tak lama, petugas dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) berdatangan.
Menurut cerita warga sekitar pasar, Rusmanti, ini bukanlah insiden pertama. Lebih dari 10 tahun lalu, dinding toko pasar tua tersebut roboh. Persis di samping TKP sekarang.
"Kala itu, atap satu blok pasar roboh. Roboh dari sini memanjang sampai ke sana," ujarnya, kemarin (6/4) seraya menunjuk ke arah dalam pasar.
Bedanya, peristiwa itu terjadi pagi hari. Beruntung tak ada korban, karena belum ada pedagang yang membuka kiosnya.
"Saat itu malah tak ada hujan, apalagi angin kencang. Kemungkinan memang karena bangunannya sudah tua," jelasnya.
Untuk lantai atas pasar yang roboh, memang sudah lama tak dipakai pedagang. Tapi di bawah, sedikitnya ada tiga toko pakaian yang terdampak.
"Bagian atas itu dulunya tempat tukang jahit. Sempat dijadikan gudang. Tapi sekarang sudah tak diisi apa-apa lagi. Sudah lama kosongnya," tambah Rusmanti.
Pantauan Radar Banjarmasin di lokasi, kemarin (6/4), tembok pasar di Banjarmasin Tengah itu memang tampak sudah uzur. Lapuk dan berkarat.
Puing kayu dan seng masih berserakan. Kabel-kabel listrik masih berjuntaian. Di sana tampak Edy Husnandi, pedagang di lokasi kejadian.
Ia sedang mengecek barang dagangan seperti kerudung yang masih bisa diselamatkan.
"Libur dulu berjualan. Masih khawatir. Karena sisa air hujan masih merembes dari plafon. Banyak barang dagangan yang basah," ujarnya.
Bersama pedagang lain, ia berencana mendatangi tukang kayu untuk merehab kerusakan tersebut.
Pedagang lainnya, Adul, membenarkan rencana tersebut. "Kan sudah dekat Ramadan. Pasti banyak pembeli. Kalau tak segera diperbaiki, bisa menghambat pemasukan," tutupnya.
Tak Layak Pakai Sejak 2014
CUACA buruk bisa disalahkan. Tapi jangan lupakan faktor usia bangunan Pasar Ujung Murung. Memang sudah tua dan ringkih. Diperkuat oleh pernyataan Kepala UPTD III Pasar Sudimampir, Ahadi Akhmad.
Dia menaksir, setidaknya umur bangunan pasar itu sudah 50 tahun lebih. "Bangunan pasar ini bukan milik pemko. Milik pribadi atau swasta," jelas Ahadi, kemarin (6/4).
Dihubungi terpisah, pengamat tata kota, Nanda Febryan Pratamajaya membeberkan, bangunan itu pernah disurvey tim ahli pada tahun 2014 silam. Kesimpulannya, dari segi teknis dan lingkungan, memang sudah tak layak pakai.
Artinya, dari sisi ekonomi pun sudah tak layak. "Karena akan mempengaruhi pendapatan pedagang," jelas Ketua Intakindo (Ikatan Nasional Tenaga Ahli Konsultan Indonesia) Kalsel tersebut.
Tegasnya, bangunan pasar itu berbahaya bagi pedagang dan pembeli. Tak ada yang bisa menjamin bahwa kejadian serupa takkan terulang. "Beruntung di sini tak ada gempa bumi. Andaikan diguncang gempa, mungkin sudah roboh semua," tambahnya.
Nanda menuntut pemko tak berdiam diri. Karena ini sudah menyangkut keselamatan warganya. "Kalau di luar negeri, bangunan setua itu sudah pasti di-police line. Sudah ditutup karena mengancam keselamatan manusia," cecarnya.
Pertama, pemko harus menggelar kajian teknis. Mengevaluasi seluruh struktur bangunan Pasar Ujung Murung. Kalau perlu, pasar-pasar tua lainnya di Banjarmasin.
"Ingat, Banjarmasin itu kota tua. Jadi wajar banyak bangunan tua di sini. Apalagi Banjarmasin itu kota perdagangan," bebernya.
Kerap menjadi tempat perhentian para pedagang di Kalimantan, maka sudah sewajarnya, pedagang diberi bangunan yang layak.
Kedua, mempercepat program revitalisasi kawasan Pasar Sudimampir Raya yang terus tertunda.
"Hukumnya sudah wajib untuk direvitalisasi. Tinggal bagaimana pemko mendekati para pemilik toko dan lahan di sana," tutupnya.
Buntu di Meja Negosiasi
Sebenarnya, Dinas Perdagangan dan Perindustrian Banjarmasin sudah merencanakan revitalisasi Pasar Ujung Murung dan Pasar Sudimampir Baru.
Soal kapan bisa dimulai, Plt Kepala Disperdagin Banjarmasin, Robiansyah mengatakan sangat tergantung kepada kebijakan wali kota pemenang Pilkada nanti.
Sekarang, program itu terhenti pada tahap negosiasi dengan pedagang. Kendalanya, pedagang Pasar Sudimampir Baru bertahan.
Memilih menunggu masa hak guna bangunan (HGB) habis pada tahun 2025 mendatang. Berbeda halnya dengan sikap pedagang Pasar Ujung Murung.
"Di Ujung Murung, karena bangunannya sudah tua sekali, mereka ingin secepatnya dimulai," jelasnya, kemarin (6/4).
Karena belum ada titik temu, revitalisasi pun ditunda. Di luar kedua pasar tersebut, Norbiansyah mengklaim bangunannya masih layak pakai.
"Tapi kami ada mengusulkan DAK (dana alokasi khusus) ke kementerian. Membenahi pasar-pasar milik pemko, contoh Pasar Kuripan," sebutnya.
Dia berharap, anggaran bantuan segera bisa dikucurkan. "Soal pembangunannya, kementerian yang memiliki standarnya harus seperti apa," tutupnya. (war/fud/ema)
Editor : miminradar-Radar Banjarmasin