Kisah Masjid Sabilal Muhtadin Berdiri di Atas Benteng dan Barak Belanda
izak-Indra Zakaria• Kamis, 21 Juli 2022 - 19:18 WIB
Asrama Fort van Tatas
SEJENAK, lupakan dulu tentang hoaks dan laporan pengurus Masjid Raya Sabilal Muhtadin ke polisi. Mari belajar sejarah. Masjid kebanggaan masyarakat Kalimantan Selatan ini berdiri di atas Fort Van Tatas, benteng dan barak Belanda. Dinamai begitu, karena benteng ini berdiri di atas sebuah delta kecil bernama Pulau Tatas. Dikelilingi kanal, berada di persimpangan yang strategis.
Ke arah barat, ada wilayah Kesultanan Banjar, Kampung Kuin. Ke arah timur, menuju Martapura dan Hulu Sungai. “Kedatangan VOC ke Banjarmasin pada tahun 1606 menjadi titik awal pembangunan Benteng Tatas,” kata Mansyur, dosen sejarah FKIP Universitas Lambung Mangkurat.
Bukan hanya strategis dari segi pertahanan, tapi juga dari sisi ekonomi. Armada dagang Eropa (Belanda, Portugis, Inggris), Tiongkok, Melayu, Bugis dan Jawa kerap melabuhkan jangkarnya di bandar Tatas.
Banjarmasin dengan komoditas utamanya lada, membuat bangsa-bangsa luar amat bernafsu untuk memonopoli perdagangan ini.
Sebenarnya, pada awal kedatangan kompeni, Pulau Tatas sama sekali tak dilirik. VOC justru lebih memilih Sungai Barito, tak jauh dari muara Sungai Kuin, berdekatan dengan keraton.
“Begitu pula pada kedatangan yang kedua di tahun 1612, armada VOC belum melihat Tatas,” tambah Mansyur (19/7). Atas perjanjian antara Sultan Banjermassin dan Johan Andreas Para Vinci pada Oktober 1756, kepemilikan wilayah ini beralih ke tangan Inggris. Disebutkan, untuk melindungi kepentingannya, penguasa Tanah Banjar mengizinkan pembangunan benteng batu di Sungai Tatas.
Kubu pertahanan ini berbentuk pentagon. Diperkuat selekoh (bastion), dua di sisi sungai dan dua di sisi daratan. Beranjak ke tahun 1786-1787, Sultan Banjar menyerahkan kedaulatan kepada VOC. “Setelah itu VOC mendirikan pusat pemerintahan di daratan yang menyerupai delta yang disebut Tatas ini,” urainya.
Setelah Indonesia merdeka, bekas benteng ini disebut masyarakat sebagai Asrama Tatas. Lahan kosong itu rupanya menarik perhatian pemuka agama dan pejabat pemda.
Atas saran Pangdam X Lambung Mangkurat Amir Machmud dan Gubernur Kalsel Aberani Sulaiman, dicetuskan rencana pembangunan masjid di atas tanah seluas 100 ribu meter persegi tersebut.
Proyek dimulai 10 November 1974. Rampung pada Oktober 1979. Hingga diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 9 Februari 1981.
Nama Sabilal Muhtadin diambil dari judul kitab Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari alias Datu Kelampayan. Kitab fikih ini bukan hanya dibaca masyarakat Kalimantan, tapi juga menjadi rujukan muslim Asia Tenggara. (mof/gr/fud)