Sebentar lagi Idul Fitri. Tanpa baju baru, THR atau mudik, kita masih bisa berlebaran. Caranya bukan dengan memasak opor ayam, tapi dengan memaafkan.
================================
Oleh: Syarafuddin
Editor Halaman Metropolis Radar Banjarmasin
================================
Pembaca tentu pernah mendengar ungkapan, memaafkan tapi tidak melupakan.
Forgive but not forget. Konon diucapkan Nelson Mandela. Pahlawan Afrika Selatan yang melawan politik apartheid.
Dengan segala hormat kepada Pak Mandela, saya harus membuang ungkapan keren tersebut. Karena Islam ternyata menganjurkan hal berbeda.
Saya baru memahaminya seusai membaca penjelasan bernas Prof Quraish Shihab atas kata maaf.
Saya akan coba meringkasnya. Secara bahasa, maaf adalah menghilangkan tanpa bekas.
Tanpa bekas, artinya ketika memaafkan, kesalahan yang dimaafkan dilupakan. Tak lagi diingat-ingat di kemudian hari. Apalagi diungkit-ungkit.
Berat? Oh, belum apa-apa, ini baru tingkatan pertama dalam ilmu memaafkan.
Mau naik kelas, yang memaafkan bersedia menangguhkan pembalasan yang setimpal.
Seterusnya, di tingkat tertinggi, bukan sekadar melupakan atau menahan diri untuk membalas, tapi berbuat baik kepada yang sudah menyakiti.
Secara rasional, kita akan bertanya apa untungnya. Ternyata, Al-Quran menjanjikan balasan, berupa lawan yang menjadi kawan.
Di tengah pergaulan yang semakin egois dan sinis, bukankah menambah teman itu menyenangkan?
Sebagian pembaca mungkin heran. Apakah kolom ini sudah berubah menjadi rubrik tanya jawab agama. Atau Ramadan menuntut penulis untuk sok religius.
Tidak juga. Saya hanya merasa, tausiah Prof Quraish seputar maaf itu sangat mengena dengan keadaan kita sekarang.
Pilkada di Banua, lebih-lebih Pilgub Kalsel, membuat masyarakat terbelah. Mendukung petahana atau mendukung penantang. Dalam sejarah Banua, inilah pemilu yang paling menguras emosi.
Pilihan politik kini tak lagi diutarakan secara sunyi di bilik suara. Tapi harus diteriakkan dengan nyaring di media sosial.
Saya ngeri melihat netizen mudah sekali terpancing oleh unggahan provokatif buzzer. Dan mereka cukup pintar, selalu menyentil sentimen agama yang sensitif.
Di kolom komentar, isinya bukan lagi debat politik secara sehat. Tapi sudah saling tuding dan saling hina.
Ini konyol. Buzzer untung karena dibayar. Sedangkan kita buntung karena harus menyisihkan sebagian gaji untuk membeli paket data internet.
Kita terkadang lupa, di balik akun-akun tersebut, sealay apapun nama dan foto profilnya, tetaplah manusia biasa. Yang bisa geregetan, tersinggung, bahkan mendendam.
Hanya karena Instagram atau Facebook adalah dunia maya, bukan berarti tak berdampak ke dunia nyata.
Ingat pula, tombol hapus di internet itu sebenarnya ilusi. Jejak digital itu benar-benar ada kalau mau ditelusuri.
Mumpung momennya sedang pas, memasuki Syawal, sesama pemilih mari saling memaafkan. Apapun pilihan politiknya.
Ketimbang perbedaan, masyarakat Kalsel sebenarnya lebih memiliki banyak kesamaan. Sama-sama ingin lolos dengan selamat dari pandemi ini. Semua juga ingin ekonomi kembali membaik.
Jadi, yang sudah terketik atau terunggah, dimaafkan saja. Tanpa bekas. (*)
Editor : miminradar-Radar Banjarmasin