Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

12-21 Persen Masih Ragu PTM, Orang Tua Khawatir Varian Delta

miminradar-Radar Banjarmasin • 2021-07-10 04:35:56
CEK SUHU: Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Banjarbatu, Undi Sukarya mengecek fungsi alat pengukur suhu tubuh yang ditempatkan di bagian pintu masuk sekolah. Mayoritas sekolah mengklaim sudah siap memberlakukan PTM terbatas. | Foto: Muhammad Rifani/Radar Banjar
CEK SUHU: Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Banjarbatu, Undi Sukarya mengecek fungsi alat pengukur suhu tubuh yang ditempatkan di bagian pintu masuk sekolah. Mayoritas sekolah mengklaim sudah siap memberlakukan PTM terbatas. | Foto: Muhammad Rifani/Radar Banjar

BANJARBARU - Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas tinggal menunggu waktu. Dinas Pendidikan Kota Banjarbaru mengambil ancang-ancang PTM dihelat per tanggal 12 Juli nanti.

Meski demikian, keputusan PTM belum mutlak bakal dihelat. Mengingat, lonjakan kasus positif Covid-19 mulai naik. Bahkan di level nasional khususnya di pulau Jawa kasus kian mengkhawatirkan.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Banjarbaru, M Aswan sendiri mengatakan jika PTM masih dalam proses pengambilan keputusan. Apakah tetap dilaksanakan atau harus ditunda lagi.

"Satgas Covid-19 baru selesia verifikasi sekolah-sekolah yang diusulkan untuk PTM. Setelah ini kita akan laporak ke wali kota, baru nanti diputuskan. Kita usahakan secepatnya sudah ada kepastian," kata Aswan.

Menurut Aswan, sekolah pada dasarnya sudah siap melaksanakan. Guru-guru katanya juga sudah divaksinasi. "Tapi memang kita juga harus melihat perkembangan tren kasus ini," ujarnya.

Terkait kesiapan di lapangan, dari pantauan Radar Banjarmasin memang sekolah-sekolah tampak sudah menyiapkan PTM terbatas ini. Perangkat-perangkat protokol kesehatan sudah ada di areal sekolah. Dari masuk gerbang hingga ruang kelas.

Kepala SMP Negeri 1 Banjarbaru, Undi Sukarya mengatakan bahwa pada prinsipnya dan teknisnya sekolah telah siap menggelar PTM terbatas. Bahkan katanya simulasi sudah beberapa kali digelar.

"Prosedur atau mekanisme protokol kesehatan sudah kita siapkan. Simulasi sudah sering. Guru-guru sudah semua divaksin, kecuali ada empat guru yang tidak bisa karena lagi hamil dan ada penyakit bawaan," kata Undi kemarin.

Meski demikian, Undi tak menampik jika menjelang rencana PTM ini tak serta merta mendapat izin dari sejumlah orang tua siswa. Dari datanya, hampir 15 persen orang tua masih mempertimbangkan buah hatinya ikut PTM.

"Kalau dari angket kesediaan orang tua atau wali murid terkait PTM yang sudah kita bagikan, sekitar 85 persen sudah tandatangan bersedia, sisanya masih belum mempertimbangkan," katanya.

Pertimbangan ini kata Undi dipicu besar oleh adanya tren kasus atau lonjakan Covid-19 di skala nasional. Sehingga sejumlah orang tua mengurungkan niatnya untuk mengizinkan anaknya bersekolah tatap muka.

"Karena melihat dan membaca berita soal lonjakan kasus, apalagi ada kekhawatiran terkait varian delta. Ya kita selaku pihak sekolah tak bisa mengintervensi atau memaksa, itu hak orang tua, yang jelas tugas kita adalah memastikan penerapan prokes ketat jika PTM nanti digelar," jawabnya.

Kebimbangan orang tua siswa juga terjadi di sekolah lainnya. Misalnya di SMPN 8 Banjarbaru, menurut kepala sekolah, Dewi Sakura bahwa ada sekitar 12-13 persen orang tua yang belum bersedia mengikuti PTM terbatas.

"Untuk data terakhir ada 88 persen yang setuju, sedangkan sisanya tidak ada respons, tidak tahu dan tidak bersedia. Alasannya karena takut, apalagi setelah melihat (lonjakan) kasus di pulau Jawa," katanya.

Sama halnya dengan sekolah lain, sekolahnya kata Dewi telah siap melaksanakan PTM terbatas. Baik dari sarana dan prasarana hingga guru-guru yang sudah disuntik divaksin.

"Kita sudah siap, kami juga telah dilakukan verifikasi lapangan oleh tim Satgas Covid-19 Banjarbaru. Sekarang tinggal menunggu arahan dari Disdik," jawabnya.

Beralih ke sekolah lain, di SMPN 4 Banjarbaru rupanya orang tua yang belum bersedia anaknya ikut PTM persentasenya cukup banyak. Yang mana menurut informasi sekolah ada sekitar 21 persen yang belum bersedia.

"Untuk yang bersedia ada sekitar 78,8 persen, kalau sisanya belum bersedia dengan beberapa pertimbangan. Misalnya khawatir penularan, lalu ada juga keluarga yang pernah jadi penyintas dan ada komorbid," kata Wakasek Kesiswaan SMPN 4 Banjarbaru, Jarot Santosa.

Lanjut Jarot, sekarang pihak sekolah terus mempersiapkan menyambut PTM. Mulai dari sarana dan prasarana hingga mengatur jadwal masuk murid. "Guru-guru juga hampir semua divaksin, yang tidak divaksin karena memang ada penyakit bawaan," katanya.

Memang sebelumnya menurut Kepala Disdik Banjarbaru, M Aswan bahwa PTM terbatas tetap harus mendapat persetujuan dari orang tua siswa sebagai persyaratan.

"Jika ada yang tidak bersedia maka pihak sekolah harus menyediakan metode pembelajaran blended learning, bisa lewat lewat zoom meeting dan video pembelajaran," tuntasnya. (rvn/bin/ema)

Editor : miminradar-Radar Banjarmasin
#Banua Pendidikan