Kasus kematian tenaga kesehatan (nakes) bukan statistik belaka. Lebih dari angka, mereka memiliki keluarga yang menunggu di rumah.
---
BANJARMASIN - Anggota surveilans COVID-19 di Puskesmas Cempaka Putih dilaporkan meninggal dunia. Menambah jumlah korban pandemi dari kalangan tenaga kesehatan yang berjibaku menghadapi pandemi.
Dari keterangan Kepala Dinas Kesehatan Banjarmasin, Machli Riyadi, perawat berjenis kelamin perempuan itu meninggal dunia pada usia 50 tahun.
Diagnosa sementara, suspek COVID-19. Karena mengidap gejala ISPA (infeksi saluran pernapasan akut) berat, tapi tes yang menyatakan positif belum keluar.
"Wafat 11 April tadi. Keluarga besar Dinkes berbela sungkawa sedalam-dalamnya," ujarnya (13/4)
Surveilans bertugas melacak kontak erat dari pasien terkonfirmasi positif. Begitu terlacak akan dites. Kalau positif langsung diisolasi.
Dalam pekerjaannya, surveilans memang rawan tertular virus durjana tersebut.
"Kami sudah kehilangan dua tenaga surveilans. Seorang lagi gugur pada tahun lalu," tambah Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Banjarmasin tersebut.
Agar pelacakan kasus tidak terganggu, Dinkes akan segera menutupi kekurangan tenaga surveilans.
Machli berjanji segera melapor kepada wali kota. Dia yakin, karena keadaan darurat, pasti ada solusi cepat.
"Kalau menunggu perekrutan tahun depan, bakal mengganggu pencarian kasus positif. Kekurangan SDM bisa menghambat upaya memutus penularan virus," jelasnya.
Agar korban dari kalangan nakes tak bertambah, ia meminta kepada yang bertugas untuk lebih berhati-hati dengan memperketat pemakaian alat pelindung diri (APD).
Ditanya soal vaksinasi, dia menegaskan, nakes merupakan prioritas pertama dalam program tersebut. "Sudah semuanya, bahkan vaksinasi nakes melebihi target, sampai 120 persen lebih," tutup Machli.
Stres dan Kelelahan
Penelitian menunjukkan, nakes menghadapi risiko tiga kali lebih besar untuk terinfeksi COVID-19.
Mengacu data SISDMK Kalsel per tanggal 8 Februari 2021, dari 32.618 nakes yang bertugas, ada 2.237 nakes yang tertular virus corona.
"90 persen merupakan nakes yang bekerja di rumah sakit dan puskesmas. Atau 2.005 nakes dari total 2.237 kasus," kata Dewi Anggraini, anggota pakar pandemi Universitas Lambung Mangkurat.
Dirincikannya, penyumbang kasus terbanyak dari kelompok umur 26-35 tahun dengan 44 persen.
Apa penyebab infeksi bahkan kematian nakes? Dia menyebut jam kerja yang panjang, beban kerja berlebih, dan pasien yang terus bertambah.
Obesitas, gangguan tidur, ketidakseimbangan kehidupan dan ancaman mutasi virus membuat keadaan yang melingkupi nakes semakin memburuk.
Lalu stres yang muncul dari dilema mental. Apakah nakes akan mendahulukan pekerjaan atau keselamatan keluarganya. Belum lagi bila nakes dihadapkan pada kepemimpinan yang lemah di tempatnya bekerja.
"Sistem ventilasi yang buruk pada fasilitas kesehatan juga bisa membantu penularan dari pasien kepada dokter dan perawat," tambahnya.
Dewi enggan menyebut faktor tunggal. Tapi kembali pada data di atas, 349 nakes yang terinfeksi COVID-19 memiliki komorbid.
Penyakit paling dominan adalah hipertensi, diabetes melitus dan jantung. "Adapula asma, gastritis, dan bronkitis," sebutnya.
Datanya Harus Dibuka
ANGGOTA Tim Pakar COVID-19 ULM, Dewi Anggraini menegaskan, harus ada upaya menekan risiko infeksi terhadap nakes. Baik dokter atau perawat yang bekerja di rumah sakit maupun puskesmas.
Upaya pencegahan bisa dimulai dari pencatatan riwayat kesehatan nakes secara rutin. Dari situ dibuat kategori, mana nakes yang menyandang risiko tinggi, sedang dan rendah.
Apalagi bila ada nakes yang sedang hamil atau menyusui. "Menjadi dasar pemantauan yang valid dan bisa diandalkan," ujarnya.
Lalu, rencana kerja. Seperti pasokan APBD standar tepat waktu, pemberian vitamin, hingga tes swab rutin sebagai deteksi dini.
Kemudian, mengevaluasi lingkungan kerja. Ventilasi untuk sirkulasi udara harus dibuat. Terakhir, vaksinasi.
Agar nakes mendapatkan rasa aman, standar keselamatan kerja itu dibubuhkan dalam SK resmi. "Nakes wajib mengerti SOP untuk mencegah penularan," tegasnya.
Kalau sudah terpapar, maka perlu jalur khusus perawatan nakes. Ada ruang karantina tersendiri.
Terakhir, data nakes yang positif atau meninggal dunia harus bisa diakses secara terbuka. Agar kebijakan yang tepat pun bisa diambil.
"Kita juga harus memberikan bantuan. Apakah itu dukungan spiritual atau material bagi nakes yang sedang berjuang sembuh," jelasnya.
Dalam wawancara ini, Dewi yang juga anggota Satgas Penanganan COVID-19 Kalsel sempat menyembut regulasi kebiasaan baru (new normal).
Ditekankannya, adaptasi kebiasaan baru bukan hanya untuk masyarakat, tapi juga untuk fasilitas layanan kesehatan. "Semua harus saling bekerja sama," tutupnya. (war/fud/ema)